Berpelukan Itu Sehat

"Aku jangan dipeluk, dong. Malu," kata anak saya tiba-tiba dua hari yang lalu.

Terheran-heran saya dibuatnya. Seingat saya, dia tidak pernah menolak kalau saya peluk sesaat sebelum kami berpisah di sekolahnya. Bahkan, dia antusias membalas pelukan dan ciuman pipi dari saya. "Memangnya kenapa?"

"Aku malu diliatin."

Ah, rupanya dia malu dan khawatir dianggap masih anak kecil.

"Dia ngeliatin kamu karena dia pengen juga dipeluk mamanya kali," saya memberi alasan.

Bahasa Cinta
Imbas dari kebiasaan orang Timur yang tidak ekspresif menyatakan perasaan, kebanyakan dari kita menganggap pelukan dan ciuman hanya milik anak bayi atau anak kecil. Begitu kita beranjak besar, seorang anak perempuan, misalnya tidak lagi memeluk ayahnya karena merasa malu. Begitu pula anak laki-laki, baik terhadap ibunya, apalagi terhadap ayahnya.

Sebaliknya, orang Barat, setidaknya dari pengamatan saya saat berinteraksi dengan mereka, tidak sungkan mengekspresikan rasa sayang atau cinta dengan memeluk dan mencium.

Nutrisi Jiwa
Teori yang berkaitan dengan kedekatan antara orangtua dan anak atau teori tentang kasih sayang ternyata ada sejarahnya. Selama paruh pertama abad ke-20, banyak psikolog berpendapat bahwa menunjukkan kasih sayang kepada anak itu enggak ada manfaatnya. Banyak teori tentang kasih sayang mengatakan bahwa hubungan antara ibu dan anak hanya sebatas pada pemenuhan kebutuhan fisik anak dari rasa lapar, haus dan sakit.

Nah, tahun 1950-an, seorang psikolog berkebangsaan Amerika bernama Harry Harlow mengadakan serangkaian eksprimen pada sejumlah anak monyet. Begitu lahir, anak-anak monyet tersebut langsung dipisahkan dari induk mereka dan “diasuh” oleh “ibu-ibu” buatan, ibu dari kawat dan ibu dari kain berbulu. Ibu dari kain berbulu ternyata lebih disukai oleh anak-anak monyet tersebut karena anak-anak monyet merasa nyaman memeluknya. Ada kontak fisik yang intim antara anak dan ibu.

Ketika anak-anak monyet tersebut dipisahkan dari “ibu” dan dilibatkan dalam situasi tidak mengenakkan, mereka jadi ketakutan. Sebaliknya, ketika dihadapkan pada situasi yang sama, tetapi sang “ibu” tetap ada, rasa takut anak-anak monyet itu berkurang. Bahkan, mereka berani mendekati benda yang tadinya membuat mereka takut.

Eksprimen Harry Harlow-lah yang membuktikan bahwa kasih sayang seorang ibu dan ayah sebagai orangtua bukanlah semata-mata pada pemenuhan kebutuhan fisik anak. Yang jauh lebih penting adalah pemenuhan kebutuhan emosional anak. Jika kebutuhan emosional anak terpenuhi, perkembangan jiwa dan kesehatan tubuh anak akan terjaga.

Mungkin itu pula sebabnya mengapa produsen film Teletubbies memasukkan adegan berpelukan. "Berpelukan ...," seru Laa Laa, Tingky Wingky, Dipsy, dan Po sambil terkekeh gembira disaksikan sang matahari berwajah bayi yang juga tertawa riang.

Pelukan Multimanfaat
Kontak fisik ternyata tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak, lho. Banyak riset membuktikan bahwa orang dewasa yang mendapat pelukan dari orang yang ia sayangi, juga memperoleh banyak manfaat. Tekanan darah menurun, rasa takut berkurang, kadar stres menurun. Pelukan juga membuat kita merasa berharga serta dicintai.

Saking bermanfaatnya pelukan, di Amerika bahkan ada yang namanya Hari Memeluk Nasional, lho. Wow! Hari Memeluk Nasional tersebut diadakan pertama kali pada tanggal 21 Januari 1986 atas inisiatif Kevin Zaborney. Hari yang unik ini diharapkan dapat mendorong orang Amerika lebih sering memeluk orang-orang yang mereka sayangi, baik keluarga maupun teman.

Gimana, mau mempraktikkan gerakan memeluk? Tapi, eits, tetap ada rambu-rambunya, ya. Tidak boleh memeluk sembarang orang. Bisa-bisa stempel telapak tangan atau bogem mentah mendarat di pipi. Hehehe.

* My little darling, I'll keep hugging you :)

Berpelukan!


Referensi: