Kamis, 24 November 2016

Benarkah Hukuman Fisik Mendidik?




Seorang anak melaporkan kepada saya kalau ia sering dipukul atau dicubit oleh seoerang dewasa. Kebetulan, orang dewasa itu saya kenal.

Maka, saya mendatangi orang dewasa itu. "Dulu, waktu kecil, sering dipukul atau dicubit?" tanya saya. 

Orang itu tidak menyahut. 

"Pasti iya," sambung saya dengan yakin. Saya memintanya agar berhenti melakukan kebiasaan buruk tersebut agar anak yang ia sakiti, tidak melakukan hal yang sama, kelak saat gilirannya menjadi orang dewasa.

Benarkah Hukuman Fisik Mendidik?
Saya bukan seorang psikolog. Tetapi, saya menyakini bahwa hukuman fisik tidak baik dijadikan sebagai sarana mendidik. Keyakinan saya ini mungkin juga dipengaruhi pengalaman masa kecil saya. 

Saya beruntung punya orangtua yang tidak memasukkan hukuman fisik sebagai cara mendidik. Seingat saya, ibu saya hanya sekali melayangkan tangannya saat kaca meja ruang tamu pecah akibat ulah kami, anak-anaknya. Ibu saya hanya sekali berbuat, tetapi sampai hari ini peristiwa itu membekas di hati saya. Jadi, pukulannya tidak hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga emosional. Dan mungkin, justru karena ibu saya tidak pernah memukul sebelumnya, pukulannya yang sekali itu, sangat membekas di pikiran saya.

Fourth Place
Tanggal 30 Oktober yang lalu, saya diajak kakak saya menonton film Korea di sebuah pusat perbelanjaan. Hari itu adalah hari terakhir acara Korea Indonesia Film Festival 2016.Film yang kami tonton, berjudul Fourth Place

Fourth Place ingin menunjukkan bahwa kekerasan (fisik) tidak hanya melanggar hak asasi manusia. Selain itu, alih-alih mencapai tujuan yang diinginkan, kekerasan (fisik) justru membawa hasil yang kontradiktif dan kontraproduktif. 

Dikisahkan seorang perenang timnas tidak datang latihan. Sang pelatih naik pitam. Saat murid itu akhirnya muncul, si pelatih tidak dapat lagi menguasai diri. Dengan membabi buta, ia memukuli muridnya dengan gagang sapu. Tidak cukup sekali, berkali-kali. Ujung-ujungnya, si murid berhenti menjadi perenang. 

Hukuman Fisik, Lingkaran Setan 
Alur cerita Fourth Place berkembang.. Dikisahkan, si mantan perenang menjadi seorang pelatih renang. Ia menjadi pelatih bertangan besi. Pengalaman pahit yang ia derita, ia ulangi kepada muridnya. Dan apa yang terjadi? Sang murid berhenti berenang. Di rumah, ia memukuli adiknya ketika sang adik melakukan kesalahan.

Berhenti Memberi Hukuman Fisik, Memutus Mata Rantai Kekerasan
"Tante itu mungkin sering dipukul ibunya. Makanya sekarang ia sering mukulin anaknya. Nanti kalau anaknya sudah besar dan punya anak, mukulin anaknya lagi," kata seorang anak, menganalisa film yang ia tonton dan contoh nyata di kesehariannya. Saya setuju dengan pendapatnya.

Mari kita memutus mata rantai kekerasan dengan belajar mencari alternatif cara mendidik yang baik, bermartabat dan tidak melanggar hak asasi manusia karena anak-anak adalah manusia.





Minggu, 23 Oktober 2016

Asisten Berhitung Ibu

Matematika. Anak sekolah mana pun pasti harus menghadapi mata pelajaran ini. Sebagian tergila-gila padanya. Sebagian lagi, stres habis dibuatnya.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, sebuah kalimat yang belum lengkap, punya banyak kemungkinan jawaban sesuai keinginan penjawab. Contoh, "Ayah memanjat ...." Jawaban bisa pohon, atap, tangga, pundak paman, dsbnya.

Namun, kalau pelajaran matematika, jawaban selalu pasti. 3+3 = 6; 4 x 6 = 24. Itu sebabnya, salah satu kewajiban siswa adalah menghafal perkalian 1 sampai 10.

