[Book] The 7 Habits of Happy Kids



In our very competitive world, it is very common to relate happiness and success with wealth and popularity. No wonder, many people would do anything, by any means to be a winner. Cheating, stealing, bullying, deceiving, you name it.  Yes, our community lacks of  good characters.
Stephen R. Covey, the author of The Seven Habits of Highly Effective People, includes a note in The 7 Habits of Happy Kids, the book that was written by his son, Sean Covey. He states that character is the primary greatness, whereas the secondary is popularity, prestige and “success.” It is character that shapes our destiny and happiness.
In order to be happy, people must learn about responsibility, planning ahead, respect for others, teamwork, and balance. The learning process begins from childhood. Therefore, Sean Covey wrote The 7 Habits of Happy Kids. He wants to help children to understand the concept so that they can practise the 7 habits in their daily lives.
The 7 Habits of Happy Kids is very nice book that you can give to your children as a gift. You’ll find 7 stories. Each story illustrates one habit.
There is Parents’ Corner at the end of each story that helps parents or teachers to discuss the habit with children. Children will find there small steps that they take to practise the habits.  
Do you want your children grow happy with their lives and themselves, happy for living by good principles no matter what others say and having courage to say and do what’s right? I do.


192 pages, Rp149.000
In Indonesia, this book is published by Penerbit Libri. If you buy the book, you’ll get 2 language versions, indonesian and english.  




Jangan Ada Stereotip di Antara Kita

Buku punya sampul, manusia dianugerahi perawakan. Antara satu manusia dengan manusia yang lain, pasti ada perbedaan.  Ada yang kulitnya putih, sawo matang, kuning langsat, dan hitam. Sebagian bermata bulat, sebagian lagi bermata sipit. Ada yang rambutnya kriwil, ada yang lurus. Warna rambut pun berbeda: hitam, cokelat, atau pirang.

Ciri-ciri fisik tersebutlah yang umumnya dipakai untuk menandai suku bangsa atau ras tertentu. Orang Eropa biasanya berambut pirang atau cokelat, bermata bulat, berkulit putih dan bertubuh tinggi. Orang Asia biasanya berambut hitam, berkulit kuning langsat atau sawo matang dan bertubuh kecil.

"Bule, bule," begitu biasanya anak-anak kecil di kampung berbisik-bisik jika melihat perempuan atau laki-laki tinggi besar, berambut pirang, berkulit putih, dan bermata biru.

Gara-gara stereotip fisik pula, acap kali pramuniaga toko-toko menyapa, "Mampir, Ci," ketika  saya lewat.

"Iya, lho, aku kira kamu orang Cina Palembang," kata seorang kolega Tionghoa setelah tahu saya orang Batak tulen.

Yang memprihatinkan, ternyata ada stereotip fisik untuk pemeluk agama! Suatu hari saya naik kereta. Berhubung tata cara naik kereta sekarang berubah dari yang dulu pernah saya tahu, saya bertanya kepada seorang ibu di samping saya. Kemudian, obrolan merembet ke hal-hal lain.

Saya mengenalkan diri sebagai orang Batak. Ibu itu menyahut, "O, saya kira orang Cina. Tapi, saya sudah menduga, Mbak pasti orang Kristen."

Terheran-heran saya dibuat ibu itu. Saya tidak memakai satu pun atribut agama. Akhirnya saya berkesimpulan, ibu itu mengandalkan stereotip bahwa orang Tionghoa pasti Kristen. Padahal, belum tentu.Ada juga kan yang Islam, Budha dan Konghucu.

Saya juga pernah mendengar percakapan dua orang perempuan di dalam bus. Kebetulan mereka duduk persis di belakang saya.

"O, Ibu orang Batak? Saya enggak nyangka lho, Bu," ucap yang satu terheran-heran. "Ibu ngomongnya haluuus. Orang Batak kan kasar."

Sebagai orang Batak, dalam hati saya protes. Orang yang bersuara keras saat berbicara belum tentu orang kasar. Situasi di terminal yang berisik, tentu memaksa orang untuk setengah berteriak agar suaranya tidak tertelan suara mesin.

Kasarnya ucapan seseorang itu harus dinilai dari kosa kata yang dipilih. Misalnya, ketika ia mengucapkan kata-kata tidak senonoh atau mencatut nama-nama binatang.

Kedua, sikap kasar tidak ada relevansinya dengan status suku, ras, atau agama yang disandang seseorang. Banyak lho orang Batak yang bertutur kata halus.
   
Begitulah. Stereotip itu berbahaya. Stereotip bisa menghalangi kita membuka relasi yang baik dengan sesama. Stereotip bisa menyebabkan permusuhan.

Jaga Baik-Baik Paspormu



Tahu, kan, pepatah, “Don’t judge a book by its cover”? Bisa berarti konotatif 'jangan berprasangka, ah'. Bisa juga bermakna konotatif, 'kalau menilai buku, jangan cuma dari kavernya. Liat juga isinya.' 
Nah, di tulisan kali ini, saya mau bilang, “Don’t judge the book by its size.”  Yang dimaksud the book adalah pasport atau paspor. Itu lho, buku kecil, yang kalau di Indonesia, sampulnya berwarna hijau dan bergambar burung garuda. Di sisi dalam sampul belakang tertera data diri sang pemilik paspor. Ada juga keterangan resmi bahwa yang bersangkutan adalah warga dari negara yang mengeluarkan paspor.
Yep, meski kecil, paspor sangatlah berharga jika dikaitkan dengan perjalanan ke luar negeri. Jadi, kudu dijaga baik-baik.
Kenapa paspor berharga? Ini dia sebabnya:
  1. Ngurusnya cukup menyita waktu dan biaya *Berdasarkan pengalaman saya, ya. Waktu itu, saya mengurus sendiri secara manual. Dari segi waktu, saya terpaksa cuti dan di kantor imigrasi, antre lamaaa. Eits, jangan salah. Menunggu juga menguras energi, lho.

Kalau dari segi biaya, selain biaya pembuatan paspornya, tentu saja ada biaya jajan karena kelaparan saat menunggu panggilan nomor antrean … hihihihi.

  1. Enggak punya paspor,  jangan harap bisa mendapat visa alias izin masuk atau tinggal di negara lain.

  1. Kalau kita mengalami masalah saat berada di luar negeri, kita akan dirujuk ke kedutaan negara asal kita; kita bisa meminta bantuan ke kedutaan negara kita. Tentu saja, kita harus bisa menunjukkan paspor sebagai tanda pengenal kewarganegaraan. Plus, tanpa paspor, kita susah balik ke tanah air.

Di film Trade yang bertema human (woman) trafficking, ada adegan dua orang perempuan Eropa Timur yang sedang menuju ke Amerika untuk bekerja sebagai nanny/baby sitter. Tiba di bandara tujuan, sang agen biro kerja meminta mereka menyerahkan paspor. Salah satu dari pencari kerja itu tampak ragu saat menyerahkan paspornya. Keraguannya terbukti berujung pada hal buruk. Mereka disandera untuk kemudian dijual.

Para penculik tahu persis, tanpa paspor, kedua sandera mereka otomatis menjadi dua manusia tanpa identitas: tiada nama, tiada alamat domisili, tiada keterangan kewarganegaraan.  

  1. “Album” koleksi stempel negara
Paspor bisa jadi album stempel negara-negara yang pernah kita kunjungi.

