Mpok Siti, Saya Kecewa!

Namanya mpok siti. Ia hanya bisa kita temui di ibukota RI. Tapi, mpok siti bukan seorang perempuan Betawi, lho. Nama itu adalah sebutan untuk Jakarta city tour bus. Disebut 'mpok' karena semua pengemudi bus tingkat ini perempuan. 'Siti' diambil dari kata city.

Bus Tur Kota Jakarta sudah beroperasi sejak Februari 2014. Tapi, saya dan keluarga baru merasakan jalan-jalan singkat dengan bus wisata tersebut Selasa lalu (21/7).

Dulu Jakarta juga punya bus tingkat /Foto: Dok. Pribadi
Sebelumnya, saya mencari situs resmi mpok siti. Saya ingin tahu lokasi halte pertama double decker itu. Halte pertama pasti masih kosong. Seluruh rute bakal dijalani. Namun, pencarian saya nihil.

Akun twitter mpok siti ada. Namun, pertanyaan saya tidak dijawab. Entahlah, mungkin mimin-nya sedang liburan Lebaran.

Kami memutuskan menunggu di halte balaikota. Mpok siti pasti kosong, pikir kami. Jalanan saja lengang. Banyak yang mudik.

Dugaan kami meleset. Calon penumpang sudah berjubel di halte.

Beginilah animo warga terhadap mpok siti /Foto: Marsaulina

Waktu menunggu bus 10 menit. Ketiadaan petugas halte dan tata tertib memicu kekacauan dan perilaku 'semau gue'. Begitu bus berhenti, para calon penumpang berebut naik. Tak ada urutan antrean: yang duluan menunggu, duluan naik. Yang berlaku justru premanisme: siapa cepat, dia dapat dengan cara serobot, dorong dan sikut.

Situasi di halte Transjakarta yang pakai antrean saja masih morat-marit, apalagi situasi di halte bus wisata kota yang tak kenal antrean. Bagaimana turis asing tertarik untuk menjajal? Mereka terbiasa tertib antre!

Yang lebih parah lagi, tidak ada aturan, berapa putaran tiap penumpang boleh ikuti. Tiga bus lewat, saya dan keluarga tak kunjung bisa naik. Bus berkapasitas 19 orang di lantai 1 dan 49 orang di lantai 2 itu selalu penuh. Kesimpulannya, kami tak mungkin bisa naik bersamaan. Harus sebagian-sebagian.

"Halte pertama di mana, Mas? Bus pertama keluar dari halte mana?" tanya saya.

"Dari mana-mana, Bu."

Saya sungguh tak paham jawaban itu. Bukankah lazim, ada halte pertama dan terakhir di tiap rute angkutan?

Patah arang, kami memutuskan untuk cabut dan makan siang. Sepanjang perjalanan, anak saya meratapi kekecewaannya. "Aku mau naik bus tingkat. Aku kan harus tulis buku harian. Aku belum punya pengalaman naik bus tingkat."

Iba, kakak saya mengajak kami menunggu bus wisata di halte Sarinah selesai makan siang. Kondisinya nyaris sebelas dua belas: banyak orang menunggu tanpa antrean.

Bus pertama dan kedua tak dapat kami naiki. Akhirnya, Tante dan anak saya berhasil naik bus ketiga. Tante saya dapat tempat duduk. Anak saya dipangkunya.

Namun, sejurus kemudian, mereka turun lagi. Petugas mengatakan, tiap orang harus duduk. Tidak boleh ada yang dipangku.

Sayang sekali, aturan tersebut tidak konsisten dijalankan. Saat bus berangkat, kami melihat, ada anak sebesar anak saya yang dipangku dalam bus itu.

Tak ingin gagal lagi dan diserobot orang-orang yang tak mau antre, saya dan keluarga menyusun strategi. Ketika bus datang, kami berhasil menempati spot strategis di depan pintu masuk. Kebetulan, yang turun, banyak.

"Delapan orang!" petugas pintu mengumumkan setelah mengecek jumlah tempat duduk yang tersedia.

Kami bertujuh masuk. Saat masuk, terjadi insiden kecil. Ibu saya sempat terjatuh karena didorong orang di belakangnya. Untunglah ibu saya tidak terluka.

Impian naik bus tingkat tercapai! / Foto: Marsaulina

Saya akui, bus wisata kota nyaman dikendarai. Bersih, sejuk dan semua duduk. Plus gratis. Namun, hanya itu kelebihannya.

Situasi di tingkat 2 bus wisata mpok siti / Foto: Dok. Pribadi

Penamaan bus wisata tidak lagi tepat karena tujuan pengadaan bus tidak tercapai. Tak ada lagi jasa pemandu. Pemandu yang bisa menjelaskan apa nama bangunan, monumen atau tempat yang dilewati, nilai historisnya, dll.; informasi yang bisa menambah wawasan penumpang.


