Pendekar Cinta

Jatuh cinta itu seperti mata uang. Punya 2 sisi. Yang satu bisa membawa dampak positif. Contoh, lebih rajin merawat diri. Kan pengen tampil rapi dan menarik di mata gebetan atau pacar.

Rajin olah vokal di kamar mandi. Getol mempelajari hobi baru atau kegiatan si doi. Ya, kan?

Sisi satunya, sebaliknya. Bangun siang, gak nafsu makan. Rambut awut-awutan macam ijuk sapu yang lama gak dicuci. Plus mata bengkak, wajah manyun.

Yang terakhir itu biasanya terjadi kalau cinta bertepuk sebelah tangan atau gak langgeng alias putus. Bahkan, cinta tak kesampaian bisa menaikkan kadar nekad seseorang sampai pol. Bunuh diri, misalnya.

Pendekar Cinta
Ngomong-ngomong tentang cinta, ada baiknya nih kita meniru pendekar yang ksatria. Jadi pendekar cinta gitu.

1. Tulus
Ingin jadian atau pacaran bukan karena ingin mengambil keuntungan dari si dia. Tapi, karena yakin, bisa saling mengisi, sama-sama jadi pribadi yang lebih baik.

Kalau gak kesampaian jadian, gak boleh marah sampai-sampai berniat jahat. Namanya juga cinta. Gak bisa dipaksakan. Relakan saja dia pergi.

2. Kontrol diri
Buat yang udah jadian, nikmati cinta. Tapi, awas bablas. Gak ada tuh acara seks pranikah. Apalagi atas nama ngebuktiin cinta. Jaga kehormatan diri, orangtua dan pacar.

3. Mengembangkan diri
Pendekar rajin berlatih supaya menguasai berbagai jurus. Punya pacar juga gitu dong. Harus tambah pandai. Makin semangat belajar. Belajar hal-hal baru yang positif dengan yayang.

4. Tegar
Putus? Cinta ditolak? Jadi sedih? Lumrah dan sah-sah saja. Tapi gak pake lama dan lebay. Yakinlah, cinta akan kembali menyapa di lain waktu.

Kalaupun belum bisa meraih cinta terhadap lawan jenis, ada kok cinta lainnya. Cinta terhadap alam, cinta terhadap orangtua, cinta terhadap sesama, dll.

Gimana, mau jadi pendekar cinta? [Nancy]

Perempuan dan Keturunan dalam Pernikahan

"Kalau kau ingin mendapatkan kehormatan di keluarga ini, kau harus memberi mereka penerus. Seorang laki-laki lebih memilih perempuan yang bisa memberinya keturunan. Itulah kenyataan hidup," ujar seorang ibu kepada anak perempuannya.

Kisah itu saya ikut dengar di sebuah drama televisi India. Namun, itu bukan berarti kisah-kisah menyedihkan demikian tidak terjadi di dunia nyata. Ada. Banyak.

Anak, Generasi Penerus
Ayah, ibu, anak/Ilustrasi: gograph.com

"Selamat, ya. Semoga cepat dapat momongan." Pasti ada saja tamu yang mengucapkan harapan itu saat menyalam pengantin. Ya, kan?

Kok bisa begitu?

Pertama, karena pada umumnya, pasangan kekasih menikah karena ingin membentuk keluarga, mempunyai keturunan.

Kedua, hubungan seks memungkinkan terjadinya pembuahan saat sel sperma bertemu dengan sel telur.

Dan alasan pertamalah yang sering menimbulkan masalah dalam kehidupan berumah tangga. Tambah runyam kalau ada desakan dan tekanan dari orangtua yang tak sabar lagi ingin menimang cucu.

Diskriminasi terhadap Perempuan
Dari pelajaran biologi, kita tahu kalau pembuahan bisa terjadi kalau ada pertemuan antara sel sperma dan sel telur. Film Look Who's Talking (saya lupa, yang ke-1 atau sekuelnya) adalah salah satu film yang mengilustrasikan proses pembuahan.

Di awal film tersebut ditunjukkan ribuan sel sperma yang menyerupai kecebong, "berlomba", adu cepat menuju sebuah sel telur.

Sel sperma mendekati "garis akhir"/Ilustrasi: netdoctor.co.uk


Kemudian, satu-satunya sel sperma pemenang menembus dinding sel telur. Terjadilah pembuahan. Janin akan bertumbuh. Dan pada waktunya, lahir ke dunia dalam wujud bayi mungil.

Jelas bukan, untuk bisa punya anak, kedua belah pihak (suami dengan sel spermanya) dan istri dengan sel telurnya) harus bekerja sama dengan baik. Keduanya sama-sama punya peran. Namun, pada praktiknya, perempuan (istri) sering kali dijadikan pesakitan; memikul tanggung jawab atas ketidakhadiran anak. Sendirian.

Saya pernah menyaksikan sepasang suami istri didoakan agar segera dikaruniai anak. Isi doanya memojokkan sang istri. Permohonan dinaikkan agar penyakit diangkat dari rahim sang istri. Padahal, tidak ada percakapan sebelumnya antara si pendoa dan si pasutri. Mereka baru saja bertemu. Darimana si pendoa tahu? Bukankah juga ada kemungkinan, sperma suamilah yang tidak normal? Misalnya, sel-sel spermanya lemah. "Gugur" dalam perjalanan menuju sel telur. Atau, jumlahnya terlalu sedikit. Gerakannya yang tidak maju ke depan, tetapi membelok?

Macam-macam masalah sel sperma/Ilustrasi: fertility-docs.com


Pemeriksaan yang Berimbang
Ilmu pengetahuan berkembang. Teknologi informatika pun makin canggih. Jadi, seyogianya pola pikir insan manusia pun berkembang secara positif.

Pasutri yang tak kunjung punya anak, meskipun tidak menunda, harus sama-sama berkonsultasi pada dokter kandungan. Dokter akan menjelaskan langkah-langkah pemeriksaan yang harus dijalani kedua belah pihak. Begitu pula langkah-langkah mengusahakan terjadinya pembuahan, mulai dari cara alami sampai dengan bantuan teknologi.

Berdua Bersama
Kalau semua usaha sudah ditempuh, tapi hasil tetap nihil, haruskah pernikahan dibubarkan? Kita adalah manusia ciptaan-Nya. Kita lahir ke dunia atas seizin-Nya. Jadi, yang bisa kita lakukan adalah berserah dan bersyukur atas pasangan hidup. Berdua bersama dalam suka dan duka, dalam pasang dan surutnya kehidupan. [Nancy]