Ke Pameran Buku (IIBF) 2016, Yuk

Salah satu kegiatan masa kecil saya yang paling berkesan adalah ... pergi ke pameran buku! Saya beruntung punya orangtua yang menjadikan pameran buku sebagai tujuan wisata keluarga, meskipun mereka tidak punya banyak uang. Seingat saya, hampir tidak pernah kami absen. Tiap kali ada pameran, berangkat!

Saya ingat, salah satu hasil belanja di pameran adalah buku terbitan Gramedia berupa komik cerita klasik, seperti Little Women. Harganya kalau enggak salah masih Rp500-an. Ilustrasinya hanya 2 warna, bukunya tipis.

Saya dan saudara-saudara saya sangat suka membacanya. Memandangi model rambut para tokoh perempuan. Terurai dengan jepitan di kanan dan kiri. Ujung-ujungnya kriwil-kriwil. Model Nelly dalam film seri TVRI Laura gitu, deh. Gaunnya menjuntai ke lantai dengan ukuran pinggang barbie karena pakai korset.

Nah, 2 hari lalu saya pergi ke IIBF (Indonesia International Book Fair) 2016 di JCC Senayan.


Alasan utama sih karena saya mau menghadiri peluncuran buku-buku Indonesia Membumi. Tapi, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlewati dong. Saya mau beli buku. Psst, satu lagi, mumpung enggak ada pengawas alias suami yang memantau agar tidak kalap :D

Buku sekarang tuh mahal-mahal ya *entah sudah berapa kali saya mengeluhkan hal ini. Bagaimana orang bisa beli buku, kalau untuk makan sehari-hari saja susah? Padahal kata para cendekiawan, supaya terdidik, orang harus (mau) baca banyak buku.

Anyway, ini keuntungan pergi ke pameran buku (IBF 2016):

1. Ada stan KPK
Pengunjung bisa melihat buku-buku yang melawan korupsi: fiksi, nonfiksi dan faksi, termasuk buku-buku hasil sanggar kerjs Indonesia Membumi-nya KPK dan IKAPI.

Anak-anak bisa bermain beberapa permainan edukasi antikorupsi.

Buku dan mainan tidak diperjualbelikan ya.

2. Bisa dapat diskon lebih besar dari diskon toko online. Diskon di IBF rata-rata 20%.



Bisa menemukan buku yang masuk wish list, karya penulis idola, dengan potongan harga tersebut.


3. Bisa melihat fisik buku secara langsung.

Kalau belanja online, harus berpuas diri hanya melihat kaver dan ringkasan cerita. Kalau di pameran, boleh buka segel buku dan lihat-lihat isinya.

4. Bisa menemukan buku yang tadinya tidak pernah kita tahu keberadaannya.


5. Tempatnya nyaman
Karena berlokasi di JCC, tempatnya jadi lebih luas. Kita bisa lebih leluasa dan nyaman melihat-lihat. Tempatnya juga dingin. Toiletnya juga bersih.

6. Ada stand buku murah
Yang bikin penerbit Mizan. Buku-buku novel setebal 300+ halaman banting harga jadi Rp10.000-15.000.


Kalau tertarik ke stan ini, kudu berangkat lebih pagi karena buku-bukunya masih tertata rapi. Kalau sudah siang, alamat campur aduk. Saya sendiri, jadi malas. Akhirnya, "nyontek" belanjaan orang. Kalau ada pilihan orang yang menurut saya menarik, saya tanya, "Buku itu dapat di sebelah mana?"

Mau ke IIBF juga? Masih akan berlangsung hingga Minggu, 2 Oktober. Jangan lupa bawa tas besar supaya semua belanjaan bisa disatukan. Plus, uang yang banyak :D

 






Bukan Aku, Bu, Fiksi Anak Melawan Korupsi



Hari yang ditunggu-tunggu, tiba. Kemarin, saya menghadiri acara peluncuran buku-buku Indonesia Membumi di Indonesia International Book Fair 2016, JCC.

Jadi, ceritanya nih, IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) membuat sanggar kerja Indonesia Membumi. Tujuannya tersurat dalam nama sanggar kerja itu sendiri: Menggagas dan Menerbitkan Buku Melawan Korupsi.

Ada 60 peserta (penulis dan editor dari 30 penerbit) yang ikut program tersebut. Hasilnya, puluhan buku bertema perlawanan terhadap korupsi diterbitkan. Mulai dari fiksi, nonfiksi dan faksi anak, remaja sampai buku umum.

Selain menerbitkan katalog buku Indonesia Membumi, KPK juga memberi penghargaan lho kepada para penulis, editor, ilustrator, desainer buku, dan penerbit dalam berbagai kategori.

Karya saya, Bukan Aku, Bu, tidak mendapat predikat fiksi terbaik. Namun, saya tetap merasa senang, terharu dan bangga mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam program Indonesia Membumi. Menurut Bapak Bambang Widjojanto, Indonesia Membumi adalah lompatan besar untuk melawan korupsi melalui literasi. Korupsi harus dilawan agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tercapai.


Bukan Aku, Bu memuat learning value kejujuran. Kejujuran adalah satu dari sembilan nilai Integritas yang ditetapkan KPK dalam langkah menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak kanak-kanak.


Cerita Bukan Aku, Bu berlatar belakang salah satu tradisi di Bali. Diterbitkan oleh Penerbit Libri, imprint BPK Gunung Mulia Jakarta.







.