Banci dan Eksploitasi

"Ayo, ke Taman Lawang!" Ajakan itu kerap saya dan saudara-saudara saya cetuskan kala kami masih anak-anak. Kami begitu bersemangat ingin melihat banci. Semata karena kami masih anak-anak. Ingin tahu. Laki-laki berdandan seperti perempuan adalah hal baru dan "seru" bagi kami. Tapi, itu dulu .... Saya baru saja mengikuti sebuah acara unjuk kemampuan. Tiga kelompok peserta memilih menghadirkan sosok banci dalam performa mereka. Ada yang masih memakai baju laki-laki, tetapi gerak tubuh dan cara berbicaranya dibuat gemulai. Ada yang ekstrem, berubah menjadi banci. Kepala menggunakan wig rambut panjang. Bibir dipoles merah. Mengenakan rok mini dan atasan berpotongan di atas pusar. Dan, banci jadi-jadian itu menampilkan tarian perut. Sungguh mengejutkan! Mengapa laki-laki mau memerankan diri jadi banci, meskipun hanya untuk "seru-seruan"? Dan yang paling membuat saya terhenyak, para pemirsa sangat terhibur. Penampilan banci-bancian mendapat tepuk tangan paling meriah. Pengalaman itu mengusik saya. Tidak ada kah lagi materi hiburan selain dunia banci? Setali tiga uang dengan profesi perempuan/laki-laki panggilan, seorang laki-laki menjadi banci tidak melulu karena ia suka menjadi banci. Bisa jadi kan, ia terpaksa menjadi banci karena tidak punya pilihan profesi. Justru karena ada permintaan lah, profesi banci penghibur masih ada, bahkan makin banyak. Dan ketika banyak penonton laki-laki yang sangat menikmati tarian banci, menurut saya, lagi-lagi tubuh perempuan dijadikan objek seks, dieksploitasi secara seksual. Para lelaki memang sedang melihat laki-laki menari erotis. Namun, para penari itu muncul dalam sosok perempuan ....

Anak dan Toleransi


"Ma, kok matanya sipit? Mata kita enggak?"

"Pa, kenapa kulitnya hitam? Kulit aku putih."


Indonesia yang beragam suku/
Ilustrasi: dream Indonesia

"Kakek, kita tutup mata kalau berdoa. Kok mereka enggak?" 
 


Indonesia yang beragam agama dan ras/

Ilustrasi: the global review



Pernah mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti di atas?
  
Jangankan anak-anak, kita orang dewasa juga pasti pernah penasaran, jengah atau bahkan was-was kala bersua dengan seseorang yang berbeda dari kita, entah itu penampilan fisiknya atau perilakunya.

Kesamaan vs Keberagaman
Kita cenderung merasa lebih nyaman berada di antara orang yang punya kesamaan dengan kita, begitu pendapat Sekar Sostronegoro di awal diskusi Anak dan Toleransi. Tapi, kita harus menerima perbedaan orang lain. Sebab, kita hidup di era keberagaman, tutur Suzy Hutomo, chairwoman The Body Shop Indonesia.

Pendidikan Toleransi Sejak Dini
Toleransi penting dikenalkan sejak dini. Alah bisa karena biasa. Memberi anak pemahaman dan pengalaman bertoleransi sejak kecil, sangat penting.

Menurut Najeela Shihab, psikolog, pemerhati anak, dan praktisi dunia pendidikan, anak adalah observer yang baik, tetapi very bad interpreter. Oleh sebab itu, orangtua punya peran penting. Dunia macam apa yang orangtua ingin perlihatkan kepada anak? 

Pertama-tama, orangtua harus mendorong anak memahami dirinya sendiri terlebih dulu bahwa ia adalah pribadi yang unik, punya potensi, minat dan bakatnya sendiri.

Langkah selanjutnya, orangtua memberi anak sebanyak mungkin kesempatan untuk berinteraksi dengan beragam orang. Sebisa mungkin, ajak anak memasuki komunitas yang heterogen. Kalau anak belajar di sekolah yang warganya homogen, dorong anak untuk berteman dengan anak beragam latar belakang di lingkungan lainnya. Misalnya, lingkungan tempat tinggal atau tempat kursus.

Living The Values
"The biggest way to teach or to learn tolerance is living the values." Ibu Suzy berprinsip, keteladanan itu sangat penting. Orangtua harus memberi contoh, memberi teladan bagaimana berperilaku toleran, menerima perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. 

Jadi, sebelum mendidik anak toleransi, orangtua juga harus memeriksa diri, lho. Jangan-jangan, orangtua sendiri punya miskonsepsi-miskonsepsi yang harus dilepaskan. Contoh, menyebut orang miskin pemalas. Padahal, ada juga orang miskin yang rajin.


Keberagaman itu tampak di diri para pembicara juga!

Ki-ka: Najaeela Shihab (dunia pendidikan),

Dira Sugandi (dunia musik),

Sekar (dunia penulisan), Suzy Hutomo (dunia bisnis),

Nia Dinata (dunia perfilman)

Kitu, Kucing Kecil Bersuara Ganjil
Senang rasanya bisa hadir di acara diskusi "Anak dan Toleransi". Dapat ilmu dan dapat buku! Soalnya, diskusi diadakan dalam rangka peluncuran buku Seri Toleransi yang pertama, Kitu, Kucing Kecil Bersuara Ganjil, yang ceritanya ditulis oleh Sekar, diilustrasi oleh Mira Tulaar dan disunting oleh Andien. Sekar berharap, orangtua dapat menggunakan Kitu untuk memulai percakapan tentang perbedaan dan keberagaman. 




Tim kreatif (ki-ka): Mira, Sekar, Andien/

Foto: Dok. Panitia



Bhinneka Tunggal Ika
Diskusi "Anak dan Toleransi" juga mengajak para hadirin menyebarkan semangat menghidupi toleransi, khususnya di Indonesia. Setuju sekali! Indonesia itu bangsa istimewa yang multikeberagaman. 

Beragam suku, beragam ras, beragam agama. Jika tidak ada toleransi, tidak akan ada kedamaian, justru perpecahan. Jadi, kalau sang Khalik menciptakan kita beragam, bukankah sepatutnya kita menerima anugerah itu dengan tangan terbuka dan hati yang bersyukur?