Acer Liquid Z320, Ponsel yang Ramah Anak



       Tiap orangtua pasti menginginkan sang buah hati tumbuh dan berkembang secara optimal, sehat jasmani dan rohani. 
Anak dapat tumbuh bahagia dan sejahtera hanya jika hak-haknya terpenuhi. Menurut Konvensi Hak Anak PBB yang juga telah diratifikasi negara kita, anak memiliki hak agama, hak kesehatan, hak pendidikan, hak sipil, hak memperoleh informasi, dan hak mendapatkan jaminan sosial.

Teknologi Digital dan Hak Anak Memperoleh Informasi
Wah, memperoleh informasi ternyata adalah salah satu hak anak. Benar juga. Bagaimana wawasan anak bisa terbuka dan pengetahuannya bisa bertambah kalau ia tidak mendapat informasi?
Teknologi informasi komunikasi berkembang pesat. Kini anak-anak kita akrab dengan gadget yang dilengkapi mobile internet. Anak dapat mengakses informasi dari mana saja dan kapan saja. 

Kebebasan yang Tidak Kebablasan
Memperoleh informasi adalah hak anak. Apakah itu berarti, anak kita bebas mengakses informasi apa saja?
Tentu saja tidak. Pasal 10 Undang-Undang Perlindungan Anak menyatakan, “setiap anak berhak ... menerima, mencari ... informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.”
Anak hanya boleh mendapatkan informasi yang sesuai tingkat kecerdasan dan usianya. Anak hanya boleh menerima informasi yang sesuai nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan. Jika tidak, tidak boleh. 
Adalah kewajiban kita, para orangtua, memastikan anak kita mematuhi rambu-rambunya. Jangan sampai, karena sibuk ber-gadget ria, ia enggan bersosialisasi. Ia mengakses konten yang tidak layak, seperti kekerasan dan pornografi. Ia menjadi korban cybercrime.

Haruskah Melarang?
Anak saya sering menggunakan ponsel. Memang masih sebatas untuk memotret, bermain games, mendengar musik, dan ngobrol lewat media sosial dengan sanak saudara.


memotret dengan ponsel itu praktis dan asyik!

Ponsel yang ia gunakan, milik saya. Penggunaannya harus dengan seizin saya. Namun, tetap saja, saya kerap khawatir, ia akan mengakses internet untuk mencari sendiri games baru, lalu tidak sengaja melihat konten negatif, misalnya pornografi. Saya sendiri punya pengalaman negatif. Saya mencari gambar untuk ilustrasi presentasi. Eh, di antara sekian gambar yang ditemukan mesin pencari, ada gambar tidak senonoh. Seraaam.
Itulah sebabnya, saya masih belum mengizinkan anak saya punya ponsel pribadi. Tapi, sampai kapan? Akan tiba saatnya, saya harus mengizinkannya memiliki ponsel sendiri. Pertama-tama, tentu untuk memudahkan komunikasi kami saat berjauhan. Kedua, ponsel akan memudahkannya mendapatkan informasi untuk mendukung pelajaran sekolah dan mengembangkan wawasannya. Melarangnya terus sama artinya saya mengabaikan haknya untuk mendapatkan informasi. Di sisi lain, saya wajib memberi perlindungan kepadanya. Duh, ponsel apa yang cocok untuk anak saya? Adakah ponsel yang ramah anak?

Acer Liquid Z320, Ponsel yang Ramah Anak
Setelah cari-cari info, saya jadi tahu tentang Acer Liquid Z320. Ponsel ini ramah anak karena aman diakses oleh anak-anak. Di dalamnya terdapat pre-installed fitur bernama Kids Center.

Kids Center memuat ribuan aplikasi multimedia yang edukatif. Anak bisa belajar, mendengar musik dan menonton video sesuai usianya. Ada pula aplikasi kamera. Anak bisa berkreasi membuat bingkai lucu saat memotret. Selain itu, ada pula coloring pages. Wah, anak saya pasti bakal girang banget. Pas banget dengan hobinya memotret dan mewarnai.

coloring pages di Kids Center Acer Liquid Z320

Namanya juga anak-anak, pasti ingin bermain terus. Padahal, batas maksimal screen time yang dianjurkan adalah 2 jam per hari.  Kelamaan main gadget berdampak negatif terhadap kesehatan. Bikin tubuh gak bergerak. Plus, mata kelelahan menatap layar. Solusinya, orang tua bisa mengatur setelan waktu penggunaan yang juga terdapat di Kids Center.
Kids Center juga menyediakan parental control. Orangtua dapat memantau penggunaan internet dan mencegah anak mengunduh konten dewasa atau membeli aplikasi baru tanpa izin. 


parental control

Tulisan ini diikutsertakan dalam Acer Liquid Z320 Blog Competition yang diadakan oleh Acer Indonesia.
 







