Pohon Natal Pertama

“Aku juga mau pohon Natal,” pinta anakku beberapa hari yang lalu. Rupanya, ia tidak puas hanya mendengar lagu-lagu Natal.

Setelah tertunda terus, akhirnya, kemarin malam, aku dan suami sepakat untuk memenuhi keinginan anak kami. Kardus berisi pohon Natal diturunkan dari atas lemari.

Masalah terjadi, ketika aku mencari lampu Natal dan aksesori Natal lainnya yang selama 9 tahun hanya jadi penghuni lemari barang di gudang. Kami memang tidak merasa pohon Natal adalah suatu keharusan. Rupanya, karena aku lalai mengangin-angini lemari, kawanan rayap telah menguasai lemari barang kami di gudang. Kotak-kotak pembungkus barang hancur digerogoti rayap. Dan kotak lampu Natal kami nyaris mengalami hal yang serupa jika saja kemarin malam aku tidak mengeluarkannya dari lemari. Perlu tenaga ekstra dan waktu lama untuk membereskan hasil ulah para rayap. Syukurlah, setelah dibersihkan, semua perlengkapan Natal itu ternyata masih bisa digunakan.

Kegiatan memasang pohon Natal pun dimulai. Aku dan gadis kecilku yang jadi tim kreatif, sedangkan suami jadi pengamat dan juru potret.

“Mami, enggak muat,” anakku melaporkan masalahnya. Rupanya, lubang di tangkai bola-bola Natal lebih kecil dari ukuran ujung-ujung dahan pohon Natal, tempat hiasan-hiasan itu akan digantung.

Aku menunjukkan kepadanya cara menggantungkan. Tak lama kemudian, ia kembali asyik melanjutkan aktivitasnya.


Namanya juga anak-anak. Anakku menghias pohon Natal tanpa pertimbangan, harus begini atau begitu, layaknya orang dewasa. Alhasil, ada sisi yang penuh hiasan, ada sisi yang kosong. :)

"Ayo, gantung di sebelah sini bola-bola yang masih tersisa," ajakku.

Meski ukuran pohon Natal kami sedang-sedang saja, ketika tiba giliran untaian bulu (Gak tahu nama sebenarnya apa … hehehe) dan lampu Natal disampirkan ke pohon Natal, anakku sudah mulai bosan dan lelah. Soalnya, kami terlambat memulai kegiatan itu dan menghias pohon Natal tidak bisa sambil duduk. Harus berdiri. Akhirnya, aku bekerja sendirian.

Namun, setelah pohon Natal jadi dan musik Natal terdengar mengiringi kelap-kelip lampu pohon, anakku kembali semangat. Ia berjoget-joget di depan pohon Natal sambil tertawa-tawa melihat pantulan wajahnya di salah satu bola Natal.


Dan malam itu, kami bertiga tidur larut setelah puas mendengarkan musik Natal dan memandangi lampu berwarna-warni yang berkelap-kelip di pohon Natal pertama kami.


Review Film "Minah Tetap Dipancung"



Tahun lalu, saya berkenalan dengan yang namanya puisi esai. Perkenalan itu diawali dengan keikutsertaan saya dalam lomba review film yang dibuat berdasarkan puisi esai "Atas Nama Cinta" karya Denny JA.
Meski tidak berhasil memenangi lomba tersebut, saya merasa senang karena pengetahuan saya bertambah.
Saya memilih topik permasalahan TKI wanita di luar negeri karena saya peduli terhadap nasib perempuan.

Potret Kelam TKI, Pejuang Devisa dalam Film "Minah Tetap Dipancung"

