Doa kepada sang Pemilik Langit dan Bumi

Minggu pagi, 25 Oktober 2015. Masih jam setengah tujuh kurang. Saya keluar rumah, hendak ke pasar. Langit kelabu. Kabut asap menggantung. Apakah ada yang membakar sampah? Sepertinya tidak. Kalau iya, pasti baunya sudah tercium.

"Gunung-gunung di Jawa juga terbakar karena saking kekeringan," kata suami saya. Ia rutin mengikuti berita.

Dalam hati, saya sangat khawatir dan sedih. Akankah kita dapat menanggulangi bencana asap karena kebakaran hutan ini? Akankah kabut asap menutupi seluruh Nusantara? Kapankah hujan akan turun? 
 
Benar saja. Pagi ini, saya membeli Kompas. Bara Api Kepung Lahan Nusantara, begitu bunyi headline-nya. Tragedi asap, begitu Kompas memberi judul pada secuil ilustrasi untuk menandakan halaman-halaman yang memberitakan tentang peristiwa kebakaran hutan.

Dalam perjalanan pagi ini, saya menuliskan sebuah doa permohonan. Doa kepada sang Pemilik langit dan bumi.

Doa kepada sang Pemilik Langit dan Bumi

Langit biru tak kami lihat lagi
sejak kabut asap menghampiri
o, Pemilik langit dan bumi
ampunilah kami
kasihanilah kami
manusia yang degil hati
yang menguras alam sesuka hati
iklim bumi jadi berantakan
kekeringan berkepanjangan
api melalap hutan-hutan

Kami mohon belas kasih-Mu
kami mohon ampunan-Mu
curahkanlah hujan-Mu
agar kami tak punah dari bumi-Mu
'tuk kembali melaksanakan perintah-Mu
merawat dan menjaga bumi tempat tinggal kami
sampai akhir hayat kami. 
Amin.

Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2015

Hidangan Ulang Tahun: Mi atau Kue Tart?

Kue tart dan hari ulang tahun rasanya sudah jadi bagian yang tak terpisahkan.
Orang yang berulang tahun akan disuguhi kue tart yang diberi lilin menyala.
Setelah keluarga selesai menyanyi, ia diharuskan meniup lilin sampai padam.
Sebelum meniup lilin, ia mengucapkan harapan atau impiannya dalam hati.

Kalau saya, tiup lilin, ya, tiup lilin saja. Gak make a wish. Soalnya, saya pasti didoakan keluarga dalam sesi doa bersama sebelum bersantap.

Mi Ulang Tahun

Mi Panjang Umur / Foto: s-media-cache-ak0.pinimg.com

Tradisi kue ulang tahun dan meniup lilin ternyata berasal dari Barat.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Nah, orang Tionghoa tidak mengenal tradisi makan kue tart dan tiup lilin, lho. Bahkan, mereka hanya merayakan hari ulang tahun saat mencapai umur tertentu.

Lalu apa dong pengganti kue tart?

Mi. Mi  menyimbolkan umur panjang. Mi disajikan sebagai tanda doa dan harapan, semoga yang berulang tahun berumur panjang. Yang berulang tahun, keluarga, teman, dan kerabat, makan mi.

Uniknya, waktu dimasak, mi tidak boleh terputus. Begitu pula saat disantap. Sluuurp, mi yang disuapkan ke dalam mulut, harus masuk semua. Tidak boleh terpotong dan jatuh ke piring. Selain jadi bad luck, menurut kebiasaan orang Tionghoa, orang yang melakukan hal itu dianggap tidak sopan.

Selamat Ulang Tahun, Ibu!
Sebulan lalu, ibu saya ulang tahun. Alih-alih membawa kue tart, saya membawakan pizza. Soalnya, menurut saya, makan pizza lebih mengenyangkan dan mengugah selera daripada makan kue tart.

Niat ibu saya membeli kue tart untuk seru-seruan tiup lilin dengan cucu juga batal. Kami malah makan lamian. Besoknya juga makan mi ayam bareng dengan teman segereja. Pokoknya, no birthday cake at all. It was birthday noodles time.

Begitulah. Meskipun kami bukan orang Tionghoa, ulang tahun ibu saya diramaikan dengan hidangan mi dan mi.

Tapi, apa pun hidangannya, yang penting doa agar ibu diberi kesehatan dan sukacita. Dan yang tak kalah penting, mensyukuri  kebersamaan dan kebaikan Sang Pencipta.

Herzlichen Glueckwunsch zum Geburtstag. Gott befohlen. Wir haben Dich lieb.




Surat Seorang Istri

Suamiku,

dua hari yang lalu, aku beres-beres lemari buku kita. Aku menemukan sebuah buku renungan. Sudah lama kubeli, tapi ternyata belum sempat kubaca. Penulisnya Andar Ismail.

Ada satu tulisannya yang membuatku jadi merenung. Pak Andar bilang, rumah tangga bahagia bukan karena jatuh cinta, melainkan karena bangun cinta.

Menurutnya, kita jatuh cinta dalam keadaan saling suka. Sebaliknya, kalau lagi jengkel, kita perlu bangun cinta. Seumur hidup.

Aku jadi terkenang waktu kita masih pacaran. Kau tidak marah waktu mendapati aku belum siap-siap. Padahal, kita sudah janjian dari kemarinnya untuk pergi jalan-jalan.

Bahkan, kau sangat sabar menungguku sejam berdandan. Ya, kau kan tahu, aku selalu ingin tampil rapi dan cantik.

Namun, setelah kita menikah, kau sering jengkel kalau aku membuatmu menunggu lama.

Kalau sudah kesal, kau akan menyuruh aku berangkat belakangan dengan anak-anak. Kau bilang, menunggu itu pekerjaan yang menyebalkan.

Menurutmu, aku tidak perlu lama-lama dandan. Tanpa make-up pun aku sudah cantik.

Waktu kita baru menikah, aku tidak keberatan merapikan kembali tumpukan pakaianmu yang amburadul gara-gara kau asal tarik sewaktu mengambil pakaian.

Tapi, sekarang? Pekerjaan itu sungguh membuatku kesal. Aku terpaksa mengomel karena aku capek berulang kali merapikan. Ada banyak pekerjaan rumah tangga lainnya yang harus kuselesaikan.

Itu baru dua contoh perbedaan kita yang membuat masing-masing kita kehilangan kesabaran. Belum lagi perbedaan lainnya.

Ah, Bapak Andar benar. Kita telah jatuh cinta. Kita telah sepakat untuk menikah. Aku jadi teman hidupmu dan kau jadi teman hidupku. Kini, tiba saatnya kita membangun cinta. Solusi atas masalah perbedaan di antara kita harus kita cari. Dengan begitu, aku senang, kau pun senang. Begitu pula anak-anak.

O, iya, di buku itu, Pak Andar juga kasih resep agar keluarga kita selamat dan bahagia: saling mengoreksi, berunding, menghargai, bertenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah, bertanggung jawab, memperhitungkan perasaan.

Kayaknya bagus juga kalau kita print resep itu dan kita bingkai sebagai pengingat.

Dengan cinta,
istrimu


Surat di atas adalah surat rekaan, meskipun pasti ada kemiripan dengan pengalaman pasutri di mana pun. 

Surat ini saya karang setelah saya membaca salah satu tulisan Andar Ismail dalam bukunya, Selamat Berteman.