Pasti, Maka Butuh Konsentrasi
Dan karena sifatnya yang serba pasti, pengerjaan soal-soal matematika membutuhkan konsentrasi tinggi. Bayangkan, apa yang terjadi, jika tanda tambah (+) dibaca jadi tanda kali (x) karena ditulis miring. Bukankah ada saja anak yang sering melakukan hal itu karena menulis dengan terburu-buru? Contohnya, anak saya :)

Asisten Berhitung 
Kemarin saya dan anak saya jalan bareng berdua. Saat jam makan siang tiba, kami mampir ke sebuah tempat makan.

Sambil menunggu makanan dibuat, saya berniat menghitung pengeluaran untuk mengisi waktu. Tiba-tiba, saya mendapat ilham untuk menjadikan anak saya asisten berhitung. Alih-alih belajar matematika, ia pasti akan lebih suka diminta membantu ibunya, meskipun ujung-ujungnya ya mengerjakan penambahan juga :D.



Dan taraaa ... inilah hasilnya. Ada angka yang dicoret karena anak saya tidak menuliskan sejajar. Puluh ribuan ditaruh di bawah ratusan ribu.

Tanda tambah paling bawah juga sempat ditulis seperti tanda kali.

"Terima kasih kasih, ya, Dek," ucap saya atas jasanya setelah ia selesai berhitung dan hasil hitungannya benar.

Ia tersenyum. Bangga dan senang karena telah membantu saya. 

Saya pun turut senang karena ia telah berlatih mengasah kepedulian serta menghitung.



Senin, 10 Oktober 2016

Cepuk

Beberapa hari lalu Cepuk tiba di rumah saya. Saya girang banget. Soalnya kali pertama melihat Cepuk, saya langsung terpesona.

Sebelum Cepuk datang, Mami Cepuk menghubungi saya. Dia minta alamat saya supaya tahu ke alamat mana Cepuk harus diantar.

Mau tahu Cepuk, teman baru saya?
Tadaaa, ini dia.



Itu Cepuk?

Iya, itu Cepuk. Hehe. Cepuk tak lain adalah tokoh burung rekaan dalam buku cerita Waktunya Cepuk Terbang. 

Terus, Mami Cepuk siapa?

Mami Cepuk, ya penulisnya. Namanya Debby Lukito.

Papi Cepuk?

Papi Cepuk adalah ilustratornya. Namanya Jack Son.

Saya bertemu Cepuk dan mami-papinya di Writer Workshop yang diadakan Room to Read dan Provisi Education September lalu.

Jadi, Waktunya Cepuk Terbang adalah salah satu buku hasil workshop serupa tahun lalu. Workshop yang bertujuan menghasilkan buku-buku bacaan bermutu (cerita sekaligus ilustrasinya) untuk anak-anak Indonesia agar para tunas bangsa gemar membaca. Setelah gemar membaca bacaan yang baik, niscaya teredukasi juga dengan baik.

Cepuk punya cerita begini.

Cepuk belajar terbang di sekolah. Cepuk gagal berkali-kali.

Salah satu temannya jadi kesal. Cepuk dia seruduk.

Suuut, Cepuk terjatuh. Oh, oh, Cepuk panik. Dikepak-kepakkannya sayapnya.

Wuhuhu, Cepuk naik dan naik. Dia bisa terbang! Seru kan ceritanya.

Ilustrasinya juga lucu. Teman Cepuk yang gak sabaran, digambarkan punya jambul kayak tanduk. Waktu kesal, dari matanya keluar sinar merah keoranyean gitu. Papi Cepuk memang keren!

Ingin memotivasi anak atau diri sendiri agar mencoba dan mencoba lagi dalam meraih impian? Buku ini pas dijadikan alat bantu.

Hanya, harap bersabar, ya. Buku ini belum diperjualbelikan. Masih diperuntukkan bagi koleksi perpustakaan sekolah. Tapi, menurut info, bakal diterbitkan untuk khalayak umum. Semoga ya.