 Minah Tetap Dipancung. Membaca judul film pendek karya Denny JA dan Hanung Bramantyo tersebut, saya menaruh simpati terhadap Minah karena di zaman modern begini, ia masih terkena hukuman pancung, yang menurut saya tidak manusiawi. Hanya sebatas itu.
Namun, perasaan saya berubah ketika menonton film tersebut. Saya terenyuh. Rasa simpati saya berubah menjadi empati. Saya menangis menyaksikan nasib Minah dan keluarganya. Bahkan, ketika saya menonton Minah Tetap Dipancung untuk kali kedua, saya kembali menangis.
Minah Tetap Dipancung berkisah tentang kehidupan Aminah (Minah). Meski ceritanya fiktif—ditulis demikian di akhir film—tetapi sesungguhnya merupakan gambaran dari kehidupan nyata banyak perempuan Indonesia yang terhimpit tuntutan ekonomi. Biaya kebutuhan hidup tinggi, tetapi penghasilan tidak mencukupi. Ingin mendapat pekerjaan yang mendatangkan penghasilan lebih besar, tetapi pendidikan dan keterampilan tidak memadai. Tak punya pilihan, maka mereka menjadi TKI. Tepatnya, jadi TKI informal atau Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT)—meminjam istilah keren BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)—atau Pembantu/Asisten Rumah Tangga (PRT/ART) yang bekerja di luar negeri.
Para perempuan yang hanya mengandalkan penghasilan pas-pasan suami pun mengalami tekanan yang sama. Minah salah satunya. Ia tinggal di sebuah desa di Cirebon bersama suami dan anak perempuannya, Aisyah. Minah adalah ibu rumah tangga, sedangkan suaminya, asumsi saya, bekerja sebagai buruh tani. Aisyah sangat ingin bersekolah, tetapi tidak bisa sekolah karena orang tuanya tidak punya cukup uang.
Dengan niat mulia, ingin menyekolahkan Aisyah, Minah membuka kembali selembar kertas yang ia simpan. Kertas berisi informasi penting dan menggiurkan: INGIN BERPENGHASILAN LEBIH? SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA UNTUK MENJADI TKW KELUAR NEGERI.
Maka, berbekal izin dari suaminya dan uang pinjaman dari ayahnya hasil menggadaikan sawah, Minah mendaftarkan diri menjadi  TKW.
Proses pendaftaran di Penyalur Tenaga Kerja Keluar Negeri yang Minah datangi mudah. Setelah membayar uang pendaftaran, dokumen pun disiapkan. Ia tinggal menandatangani. Minah optimistis akan dapat meraih impiannya. Apalagi petugas penyalur tenaga kerja berkata, “… Nanti, kalau situ sudah kerja, gajinya besar.”  
Persiapan yang harus ia lalui pun tergolong singkat. Belajar melafalkan dan menghapal kosa kata bahasa Arab serta berlatih mengerjakan tugas rumah tangga. Persis seperti ucapan sang petugas di hari pendaftaran, “Setelah seminggu pelatihan, langsung berangkat.”
Adegan-adegan tersebut menggambarkan realita kinerja PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) yang asal-asalan menyiapkan para calon TKI untuk bekerja di luar negeri. Penyebabnya tidak lain karena BNP2TKI tidak melaksanakan tanggung jawabnya mengawasi mereka. BNP2TKI juga tidak menetapkan standardisasi mengenai materi yang harus diajarkan, jangka waktu pendidikan, dan tak kalah pentingnya, kompetensi tenaga pengajar para calon TKI.
Tidak hanya itu. Banyak TKI berangkat ke luar negeri tanpa kontrak kerja yang jelas. Kontrak yang mengatur hak serta kewajiban TKI dan majikan menyangkut hari dan jam kerja, jumlah dan jadwal pembayaran upah, serta sanksi jika salah satu pihak melanggar kesepakatan.
Yang menjadi korban, tentu saja para TKI ketika sudah berada di rumah majikan. Ada yang disiksa majikan karena majikan tidak puas terhadap kinerja TKI yang ia pekerjakan. Ada juga majikan yang jadi uring-uringan lantaran TKI tidak juga mengerti maksud majikan akibat TKI tidak menguasai bahasa. Belum lagi masalah akibat ketidakpahaman mengenai perbedaan budaya.
Minah mengalami masalah-masalah itu. Di Arab, Minah bekerja dengan rajin. Namun, kehidupan normal tidak ia raih. Sehari-hari ia hanya tinggal di dalam rumah. Tidak ada interaksi dan komunikasi dengan dunia luar, bahkan dengan keluarganya. Gaji yang ia harap-harapkan, pun tak kunjung ia terima. Ia tidak tahu kepada siapa ia harus mengadu. PJTKI tempat ia melamar pun tidak bisa memberi jawaban kepada suami dan ayahnya ketika mereka datang menanyakan keadaannya setelah 9 bulan tidak menerima kabar darinya.
Orang Indonesia terkenal ramah. Minah juga. Ia suka tersenyum. Namun, ia tidak pernah diberi tahu bahwa di Arab, senyuman seorang wanita dapat disalahartikan oleh pria Arab sebagai godaan. Betul saja, majikan pria Minah mengira Minah menggodanya. Sang majikan pria mulai berusaha mendekati Minah. Suatu hari, ia memerkosa Minah. Dan kemudian, kekerasan seksual yang dialami Minah berlangsung berkali-kali.
Penderitaan Minah belum berakhir. Ketika ia mengadukan kejahatan majikan pria kepada majikan perempuan, ia malah mengalami siksaan fisik dan mental. Dipukuli, dijambak, tidak diberi makan, dan dituduh menggoda.
Suatu hari, karena ingin membela diri saat hendak diperkosa lagi, Minah menusuk sang majikan pria hingga tewas. Kemudian, Minah dijebloskan ke dalam penjara akibat perbuatannya.
Meski mengalami kekerasan seksual berulang kali, meski membunuh untuk membela diri, meski didampingi kuasa hukum dari negeri sendiri,  Minah tidak mampu membebaskan diri dari hukum Arab ‘nyawa ganti nyawa’. Minah tetap dipancung.
Ketika hendak dipancung, Minah menangis sambil membayangkan Aisyah berlari di pinggir sawah dengan seragam putih merahnya. Impian dapat menyekolah anak tak diraih, nyawa malah melayang sia-sia. Sungguh menyedihkan. Tragis.
Film Minah Tetap Dipancung menampilkan potret kelam TKI, khususnya TKI informal. TKI mendapat predikat mulia pejuang devisa, tetapi pada praktiknya didiskriminasi oleh negara. TKI tidak mendapat perlakuan yang sama seperti WNI lainnya. Negara tidak mampu memberikan perlindungan hukum terhadap TKI, yang seharusnya sudah dimulai sejak perekrutan.  
Selama belum ada Undang-Undang Perlindungan TKI, selama BNP2TKI tidak melakukan pengawasan serius dan terpadu terhadap kinerja PJTKI, selama Kemenlu, KBRI, dan KJRI belum optimal melaksanakan fungsi dan perannya, selama belum ada perjanjian bilateral dengan pemerintah negara-negara tujuan penempatan TKI yang menjamin hak-hak TKI, Minah-Minah lainnya masih akan terus bermunculan. 
Film Minah Tetap Dipancung yang dibuat berdasarkan puisi esai Denny JA Atas Nama Cinta, didukung oleh Indra Kobutz (sutradara), Novia Faizal (penulis naskah), Vitta Mariana (pemeran Aminah), Saleh Ali (pemeran majikan pria), Farah Hatim (pemeran majikan perempuan), Aryadila Yarosiry (pemeran suami Aminah), Syifa (Aisyah), dan Peggi Melati Sukma (penyair).