Proses Kreatif Seri Kini Aku Tahu

Menulis adalah proses kreatif yang mengubah sebuah ide menjadi tulisan. Ide bisa datang dari mana saja
 
Para penulis yang sudah punya jam terbang tinggi, bilang, gunakan panca indramu saat menulis. Kalau saya memahami saran tersebut seperti ini. Kita pasti mengalami berbagai hal melalui indra-indra kita. Tidak hanya pengalaman pribadi, tetapi pengalaman orang lain. Misalnya lewat berita-berita yang kita baca di media cetak atau simak di televisi.
 
Saat menulis seri Kini Aku Tahu, saya memasukkan unsur-unsur tersebut, baik pengalaman saya pribadi maupun orang lain. 

Kue untuk Titi


Anak teman saya mengalami bullying di sekolah. Dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Pun sepupu saya. Dia sudah SMA. Belum lagi kasus-kasus lainnya dengan berbagai sebab. Media pernah memberitakan, ada anak yang mem-bully temannya gara-gara hal sepele, seperti es krim. 

Yang bikin hati tambah pilu, sering kali peristiwa bullying jadi "tontonan" gratis yang membuai para penontonnya. Seolah menyakiti orang lain itu wajar, lumrah dan sah-sah saja. Padahal, bullying itu harus diberantas.

  
Gara-gara Sonnabelle

Football lovers, pasti pernah tegang setengah mati waktu menyimak siaran pertandingannya, ya, kaaan? Saya sering melihat suami saya seperti itu. Berteriak keras, "Goool!" dan melompat dari tempat duduk saat pemain tim kesayangan berhasil menjebol pertahanan lawan.

Penggemar sinetron Indonesia atau telenovela Turki pasti suka ngedumel, sebel abis melihat tokoh antagonis punya segudang jurus bulus nan jahat untuk mencapai tujuannya. *Mertua saya salah satunya.

Atau, hati penyuka film romantis pasti sering ikut berbunga-bunga dan deg-degan saat menyaksikan bintang pujaan mengekspresikan rasa cintanya.*Saya banget, tuh.

Suatu hari, sepulang sekolah anak saya bercerita, "Teman-teman pada nonton Annabelle. Kenapa aku enggak boleh?" Ya jelas saja, saya tidak mengizinkan. Annabelle memang film yang mengisahkan boneka bernama sama. Tapi, boneka-nya kayak gimana dulu? Yaaa, namanya juga anak-anak. Mereka pikir, kalau di film ada tokoh anak-anak atau filmnya bernuansa anak-anak, sudah pasti cocok untuk mereka. Padahal, tidak selalu, kan.



Mei Mei Jadi Pengawas
Tahun 2013-2014, media ramai memberitakan tentang kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak. Pada tahun 2014, diberitakan pula bahwa pemerintah melabeli tahun tersebut dengan "Tahun Darurat Kekerasan Seksual pada Anak."

Selain riset media, saya juga mengikuti satu acara bincang-bincang mengenai pendidikan seks yang materinya dibawakan oleh Henny Wirawan. Ibu Henny adalah seorang psikolog yang telah menuliskan sejumlah buku tentang perempuan dan anak. Dua di antaranya adalah Anakku, Buah Hatiku dan Being Teens: Tanya Jawab Seputar Dunia Remaja.

Anak-anak perlu dibekali pengetahuan menjaga diri. Anak-anak harus tahu, mereka punya kedaulatan penuh atas tubuh mereka dan wajib menghormati kedaulatan tubuh orang lain. 


Misteri Sebuah Permen

Siapa sih yang tidak senang diberi sesuatu yang menyenangkan? Orang dewasa saja suka. Apalagi anak-anak.


Namun, tidak selamanya yang kelihatan menyenangkan itu baik adanya. Ada saja pihak-pihak yang ingin mencapai tujuan dengan cara-cara tidak terpuji. Masih ingat kasus pelajar yang teler setelah makan brownies?



Pesta Kostum Cika

“Mandi, Naaak,” seorang ibu atau ayah mengingatkan anaknya.

“Sebentar lagi. Masih main.”

Semenit, 2 menit,  5 menit kemudian, si anak enggak muncul-muncul.

“Naaak, mandi!” Suara si orang tua mulai naik 1 level.

Si anak datang dan masuk ke kamar mandi. 

Lima menit berlalu. Si anak tak kunjung keluar. Yang terdengar hanyalah suara, jebar, jebur, keplek, keplek, keplek.

“Cepat mandinya. Jangan buang-buang air!” 

Peristiwa di atas sering banget terjadi di rumah saya. Bagaimana di rumah Bunda dan Ayah?  
Rasanya, hampir semua anak suka main air. Enggak heran, momen berekreasi ke kolam renang pasti anak tunggu-tunggu. Main air seabrek-abrek gitu loh. 