Jumat, 30 September 2016

Ke Pameran Buku (IIBF) 2016, Yuk

Salah satu kegiatan masa kecil saya yang paling berkesan adalah ... pergi ke pameran buku! Saya beruntung punya orangtua yang menjadikan pameran buku sebagai tujuan wisata keluarga, meskipun mereka tidak punya banyak uang. Seingat saya, hampir tidak pernah kami absen. Tiap kali ada pameran, berangkat!

Saya ingat, salah satu hasil belanja di pameran adalah buku terbitan Gramedia berupa komik cerita klasik, seperti Little Women. Harganya kalau enggak salah masih Rp500-an. Ilustrasinya hanya 2 warna, bukunya tipis.

Saya dan saudara-saudara saya sangat suka membacanya. Memandangi model rambut para tokoh perempuan. Terurai dengan jepitan di kanan dan kiri. Ujung-ujungnya kriwil-kriwil. Model Nelly dalam film seri TVRI Laura gitu, deh. Gaunnya menjuntai ke lantai dengan ukuran pinggang barbie karena pakai korset.

Nah, 2 hari lalu saya pergi ke IIBF (Indonesia International Book Fair) 2016 di JCC Senayan.


Alasan utama sih karena saya mau menghadiri peluncuran buku-buku Indonesia Membumi. Tapi, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlewati dong. Saya mau beli buku. Psst, satu lagi, mumpung enggak ada pengawas alias suami yang memantau agar tidak kalap :D

Buku sekarang tuh mahal-mahal ya *entah sudah berapa kali saya mengeluhkan hal ini. Bagaimana orang bisa beli buku, kalau untuk makan sehari-hari saja susah? Padahal kata para cendekiawan, supaya terdidik, orang harus (mau) baca banyak buku.

Anyway, ini keuntungan pergi ke pameran buku (IBF 2016):

1. Ada stan KPK
Pengunjung bisa melihat buku-buku yang melawan korupsi: fiksi, nonfiksi dan faksi, termasuk buku-buku hasil sanggar kerjs Indonesia Membumi-nya KPK dan IKAPI.

Anak-anak bisa bermain beberapa permainan edukasi antikorupsi.

Buku dan mainan tidak diperjualbelikan ya.

2. Bisa dapat diskon lebih besar dari diskon toko online. Diskon di IBF rata-rata 20%.



Bisa menemukan buku yang masuk wish list, karya penulis idola, dengan potongan harga tersebut.


3. Bisa melihat fisik buku secara langsung.

Kalau belanja online, harus berpuas diri hanya melihat kaver dan ringkasan cerita. Kalau di pameran, boleh buka segel buku dan lihat-lihat isinya.

4. Bisa menemukan buku yang tadinya tidak pernah kita tahu keberadaannya.


5. Tempatnya nyaman
Karena berlokasi di JCC, tempatnya jadi lebih luas. Kita bisa lebih leluasa dan nyaman melihat-lihat. Tempatnya juga dingin. Toiletnya juga bersih.

6. Ada stand buku murah
Yang bikin penerbit Mizan. Buku-buku novel setebal 300+ halaman banting harga jadi Rp10.000-15.000.


Kalau tertarik ke stan ini, kudu berangkat lebih pagi karena buku-bukunya masih tertata rapi. Kalau sudah siang, alamat campur aduk. Saya sendiri, jadi malas. Akhirnya, "nyontek" belanjaan orang. Kalau ada pilihan orang yang menurut saya menarik, saya tanya, "Buku itu dapat di sebelah mana?"

Mau ke IIBF juga? Masih akan berlangsung hingga Minggu, 2 Oktober. Jangan lupa bawa tas besar supaya semua belanjaan bisa disatukan. Plus, uang yang banyak :D

 






Kamis, 29 September 2016

Bukan Aku, Bu, Fiksi Anak Melawan Korupsi



Hari yang ditunggu-tunggu, tiba. Kemarin, saya menghadiri acara peluncuran buku-buku Indonesia Membumi di Indonesia International Book Fair 2016, JCC.

Jadi, ceritanya nih, IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) membuat sanggar kerja Indonesia Membumi. Tujuannya tersurat dalam nama sanggar kerja itu sendiri: Menggagas dan Menerbitkan Buku Melawan Korupsi.