Memasak dengan Anak Itu Menyenangkan dan Bermanfaat!



Memasak di malam hari setelah pulang kerja, tidaklah mudah bagi saya. Tubuh lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan kantor dan menghadapi kemacetan lalu lintas yang luar biasa dalam perjalanan pulang. Ditambah harus memenuhi permintaan anak untuk bermain bersama setelah terpisah selama tiga belas jam.
Alasan terakhir seringkali membuat saya memindahkan jadwal kegiatan memasak ke pagi hari, keesokan harinya. Namun, aktivitas di pagi hari itu sudah pasti akan membuat saya sport jantung karena harus berpacu dengan waktu. Sudah tahu, kan, di ibukota negara RI, terlambat berangkat kerja 5 menit saja akan menimbulkan rentetan masalah. Jalanan lebih macet. Harus menunggu Transjakarta lebih lama—meski sudah ada sterilisasi jalur Transjakarta, masih banyak lho pengendara pribadi yang nekat masuk jalur khusus tersebut. Waktu tempuh lebih lama. Ujung-ujungnya, tiba di kantor, wajah sudah kusut, rambut semrawut, baju lusuh, dan tubuh berpeluh.
Kemarin pagi, saya bertekad untuk masak di malam hari agar esok paginya bisa nyantai. Menu masakan: kwetiau goreng. Maka, pulang kerja, saya duduk-duduk sebentar sambil ngobrol dengan anak saya yang masih kelas TK B tentang kegiatannya di sekolah sambil menunggu suami mengerjakan tugasnya: mengupas bawang putih dan bawang merah, mencuci sosis dan sawi serta merebus air.
“Mami masak dulu, ya,” kata saya setelah mandi dan suami menyelesaikan tugasnya.
Enggak boleh. Besok saja,” cegah anak saya.
“Harus sekarang, Sayang.”
Ia mulai merengek.
“Kamu ikutan masak aja, yuk!” saya memberinya pilihan sambil berjalan menuju dapur.
Ia mengekor.
“Aku potong-potong, ya?” ia menawarkan diri saat melihat bawang putih dan bawang merah.
“Nanti mata kamu kepedasan.” Sebagai gantinya, saya mengajaknya memasukkan kwetiau kering ke dalam air yang telah mendidih. “Hati-hati, airnya panas, lho,” saya mengingatkan.
Setelah kwetiau lunak dan ditiriskan, saya membagi tugas kepada anak saya, “Kamu tuangkan kecap ke kwetiau. Yang rata, ya.”
Sementara saya mengiris bahan-bahan pelengkap kwetiau, anak saya sibuk menuang kecap dan mengaduk-aduk kwetiau. Tentu saja, ayahnya turut membantu karena kwetiau yang dimasak cukup banyak.
Setelah itu, saya memintanya mengambil telur dari dalam lemari es dan mengocok telur dengan garpu.
“Aku ambil kursi dulu, ya. Aku pengen ngeliat,” kata anak saya. Kemudian, ia menyeret sebuah kursi plastik ke depan kompor.
Setelah minyak di dalam wajan panas, saya menuang racikan pelengkap kwetiau ke dalam wajan.
“Aku saja yang kocok,” protes anak saya saat saya mengocok lagi telur sebelum telur dituang. Ia baru tenang ketika diberi kesempatan mengocok lagi.
Setelah itu, bahan-bahan pelengkap dituang bergiliran dan saya meminta anak saya mengaduk-aduk kwetiau. 


“Kalau ngaduk, sendok kayunya menghadap ke bawah, bukan ke atas supaya telur dan sosinya tidak terlempar ke luar wajan,” saran saya. Sesekali saya turun tangan untuk membantu. Misalnya, ketika kwetiau rebus yang bergumpal masuk ke dalam wajan dan membubuhi masakan dengan garam.
“Hati-hati, jangan terlalu banyak. Nanti pedas, lho,” saya mengingatkan saat ia membubuhkan lada putih ke atas masakan.
Kemudian, saya memintanya untuk mencicipi masakan kami. Dengan antusias, ia mengambil kwetiau dengan garpu. Saking antusias, ia tidak sabar saat harus menghembus-hembus kwetiaunya terlebih dulu agar cepat dingin.  