Walau memikat, kolam renang bisa membahayakan keselamatan penggunanya jika tiada kehati-hatian. Anak saya pernah dua kali terpeleset di kolam renang karena kurang hati-hati.

---

Nah, Bunda dan Ayah yang mau bacakan isi kelima cerita di atas kepada buah hati tercinta, bisa membeli buku-bukunya Februari mendatang. Harganya Rp25.000 per judul. Para eyang, Tante atau Om juga boleh loh membaca buku-buku ini atau menghadiahi kepada cucu dan ponakan tersayang :)

Tschuess! 




Sepatu dan Nyeri Tumit

Ladies, mana yang lebih disukai, sepatu berhak atau sepatu datar?

Kalau melihat koleksi yang ditawarkan di toko-toko sepatu dan jumlah pemakainya, kemungkinan besar, peringkat sepatu bersol datar lebih tinggi.

Sepatu Datar
Salah satu kelebihan sepatu datar adalah lebih ringan. Pemakainya bisa bergerak lebih lincah. Enggak takut hak sepatu patah. Gak khawatir kaki terkilir. Bagi pengguna jasa transportasi massal, kemampuan bergerak lincah jadi keharusan.

Nyeri Tumit
Sejak hamil lalu punya anak, saya juga jadi penggemar sepatu datar. Alasannya ya itu tadi. Bagi saya, satu-satunya kekurangan sepatu teplek hanyalah tidak bisa menyaingi tinggi genangan air sehabis hujan lebat.

Sampai suatu hari, tumit saya terasa nyeri.
Saya kerahkan jurus oles, pijat dsbnya. Namun, nyeri gak hilang-hilang.

Sepatu Berhak
Usut punya usut di internet, akhirnya saya tahu kalau pemakaian sepatu teplek terus-menerus dalam jangka waktu lama justru memicu nyeri di tumit.

Kata para ahli, saat kita hendak berjalan, tumit adalah bagian pertama yang menjejak tanah. Artinya, tubuh bertumpu pada tumit. Baru kemudian, semua area kaki dan terakhir, pada jemari kaki.

Karena tumit jadi tumpuan seluruh tubuh itulah tumit memerlukan bantalan berupa hak untuk mengurangi tekanan.

Mau beli sepatu berhak 9 cm sebagai gantinya? Hmmm, itu sih cari masalah baru. Haknya cukup 3-5 cm saja kok.

Dan saran itu terbukti benar, lho. Sejak beralih ke sepatu berhak, nyeri di tumit tak terasa lagi. Keuntungan lainnya, kaki saya masih bisa tetap kering saat saya melewati genangan air. *efek musim hujan banget nih.

Alur dan Plot dalam Tulisan/Cerita



Sekilas, alur hampir sama dengan plot. Namun, ternyata keduanya berbeda dan berkaitan erat.

Plot adalah jalan cerita yang terdiri dari kumpulan peristiwa. Secara garis besar, plot terdiri dari pembukaan, pengenalan masalah, konflik dan penyelesaian masalah. 

Alur
Berbeda dari plot, alur adalah cara penyampaian unsur-unsur plot tadi. Ingat seloroh Teteh Syahrini  "Maju, mundur, maju, mundur, cantik, cantik"? Alur juga ada yang maju, mundur dan maju-mundur.

Alur maju tuh kalau peristiwa-peristiwa pembentuk cerita tadi disampaikan secara berurutan. Pertama, perkenalan. Dilanjutkan dengan munculnya masalah atau konflik sampai berakhir dengan penyelesaian masalahan. 

Contohnya film The Good Dino yang bikin banyak orang tua rela mengantre lama untuk membelikan tiket nonton buat anak-anaknya akhir tahun lalu. 

Kue untuk Cika, Gara-gara Sonabelle, Mei Mei Jadi Pengawas, Misteri Sebuah Permen, dan Pesta untuk Cika dalam seri Kini Aku Tahu juga menggunakan alur maju.




Buku cerita anak seri Kini Aku Tahu,
edar Februari 2016, 25 rb/eks/Foto: Dok. Pribadi



Lain halnya dengan alur mundur.  Jalan cerita biasanya justru dimulai dari konflik menuju penyelesaian. Setelah itu, baru kemudian penyebab timbulnya konflik dijelaskan. Terjadi flashback. Pembaca dibawa ke masa lalu. Hm, terus-terang, saya belum berhasil mengingat contohnya. Nanti saya update ya kalau sudah ada hasilnya.

Alur campuran kombinasi keduanya. Mula-mula kisah berjalan secara berurutan, sampai pada suatu waktu, terjadi flashback. Kemudian, kembali lagi ke masa kini dan berakhir pada penyelesaian. Alur ini ada di film produksi Disney berjudul Tangled.

Dari ketiga macam alur di atas, alur maju paling umum digunakan dan paling mudah diikuti.