Senin, 13 Juni 2016

Bagai Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang

 


Sabtu siang, 11 Juni, saya mendapat berita mengejutkan. Suami teman saya meninggal dunia. Teman saya bernama Eva. Nama panggilan suaminya Sudung.

Saya tak begitu kenal pribadi almarhum Sudung. Kami bertemu saat ia menjemput Eva. Posturnya tinggi, besar. Pas benar jadi "pelindung" Eva. Ia tak banyak bicara. Sepintas terkesan serius walau pasti tersenyum saat bertemu dengan kami, teman-teman Eva. Namun, ada perbuatan almarhum dan istrinya yang berkesan bagi saya sekeluarga. Perbuatan yang juga menegaskan kebenaran ini: jangan nilai perawakan orang. Lihat hatinya. Hati yang baik akan membuahkan perbuatan yang baik.

Sepuluh tahun yang lalu saya dan keluarga meminta almarhum Sudung memotret kami. Kami ingin punya foto resmi keluarga. Sudung memang punya talenta memotret dan berkiprah di dunia fotografi. Ia menerima permintaan kami.

Pada hari yang disepakati, Sudung dan Eva datang ke rumah kami. Kala itu, ayah saya sedang sakit keras. Jadi, pemotretan dilakukan di rumah. Backdrop latar belakang berukuran besar mereka bawa. Ternyata rumah kami tidak cukup besar bagi Sudung untuk mendapat angle yang memadai. Maka, ia dan Eva mencari jalan keluar. Pemotretan dipindah ke teras dan berlangsung lancar. Artinya, mereka berusaha memberi yang terbaik. 

Di luar dugaan kami, Sudung dan Eva tidak bersedia meminta bayaran dari kami. Hasil foto yang telah diedit sebelumnya, diberikan kepada kami gratis. Mungkin karena mereka tahu, pemotretan dilakukan dalam suasana duka. Dokter berkata, waktu ayah saya di dunia tinggal sedikit meskipun waktu itu kami tidak pernah bisa tahu kapan ayah kami akan meninggal.

Pada akhirnya, salah satu hasil jepretan Sudung menjadi foto profil di acara persemayaman dan pemakaman ayah saya. Sudung berhasil mengabadikan momen ayah saya tersenyum damai dalam penderitaan sakitnya. Peran Eva sebagai pengarah gaya juga sangat berpengaruh. Eva yang ceria dan energik ....

Sabtu malam (11/6), saya kembali bertemu dengan juru potret yang baik hati itu. Namun, saya hanya bisa memberi pelukan erat kepada Eva sebagai tanda turut berdukacita sekaligus terima kasih untuk kenangan indah yang mereka berdua telah patri dalam hati kami.

Selamat jalan, Sudung ....


Jumat, 10 Juni 2016

Jujur, Dasar Sikap Antikorupsi




Saya yakin, sebagian besar dari kita pernah complain petugas kasir karena kita diharuskan membayar lebih banyak dari yang seharusnya. Kasir salah input data. 

Nah, beberapa hari yang lalu, saya punya pengalaman lagi nih dengan petugas kasir. Setelah membayar, saya cek struk. Eh, belanjaan daging ayam tidak tercatat.
Mau jujur atau biarin aja? Toh salah petugas kasirnya ini. Lumayan lho harganya 35 ribu. Bisa 10 kali naik Transjakarta. 

Tapi, suara hati saya mengingatkan, apa iya, saya mau makan makanan yang didapat dengan cara yang tidak halal? Lagi pula, bisa saja, suatu hari nanti, saya berada di posisi yang sama. Tentu, saya akan senang kalau ada orang yang bersedia "mengembalikan" kepada saya apa yang harusnya menjadi hak saya. 

Akhirnya, saya putuskan untuk memberi tahu petugas kasir tentang kesalahannya dan saya pun kembali membuka dompet untuk membayar belanjaan daging ayam tersebut. 

Pengalaman itu mengingatkan saya pada salah satu materi yang disampaikan dalam sanggar kerja bertajuk Indonesia Membumi, yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pusat dari 17 s/d 19 Mei yang lalu di Jakarta. Materi tersebut adalah 9 nilai antikorupsi. 



Apa saja? 3 nilai inti, yaitu jujur, disiplin dan tanggung jawab; kerja keras, sederhana dan mandiri yang termasuk dalam 3 etos kerja  serta 3 sikap yaitu adil, berani serta peduli. 

Bagaimana pengalamanmu dengan kejujuran? [Nancy]