Akhirnya, kwetiau goreng buatan kami jadi.
“Aku jadi lapar,” celetuk anak saya. Padahal, ia telah makan malam.
Saya memberinya sepiring kecil kwetiau.
“Hm, enak, ya,” ia berkomentar dengan bangga di sela-sela makannya. 
Sejak anak saya kelas TK Besar, saya sering mengajaknya memasak untuk mengisi waktu luang kami. Zuppa soup, kue kering, cupcake, kwetiau goreng, serta bihun goreng adalah beberapa masakan yang telah kami coba masak bersama-sama. 


Selain membuat hubungan kami lebih akrab, kami juga jadi belajar berkomunikasi yang baik saat memasak bersama. Misalnya, ketika anak saya bersikeras ingin mengolah masakan dengan caranya sendiri, saya harus tahu cara merespons dengan cara yang mudah ia mengerti untuk menyelamatkan masakan kami.
Menurut ahli pendidikan, anak juga dapat belajar banyak hal dari kegiatan memasak.  Mengenal jenis-jenis bahan makanan, mengukur takaran, mengenal macam-macam bentuk dan rasa, serta melatih kesabaran saat memotong, mencetak, dan menunggu masakan jadi. Dan yang tak kalah penting, anak jadi belajar untuk berusaha sebelum memetik hasil serta bangga terhadap dirinya sendiri karena mampu berkreasi.

Kondom Bukan Satu-satunya Jalan Keluar

Hari AIDS Sedunia jatuh pada tanggal 1 Desember. Tahun ini, Indonesia melalui Kementerian Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional memperingatinya dengan mengadakan Gerakan Kondom Nasional. Gerakan ini menimbulkan kontroversi dan menuai kritik tajam dari masyarakat luas karena kondom identik dengan hubungan seksual yang aman, entah untuk mengantisipasi kehamilan atau penyakit. 

Pertanyaannya, siapa saja yang boleh melakukan hubungan seksual dan memakai kondom? Saya pribadi berpendapat, hubungan seksual hanya boleh dilakukan pasangan suami istri (pasutri). Pasutri sah-sah saja menggunakan kondom sebagai salah satu alternatif pencegah kehamilan atas dasar berbagai pertimbangan dan kesepakatan bersama. 

Namun, zaman sudah berubah. Kita tidak bisa menampik kenyataan bahwa ada kemerosotan nilai mengenai seks di tengah masyarakat Indonesia. Seks tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sesuatu yang hanya boleh dilakukan ketika laki-laki dan perempuan telah resmi menjadi pasangan suami istri. Kini, banyak pelajar atau mahasiswa yang telah melakukan hubungan intim. Banyak lajangers muda sudah melakukan hubungan seksual. Bahkan, banyak suami/istri tidak setia dengan pasangannya. Banyak anggota masyarakat sudah menjadi penganut seks bebas dengan pelacur kelas bawah/menengah/tinggi, pacar gelap atau bahkan bertukar pasangan (swinger). Maka, kondom menjadi alat pengaman untuk hubungan seksual tersebut; untuk mengurangi risiko meluasnya virus HIV (human immunodeficiency virus) dan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) karena seks bebas adalah salah satu penyebab penyebaran virus HIV dan penyakit AIDS.

Saya berpendapat, kondom boleh-boleh saja dibagikan dengan memperhatikan target penerima dan tempat pembagiannya. Namun, yang jauh lebih penting dan perlu dilakukan adalah pemberian pendidikan seks sesuai usia (untuk anak-anak, lihat di sini) agar laju pertambahan penganut seks bebas dan seks pranikah dapat berkurang.

Heboh Balik Perawan


Perawan. Kata itu sungguh dahsyat. Sebuah kata yang dalam tatanan sosial masyarakat, melambangkan status “kehormatan” perempuan, sekaligus menjadi momok bagi banyak perempuan yang mengidam-idamkan pernikahan. Kata yang menjadi salah satu kriteria tidak tertulis, yang ditetapkan oleh banyak laki-laki terhadap calon istri.

Ketika ada isu tes keperawanan terhadap siswi sekolah, dokter ahli Andrologi dan Seksologi, Wimpie Pangkahila, mengatakan bahwa definisi ‘perawan’ perlu disepakati dulu. Apakah dinilai dari pernah/belum pernah melakukan hubungan seksual atau selaput dara sudah robek/belum? Menurut Dokter Pangkahila, pembedaan itu perlu karena hubungan seksual yang berdasarkan kemauan sendiri (seks bebas/seks pranikah), menyangkut perilaku sedangkan selaput dara robek juga bisa disebabkan faktor di luar seks bebas, seperti masturbasi, terjatuh karena olah raga atau korban pemerkosaan.