O, iya, saya juga pernah punya pengalaman berkaitan dengan paspor. Kejadiannya sih sudah lama.
Suatu kali, saya bepergian ke kota lain di Jerman. Kala itu, saya naik kereta. Kondektur kereta datang mengecek tiket kereta tiap penumpang.
Selesai mengecek tiket saya, sang kondektur meminta saya menunjukkan paspor. Deg. Astaga, paspor saya tinggal di rumah!  Selain takut kehilangan paspor, saya belum ngeh kalau paspor bukan sekadar dokumen yang akan diperiksa di bandara atau perbatasan negara.
Dengan suara pelan saya menjawab, “Ich habe ihn nicht dabei.” Saya enggak bawa.
Zu Hause?”  Di rumah?
Saya mengangguk.
Pria paruh baya itu duduk di hadapan saya dan menatap saya lama, menyelidik.
Mungkin karena kasihan melihat sinar mata saya yang memelas, ABG berwajah polos  hahaha … akhirnya, ia bangkit dan berpesan agar lain kali saya selalu membawa serta paspor.
Kembali ke rumah, saya langsung menceritakan pengalaman itu kepada host parents.
Mereka minta maaf karena lupa memberi tahu bahwa saya harus selalu membawa paspor kalau bepergian.
Tuh, kaaan.

Buku .... untuk Siapa?


Image: javacompile

Minggu lalu saya dan keluarga ke toko buku Gramedia. Saya mau memenuhi janji kepada anak untuk membelikannya buku. Pada waktu bersamaan, lagi ada promo diskon 30% untuk buku-buku terbitan penerbit terbesar di Indonesia itu. Meskipun demikian, saya hanya punya budget Rp 200.000. Soalnya, saya sudah kadung beli buku via toko buku online. Hiks ... sedih.

Sesuai perjanjian, anak saya memilih 1 buku. Daaan, saya tergiur ketika melihat kembali buku yang pernah saya ingin beli, tapi gak jadi karena istri teman yang biasa memberi saya diskon 30%  melahirkan. *Diskon 30% berharga sekali, lho!

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang pentingnya buku itu untuk anak saya nanti, saya memutuskan untuk membeli buku itu juga. Cerita Peribahasa karya salah satu penulis Indonesia yang saya kagumi, Mbak Dian Kristiani. Saya pikir, nanti anak saya akan mendapat pelajaran peribahasa. Melalui cerita, tentu ia akan lebih mudah memahami makna peribahasa-peribahasa Indonesia.

Begitulah, rencana awal mencukupkan diri dengan 1 buku. Tapi, terus jadi 2 buku. Tahu-tahu, radar di mata saya menemukan sinyal tumpukan buku menggiurkan. Hmmm, buku dalam kemasan kotak berbentuk tas. Di dalamnya ada 5 buku.

Tapi, ini yang bikin saya ngiler. Buku tersebut dibuat ala petualangan lima sekawan dulu. Di buku itu, kita bisa membaca cerita dengan alur suka-suka alias tidak berurutan. Saya tergoda untuk membeli buku tersebut. Tapi, setelah saya kalkulasi, waaah, uang Rp200.000 enggak cukup. Dengan berat hati saya mengucapkan 'bye, bye' kepada buku itu.

Peristiwa itu membuat saya merenung. Mengapa banyak penerbit besar saat ini suka sekali menerbitkan buku-buku yang tebal, yang tentu saja mengakibatkan harga jual ikut tinggi? Siapa saja yang mereka bidik untuk jadi target pembaca utama? Apakah konsumen yang berbudget pas-pasan atau rendah berada di urutan terakhir?

Buku terakhir yang tadinya ingin saya beli, misalnya, bisa dijual satuan agar tidak memberatkan konsumen. Tapi, setelah saya tanyakan kepada penulisnya, buku itu memang dijual per paket. Tidak ada yang versi satuan. Saya saja yang masih bisa beli buku–syukur kepada sang Khalik–meski enggak sekaligus banyak, sedih tidak bisa beli buku yang diinginkan. Apalagi yang tidak sanggup membeli buku.

Dengan membaca (buku), wawasan kita makin luas, pengetahuan kita bertambah. Tetapi, ketika buku, apalagi buku untuk anak-anak, jadi barang mahal, bagaimana bisa generasi muda Indonesia bisa maju? Karena faktanya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Dan, perpustakaan masih sangat sedikit. Buku jadi barang tertier. 

Jika kondisi tersebut dibiarkan terus, buku akan makin jauh dari jangkauan anak-anak (masyarakat golongan ekonomi menengah dan bawah). Alhasil, kemiskinan pengetahuan akan tetap menjadi sahabat karib banyak orang.