Ada 60 peserta (penulis dan editor dari 30 penerbit) yang ikut program tersebut. Hasilnya, puluhan buku bertema perlawanan terhadap korupsi diterbitkan. Mulai dari fiksi, nonfiksi dan faksi anak, remaja sampai buku umum.

Selain menerbitkan katalog buku Indonesia Membumi, KPK juga memberi penghargaan lho kepada para penulis, editor, ilustrator, desainer buku, dan penerbit dalam berbagai kategori.

Karya saya, Bukan Aku, Bu, tidak mendapat predikat fiksi terbaik. Namun, saya tetap merasa senang, terharu dan bangga mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam program Indonesia Membumi. Menurut Bapak Bambang Widjojanto, Indonesia Membumi adalah lompatan besar untuk melawan korupsi melalui literasi. Korupsi harus dilawan agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tercapai.


Bukan Aku, Bu memuat learning value kejujuran. Kejujuran adalah satu dari sembilan nilai Integritas yang ditetapkan KPK dalam langkah menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak kanak-kanak.


Cerita Bukan Aku, Bu berlatar belakang salah satu tradisi di Bali. Diterbitkan oleh Penerbit Libri, imprint BPK Gunung Mulia Jakarta.







.

Rabu, 03 Agustus 2016

Nobar, Kegiatan Favorit Keluarga Kami

“Ini hari Jumat, ya?” Itu pertanyaan-nyaris-rutin anak saya. Ia akan bersorak, “Yes!” begitu saya mengangguk. Soalnya, ia tidak perlu ke sekolah, membawa tas trolley berisi sejibun buku pelajaran. Dan, yang paling menggembirakan baginya adalah it's family time. Saatnya menikmati kebersamaan dengan keluarga telah tiba karena orangtuanya tidak ngantor.

Nginap di rumah nenek, jalan-jalan ke toko buku, bermain di taman umum, bermain di tempat rekreasi, nonton film adalah beberapa kegiatan akhir pekan kami. Namun, jika dibuat jadi daftar, menonton film bareng-bareng (nobar) berada di urutan teratas.Yes, we are a big-fan-of-movies family. Kami sangat suka nonton film. Meskipun demikian, tetap ada aturan menonton, lho, di rumah kami.

O, iya, nontonnya sih lebih sering di rumah, ketimbang di bioskop. Nobar di rumah lebih hemat dan praktis. Selain itu, film anak-anak tidak setiap saat tayang di bioskop, kan.

Manfaat Nobar 
Nobar itu banyak manfaat. Tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi kami, orangtuanya. Empat di antaranya adalah ini:

1. Melatih Kesabaran
Masing-masing dari kami punya selera film sendiri. Namun, saat anak bilang, “Nonton film, yuk,” saya dan suami sudah tentu ngikut selera anak: nonton film anak-anak, bukan nonton film horor, film laga sarat senjata dan pertumpahan darah, atau film percintaan antara laki-laki dan perempuan.

Namanya anak-anak, saat sedang gandrung sama satu film, maunya nonton film yang itu-itu saja. Gak bosan-bosannya. Sebaliknya, kami sangat bosan. Ada kalanya anak bersikeras pada kemauannya meskipun sudah dibujuk untuk nonton film yang lain. Kalau sudah begitu, kami sebagai orangtua yang harus bersabar dan mengalah.

2. Melatih Kebiasaan Bermusyawah
“Kita nonton Zootopia, yuk,” usul saya.

“Enggak, ah. Aikatsu aja,” tangkis anak saya.

“Lebih seru Zootopia. Banyak binatangnya.”

Anak berpikir. Kemudian, “Ya sudah, deh. Tapi, besok nonton Aikatsu, ya.”

Kami pun bersepakat.

3. Belajar (Lagi) Nilai-nilai Dasar Kehidupan
Katakan maaf jika berbuat salah. Ucapkan tolong kala meminta bantuan. Ber-terima kasih saat mendapat pemberian yang baik. Kita orangtua pasti mengajarkan ketiga hal tersebut kepada anak sejak ia masih kecil, kan?

Kita pun diajarkan demikian di masa kanak-kanak. Nyatanya, setelah dewasa, kita sendiri sering lalai mempraktikkan. Saya pun demikian. Dengan menonton film anak-anak yang sarat nilai-nilai baik tersebut, kami sama-sama diingatkan lagi. Syukurlah, Princess Sofia The First jadi salah satu film favorit anak saya.