Menurut berita, banyak remaja putri Surabaya diberitakan menjalani operasi balik perawan (vaginoplasty) berbiaya 30 juta. Alamak! Kebanyakan dari mereka beralasan, keperawanan mereka telah direnggut oleh mantan pacar. Mereka mengkhawatirkan nasib pernikahan mereka kelak. Padahal di kalangan spesialis ginekologi rekonstruksi, vaginoplasty dilaksanakan berdasarkan alasan medis. Pertama, untuk menghilangkan keluhan, kelainan, mengembalikan fungsi dan yang terakhir, aspek kosmetik.

Jika keperawanan dalam pernikahan itu sangat penting, mengapa banyak remaja putri melakukan seks bebas atau seks pranikah? Selain bertentangan dengan aturan agama, dari sisi mana pun, pihak perempuan tidak akan pernah diuntungkan jika melakukan seks bebas atau seks pranikah karena pada faktanya, banyak perempuan ditinggalkan kekasihnya setelah hubungan seksual pranikah terjadi. Kenikmatan sesaat membawa azab sengsara yang berkepanjangan.

Fenomena operasi balik perawan muncul, menurut saya juga disebabkan karena tatanan masyarakat kita masih didominasi pengaruh laki-laki dan sempitnya pola pikir. Banyak laki-laki yang menilai keperawanan dari noda darah di seprai saat malam pertama. Akibatnya, banyak perempuan menikah yang ketakutan menghadapi malam pertamanya. Mereka yang sudah pernah melakukan hubungan seksual pranikah, takut ketahuan tidak perawan lagi. Mereka yang belum pernah melakukan hubungan seksual pun memiliki kekhawatiran dianggap tidak perawan lagi. Padahal, elastisitas selaput dara berbeda-beda. Ada yang mudah robek, ada yang elastis.

Jika laki-laki menuntut calon istrinya perawan (belum melakukan hubungan seks pranikah), apakah laki-laki juga bersedia menjamin bahwa dirinya masih perjaka? Karena keperjakaan tidak bisa diukur dengan tes apa pun, kecuali pengakuan sang laki-laki. Dalam hal ini diperlukan komunikasi yang terbuka di antara sepasang kekasih sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Laki-laki dan perempuan harus sama-sama jujur kepada pasangan dan diri sendiri, apakah sanggup memiliki cinta dan kerendahan hati seluas samudra untuk menerima pasangan yang tidak perawan/perjaka lagi.

Jadi, hai Ladies and Girls, hadapi masa lalumu dengan tegar! Daripada menghabiskan uang 30 juta untuk alasan-alasan nonmedis seperti menciptakan kebohongan atau menyenangkan hati laki-laki yang tidak bisa menerima diri perempuan apa adanya, mending uang itu kamu pakai untuk mengikuti kursus-kursus keterampilan atau berwisata ke tempat-tempat cihui di Indonesia atau luar  negeri. Jauh lebih seru dan keren!

Beri Anak Pendidikan Seks

 
Sumber: www.dreamstime.com

Alkisah, sejumlah ibu heboh berdiskusi di chat forum.

A: Gila, Indonesia bikin Gerakan Kondom Nasional! 

B: Hah? Dalam rangka apa? 

A: Memperingati Hari AIDS Sedunia! 

B: Siapa yang bikin? 

C: Gw baca di berita, Kementerian Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS nasional.

D: Duh, kondom kok dibagi-bagi gratis. Di sekolah dan kampus lagi. Ini enggak sesuai  
    dengan budaya kita. Budaya asing kok dibawa-bawa.

E: Mungkin karena sekarang sudah banyak anak sekolah yang melakukan hubungan seksual. Lihat aja, banyak video mesum yang beredar. Lha wong orang dewasa aja ganti-ganti pasangan. Lokalisasi berjamur. Suami-suami punya pacar gelap. Belum lagi ada tren swinger

A: Ya, jangan dikasih alatnya, dong. Kasih pendidikan seks. 

E: Terus, gimana dong ngajarin anak-anak supaya tidak melakukan seks pranikah?

F: Banyak-banyak berdoa. Semoga anak kita dijauhkan dari semua hal itu.


E gundah gulana. Teringat olehnya seorang kenalannya, seorang psikolog yang juga aktif terlibat dalam dunia pendidikan. Buru-buru ia mengetikkan pesan kepada sang kenalan.

E: Gimana cara memberikan pendidikan seks kepada anak yang masih kecil? Kalau aku selama ini bilang, laki-laki punya penis dan payudara. Perempuan punya vagina dan payudara. Alat kelamin dan payudara tidak boleh dipegang orang lain.

X: Kasih tahu juga, Mama tidak akan selalu menyentuh, kecuali kalau ada yang perlu diperiksa. Dokter juga baru boleh pegang, kalau ada yang perlu diperiksa. Ajari juga berpakaian dan duduk yang sopan, dan membersihkan sendiri alat kelamin dan payudaranya. Itu dulu.

E: Kalau ngajarin anak SMP dan SMA bagaimana?

X: Ajari bergaul dan berpacaran yang sehat. 

E: Memangnya kalau kita kasih tahu risiko seks pranikah seperti hamil di luar nikah, pernikahan dini dan penyakit kelamin gak cukup?

X: Gak cukup karena mereka merasa kebal. Anak musti dipertemukan langsung dengan   
     yang nyata. Gak cuma disuruh membayang-bayangkan. Kasih foto dan video akibat 
     seks bebas dan seks pranikah. Kalau bisa, pertemukan dengan korbannya. Supaya ada 
      efek syok.


E:  Bagaimana menasihati anak laki-laki?

X: Suruh berhitung matematika hati … kalau dia disuruh bertanggung jawab atas hidup sang perempuan dengan uangnya sendiri. 

E: Itu kan kalau intercourse. Kalau yang cowok minta “pegang-pegang saja” bagaimana?

X: Ajari remaja putri untuk menghargai tubuh dan masa depan mereka sendiri agar mereka menolak permintaan itu. Beri tahu kalau fluktuasi emosi dan hasrat seksual lelaki dan perempuan memang beda.

E: Wah, pasti banyak remaja yang belum tau itu.

X: Fokus lelaki memang di mata. Gairah seks akan terus meningkat dan baru berhenti jika terpuaskan. Kalau perempuan, bisa stop kapan aja karena sangat dipengaruhi mood dan afeksi yang kuat. Makanya, mending jangan dirangsang. 

Zaman memang sudah berubah. Masyarakat kita sudah mengalami pergeseran (kemerosotan) nilai. Seks tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sesuatu yang hanya boleh dilakukan ketika laki-laki dan perempuan telah resmi menjadi pasangan suami istri. Kini, banyak lajangers sudah melakukan hubungan seksual. Bahkan, banyak suami/istri tidak setia dengan pasangannya. Mereka melakukan hubungan seksual dengan orang lain: pelacur kelas bawah/menengah/tinggi, pacar gelap atau bahkan bertukar pasangan (swinger). Seks bebas dan seks pranikah mewabah. Seks bebas menjadi salah satu penyebab orang bisa tertular HIV, virus penyebab AIDS. Inilah yang menurut saya, menjadi alasan mengapa Kementerian Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional mengadakan Gerakan Kondom Nasional. Namun, membagikan kondom secara gratis, apalagi di sekolah dan kampus, tidak akan menghentikan aksi seks bebas dan seks pranikah. Saran-saran psikolog di atas bisa menambah wawasan kita agar bisa memberikan pendidikan seks kepada anak-anak kita sehingga mereka dapat menjauhkan diri dari perilaku seks bebas dan seks pranikah.

Resensi Novel - Berderap Mantap Meraih Impian dalam Novel "!2 Menit"





Sudah pernah lihat pertunjukan marching band? Kalau belum, coba deh. Pasti kamu akan terpukau dibuatnya. Dulu, saya hanya lihat marching band di televisi saat siaran upacara peringatan HUT RI di istana negara. Kasihan banget, ya … hihihi … Namun, minggu lalu, saya sangat beruntung! Saya bisa menyaksikan dari dekat pertunjukan marching band di sebuah acara open house sekolah dasar.
Personil marching band yang diturunkan waktu itu hanya sedikit, sekitar 20 orang. Mereka masih kelas 3 dan 4 SD. Jadi, mereka masih sangat muda.
Di bawah komando seorang komandan sebaya, mereka membunyikan beragam jenis alat musik perkusi dan tiup, dreng, dreng, dreng, dung, dung …. Ting, ting, ting, ting …. Tet, tet, tet, tret …. Beberapa orang menari sambil menggerak-gerakkan bendera berwarna-warni, mengikuti irama musik tersebut.
Pertunjukan yang mereka suguhkan mampu membuat semua penonton tak berkedip dan menahan napas. Bagaimana tidak, sambil bermain musik, mereka harus baris-berbaris. Itu pun harus dilakukan bersama-sama. Tidak ada yang boleh menonjolkan diri sendiri karena marching band adalah kegiatan kelompok. Jadi, mereka kudu konsentrasi. Tentu saja kedisiplinan yang tinggi dan latihan yang keras juga dibutuhkan agar penampilan mereka apik dan kompak.
Nah, kedisiplinan yang tinggi serta latihan yang keras mencapai impian inilah yang menjadi tema besar cerita novel “Dua Belas Menit” karangan Oka Aurora.