4. Belajar Berimajinasi
Benda mati, seperti mainan, bisa hidup dan bicara satu dengan yang lain. Manusia bisa berbicara dengan binatang. Anak kecil punya kekuatan super. Hal-hal ajaib semacam itu sering kita temui dalam film anak-anak.



Dengan imajinasi, sesuatu yang tampaknya tidak mungkin, dimungkinkan. Penemuan, misalnya, adalah hasil imajinasi sang penemunya.



Nobar Seru
Nobar film gak mesti di bioskop kok. Memang sih kalau di bioskop layarnya lebih lebar. Audionya juga lebih mantap. Tapi, nobar di rumah juga bisa seru. Ini yang perlu diperhatikan, selain memilih filmnya.

1. Kudapan 
Kudapan bioskop identik dengan popcorn. Kita juga bisa bikin popcorn di rumah. Tapi, kalau gak ada, sediakan saja kudapan lain. Biskuit Oatbits, misalnya. Berbahan dasar gandum asli yang jadi sumber serat. Variannya ada tujuh. Ada yang pakai potongan stroberi. Ada pula yang pakai kismis dan kacang hijau. Oat 8 Almond dilengkapi kacang almond.


2. Matikan Gadget
Namanya juga family time. Plus nonton. Jadi, harus konsentrasi dan fokus. Matikan dulu deh HP atau gadget lainnya supaya tidak ketinggalan cerita yang bisa dijadikan bahan obrolan (diskusi) dengan anak selesai nonton.

3. Tempat Nonton yang Nyaman
Enaknya nonton di rumah, kita bisa nonton sambil meluk bantal, atau baring di tempat tidur sambil berangkulan dengan orang-orang tercinta. Kurang apalagi coba?

Bagaimana dengan Bunda dan Ayah? Apa kegiatan keluarga favorit Anda?


Rabu, 27 Juli 2016

Bersenang-senang di Arung Jeram

Mau jalan-jalan ke Dufan (Dunia Fantasi) Ancol? Pastikan kamu menjajal wahana Arung Jeram. Tentu saja asal kamu tidak sedang hamil, sakit jantung, atau sakit serius lainnya. Penyandang disabilitas juga tidak diizinkan menaiki wahana ini.


Ini alasan versi saya mengapa Arung Jeram tidak boleh dilewatkan.

1. Tempat Kita Bertualang di Air

Penasaran ngerasain menjelajah sungai berair deras tapi nyali belum cukup besar untuk nyobain? Wahana Arung Jeram bisa jadi alternatif. Begitu "perahu" bundar dilepas dengan dorongan mesin oleh petugas, perahu akan hanyut seraya diombang-ambingkan arus deras. Ke kiri, ke kanan, ke bawah sehingga air kerap terhempas ke dalam "perahu". Seru!

2. Tempat Kita Basah-basahan

"Menaiki wahana ini, Anda siap basah." Demikian bunyi peringatan yang tertera di dinding area keberangkatan. Yes, for me and my kiddo, getting wet is the best part of it! Serunya tuh di situ, ketika 'byur', air menghambur ke dalam perahu dan tadaaa, tubuh jadi basah kuyup, dari ujung rambut ke ujung kaki. Bagi kami, basah sedikit atau malah gak basah itu justru menyebalkan. Jadi, kalau gak terpaksaaa banget, jangan pakai jas hujan ya.

3. Tempat Kita Nertawakan Diri Sendiri

Milih naik Arung Jeram emang harus siap repot. Baju basah, kudu ganti baju. Kena air yang beda banget dengan air di bak mandi di rumah, bikin kita kudu bersih-bersih. Gak heran, pengunjung suka milih-milih tempat duduk dengan kalkulasi, kalau duduk di sini atau di situ gak bakal basah.

Tapiii, percaya deh, kita gak bisa mastikan, kita bakal tiba kering kerontang di garis akhir. Air yang punya kuasa. Perahu aja pasrah:D Jadi, tertawa aja kalau perhitungan kita salah. Balik ke no. 2, basah itu sisi menyenangkan permainan ini.

Mau coba?