A-Z tentang Marching Band

Saya acungkan jempol bagi Oka Aurora dan penerbit Noura Books yang telah ‘melahirkan’ novel “Dua Belas Menit”. Saya belum pernah membaca cerita tentang marching band sebelum memiliki novel tersebut. Makanya, setelah membaca novel “Dua Belas Menit”, wawasan saya tentang dunia marching band jadi bertambah. Saya jadi tahu nama-nama unit yang terdapat dalam marching band, nama jenis alat musik yang digunakan, nama teknik memukul perkusi, serta nama gerakan yang harus dikuasai oleh field commander, pemimpin marching band saat tampil di lapangan.
Hampir semua istilah tersebut disajikan dalam bahasa Inggris. Bisa jadi karena belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia dan sudah dianggap mendunia. Namun, pembaca tidak perlu khawatir karena istilah-istilah tersebut dirangkum dalam glosarium di bagian belakang buku.
Saya juga jadi tahu kalau menjadi anggota marching band ternyata tidak mudah, lho. Bakat bermusik bukanlah satu-satunya modal yang harus dimiliki seseorang yang ingin menjadi anggota marching band. Ia juga harus punya kemauan kuat untuk mengikuti latihan yang keras: latihan dasar-dasar bermusik dan baris-berbaris.
Para anggota harus tahan dan tabah berdiri berjam-jam di bawah terik sinar matahari sebanyak tiga kali seminggu. Belum lagi jika alat musik yang dimainkan memiliki berat minimal 1 kg dan harus disandang. Dijamin, pundak jadi terasa pegal-pegal. Atau bibir jadi perih dan rahang kaku serta nyeri karena meniup alat musik berulang kali.
Selain itu, keanggotaan di marching band juga berjenjang. Anggota baru ditempatkan terlebih dulu di cadet band dan mengikuti latihan yang sama. Setelah lolos audisi, ia baru boleh menjadi anggota inti.

Menghadapi Tantangan untuk Meraih Impian

Selain mengangkat kehidupan marching band, novel “Dua Belas Menit” memiliki misi mulia, yaitu memberi inspirasi dan motivasi kepada pembaca agar terus berjuang meraih impian meskipun aral melintang.
Dikisahkan, Bontang, sebuah kota kecil di pesisir timur Kalimantan Timur, yang jauh dari hiruk-pikuk ibukota negara Indonesia, memiliki sebuah marching band bernama Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.
Tara, Elaine dan Lahang, tiga orang anggota serta Rene, sang pelatih marching band tersebut menjadi tokoh utama cerita. Mereka sama-sama punya impian. Namun, impian mereka tidak mudah diraih. Mereka harus berjuang menghadapi rintangan yang menghadang.
Tara sudah suka drum sejak kecil. Di Bontang, ia ingin menjadi anggota inti marching band, menjadi pemain snare drum. Namun, ia harus bekerja berpuluh kali lipat lebih keras dari teman-temannya. Kecelakaan lalu-lintas yang ia alami merenggut 80% kemampuan pendengarannya sehingga ia harus memakai alat bantu dengar. Kecelakaan itu juga merenggut nyawa ayahnya. Tara jadi suka menyalahkan dirinya; ia penyebab kecelakaan itu terjadi. Ia juga hidup terpisah dari ibunya yang menuntut ilmu di luar negeri agar kehidupan mereka kelak bisa lebih baik.
Kehidupan Elaine tampak sempurna. Ayah dan ibunya masih lengkap dan ia tinggal bersama mereka. Ayahnya punya jabatan tinggi di kantor. So, sudah pasti segala fasilitas tersedia bagi Elaine. Namun, kehidupan memang tidak selalu berjalan mulus. Elaine ingin mendalami musik. Oleh sebab itu, ketika ia ikut pindah ke Bontang, ia memutuskan bergabung dengan marching band di sana. Namun, ayahnya menentang keras keputusan Elaine. Menurutnya, musik bukanlah hal yang perlu ditekuni.
Lahang adalah anak suku Dayak, suku di Kalimantan. Di satu sisi, Lahang ingin mewujudkan impian almarhum ibunya: menjejakkan kaki di ibukota negara dan melihat tugu Monas. Satu-satunya cara adalah dengan ikut Grand Prix Marching Band (GPMB), sebuah perlombaan akbar tahunan marching band se-Indonesia di Jakarta. Namun, di sisi lain, ia tidak ingin meninggalkan ayahnya yang sedang menanti ajal menjemput karena penyakit.
Rene punya segudang prestasi dalam marching band sehingga dipercaya menjadi pelatih marching band di luar negeri maupun di dalam negeri. Ketika Rene menjadi pelatih marching band Bontang, ia menghadapi tantangan besar, yaitu menanamkan kepercayaan diri pada para anggota marching band Bontang bahwa jika mereka mau, mereka dapat menjadi sehebat marching band di Jakarta.

Tak Ada Naskah yang Tak ‘Retak’

Tak ada naskah yang tak ‘retak’, demikian pendapat Bambang Trim, seorang editor, penulis, dan writerpreneur. Artinya, tak ada naskah yang sempurna, 100% bebas dari kekurangan, termasuk novel “Dua Belas Menit”.
Penamaan beberapa bab novel ini kurang pas. Empat belas dari kelima puluh bab novel memiliki judul dalam bahasa Inggris. Tujuh di antaranya memang merupakan kutipan ucapan atau pikiran tokoh cerita yang memang dinyatakan dalam bahasa Inggris, istilah dalam marching band, nama gubahan musik, dan nama marching band di Amerika. Jadi, menurut saya, wajar-wajar saja.
Namun, tujuh sisanya seharusnya bisa ditulis dalam bahasa Indonesia: “Another Flight” (hlm. 24), “The Musical Ear” (hlm. 27), “It’s All Falling Apart” (hlm. 119), “That Little Black Dress” (hlm. 144). “Whatever Makes You Happy” (hlm 162), “Another Dilema” (hlm. 199), dan “Think Like A Champion, And Fight Like One!” (hlm. 305). Selama masih bisa diberi judul bahasa Indonesia, mengapa kita harus memakai bahasa asing? Apalagi judul “Whatever Makes You Happy” dan “Think Like A Champion, And Fight Like One!” sudah ada bahasa Indonesianya di dalam isi bab bersangkutan (lihat hlm. 166, paragraf ke-2 dan hlm. 307, paragraf ke-6).
Penggunaan bahasa asing juga rentan salah penulisan, seperti “Another Dilema”. Dilema adalah versi bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Inggrisnya adalah dilemma. Begitu pula dengan judul “Another Flight”. Tata bahasa Indonesia mengatur bahwa semua kata asing harus ditulis miring. Namun, judul tersebut ternyata tidak dicetak miring, baik di daftar isi (hlm. XI) maupun di bab bersangkutan (hlm. 24).
Bab ke-4 diberi judul “Violin Concerto in D Major”, yang merupakan karya musik gubahan seorang komponis. Namun, bagi pembaca yang tidak pernah bersentuhan dengan musik, apalagi musik klasik, judul bab tersebut bisa menimbulkan tanda tanya. Mengapa bab tersebut diberi judul demikian? Apakah “Violin Concerto in D Major” adalah gubahan musik bertempo lambat dan sedih, sehingga pantas menggambarkan suasana hati Elaine yang juga sedih karena harus meninggalkan semua yang ia sayangi di sekolah lamanya?
Bab ke-8 diberi judul “Panggil Aku Toyib”. Memang, salah satu kontestannya bernama Toyib. Namun, judul tersebut bisa mengalihkan perhatian pembaca dari inti cerita di bab bersangkutan, yaitu audisi untuk mengisi posisi yang kosong di marching band Bontang Pupuk Kaltim; bagaimana ruwetnya pikiran Rene saat menghadapi kontestan-kontestan yang menurutnya tidak berkualifikasi juga perasaan bahagia Tara karena lolos audisi.
Saya juga menemukan ketidaksamaan informasi mengenai jumlah personil marching band Bontang Pupuk Kaltim. Seratus tiga puluh orang (hlm. 198) atau seratus dua puluh (hlm. 208)? Apakah jumlah yang pertama disebut merupakan jumlah total anak dan semua pelatih?
Ada pula kejanggalan dalam alur cerita. Di bab 18, Rene dikisahkan tidak mengenal Tara. Ia bertemu dengan Tara secara tak sengaja di dalam hutan lindung dan terkesan dengan permainan drum Tara. Padahal di halaman 40, Rene langsung menyapa Tara, begitu Tara masuk ke ruang audisi. Artinya, Rene sudah kenal dengan Tara. Maka saya berkesimpulan, bab 18 merupakan cerita kilas balik. Sayangnya, penulis tidak memberikan keterangan apa pun bahwa bab itu merupakan kilas balik sehingga pembaca yang tidak jeli, pasti akan kebingungan karena menyangka cerita tersebut terjadi di masa kini.
Kejanggalan berikutnya ada dalam sebuah kalimat di halaman 163: “Mereka duduk berdampingan, diam memerhatikan patung Bunda Maria yang masih juga tersenyum sabar walau telah disampahi segala macam.” Membaca kalimat tersebut, saya jadi bertanya-tanya, apakah ada banyak sampah yang menempel di patung Bunda Maria? Ataukah kalimat itu bermakna konotatif? Jika konotatif, mengapa kata ‘sampah’ yang dipilih? Apakah orang berbicara kepada Bunda Maria hanya saat sedih atau gundah gulana?
Ketidaklengkapan informasi juga saya temukan di halaman 101. Diceritakan bahwa Pemeliatn, dukun orang Dayak di kampung Lahang menyimpan sebilah mandau bernoda darah kering dan bahwa ia punya hutang budi. Namun, tidak ada penjelasan lebih lanjut darah apa atau siapakah yang membekas di mandau sang Pemeliatn, apa hubungan mandau itu dengan ayah Lahang serta mengapa dan kepada siapa Pemeliatn berhutang budi.
Kekurangan berikutnya adalah lay-out bagian bawah halaman 236. Ada kelebihan 3 baris sehingga kalimat terakhir bersinggungan dengan nomor halaman.

Yang terakhir, yang menurut saya sangat penting adalah perlunya kamus bergambar untuk menjelaskan bentuk alat-alat musik yang disebutkan dalam novel “Dua Belas Menit” seperti tuba, euphonium, mellophone, french horn, quarto, cymbal, marimba, dan vibraphone.
All of our dreams can come true if we have the courage to pursue them.” (Walt Disney). Terlepas dari segala kekurangannya, novel “Dua Belas Menit” layak dan patut dibaca bagi mereka yang memerlukan motivasi agar terus bersemangat meraih impian karena novel “Dua Belas Menit” adalah kisah yang membuktikan kebenaran pendapat bijak tersebut. Tunggu apa lagi? Ayo, berderap mantap meraih impianmu!

* Resensi ini berhasil menjadi salah satu dari 12 resensi terbaik pilihan juri lomba menulis resensi novel 12 Menit