Monas yang padat pengunjung / Foto: Marsaulina
Hayo, gedung apa ini? / Foto: Marsaulina

Hm, Pak Ahok dan dinas pariwisata DKI musti evaluasi nih soal bus wisata. Masihkah representatif dan pas disebut bus wisata keliling Jakarta? Untuk turis asing atau domestik. Pun bagi warga Jakarta sendiri agar mereka menyayangi Jakarta, kota mereka.

Selain itu, penyediaan fasilitas umum seyogianya tidak setengah hati. Alih-alih memajukan warga, malah mendorong warga jadi terbiasa dengan kondisi tidak tertib dan 'suka-suka hati gue-lah'.

----

Tips naik bus mpok siti:
1. Kalau bisa, hindari naik saat liburan kalau tidak ingin repot bersaing dengan sesama calon penumpang. Gak kenal antrean!
2. Saat hari libur, sebisa mungkin datang sebelum waktu operasional. Persaingan akan lebih longgar.
3. Penumpang lansia sebaiknya naik mpok siti di hari kerja saja demi keselamatan dan kenyamanan. Bus jauh lebih lowong. 
4. Bawa topi dan air minum untuk mengurangi efek negatif sengatan terik matahari.
5. Siap bergerak cepat dan lincah. Tapi gak pakai jurus beringas ala sikut dan dorong, ya.
6. Bawa kamera. Hanya saja, untuk dapat hasil optimal harus menggunakan kamera yang canggih. Mengambil foto saat bus bergerak, tentu tidak mudah.
7. Sebelum naik, cari tahu tentang bangunan dan tempat yang termasuk dalam rute supaya tidak bengong saat melewatinya. Kan gak ada pemandu ....
8. Kalau sudah naik, ingat turun, ya. 1x putaran aja kalau lagi banyak peminat. Gantian dong biar sama-sama bisa merasakan naik bus mpok siti.

Good Bye, Tan Ek Tjoan Cikini

Tadi pagi, saya pergi ke kantor naik kereta Commuter Line KAI. Mungkin, karena masih banyak yang masih dalam arus mudik, kereta tidak sepenuh seperti yang diceritakan teman-teman saya, pelanggan setia moda transportasi massal tersebut. Waktu tempuh, enggak pake lama! Tepat jam 6 lewat 7, saya tiba di Stasiun Gondangdia. Senang sih bisa cepat sampai. Tapi, mau ngepain ya di waktu yang tersisa sebelum jam kantor dimulai? Hmmm ....

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu harga kudapan di toko roti Tan Ek Tjoan Cikini. Soalnya, saya diminta untuk mengurus konsumsi satu acara di gereja.

Tiba di depan gedung Tan Ek Tjoan, saya mendapati toko itu tutup. Tidak ada tanda-tanda aktivitas. Plang nama toko roti tersebut juga tidak ada lagi. Padahal, seharusnya, toko tersebut sudah buka.

"Pak, ini Tan Ek Tjoan, kan?" tanya saya kepada seorang bapak yang kebetulan duduk di samping gedung tersebut.

"Oh, Tan Ek Tjoan sudah pindah ke Ciputat. Gedung ini sudah dijual. Sudah empat bulan yang lalu."

Saya kecewa. Pertama, saya harus cari toko roti lain supaya tugas saya sebagai seksi konsumsi terlaksana. Kedua, enggak ada lagi dong toko roti di sekitar Cikini. Enggak ada lagi tempat persinggahan saya untuk membeli kudapan, bekal jalan-jalan.

Selama ini, kalau saya dan keluarga ingin jalan-jalan ke daerah Jakarta Timur, kami pasti mampir di Tan Ek Tjoan Cikini. Beli lontong ayam, arem-arem, tahu, risol, keripik singkong, atau roti.

Bahkan, ketika saya mengandung, saya dan suami pasti mampir untuk membeli nasi uduk dan penganan lainnya. Nasinya, sih, sederhana. Porsinya sedang. Hanya berlaukkan sedikit potongan telur dadar dan diberi taburan bawang goreng dengan pelengkap bumbu kacang yang cukup pedas. Namun, kami suka.

Nasi uduk Tan Ek Tjoan pula yang saya pilih sebagai menu makan siang saat perayaan ulang tahun anak saya di Sekolah Minggu awal tahun ini lantaran saya bosan ayam goreng franchise. Saya juga ingin mengenalkan makanan khas Indonesia kepada anak-anak.

Penasaran, saya cari informasi mengenai alasan gedung Tan Ek Tjoan yang didirikan tahun 1920-an itu, dijual. Menurut situs travel kompas.com, di kawasan Cikini akan didirikan apartemen. Jadi, tanah tempat toko dan pabrik tersebut sudah dibeli pengembang. Sedangkan menurut Mario's Blog, Tan Ek Tjoan ditegur pemprov DKI. Menurut peraturan, pabrik tidak boleh berada di tengah kota karena akan menghabiskan persediaan air tanah. Belum lagi soal pajak industri dan perlistrikannya.

Kini, tak ada lagi Tan Ek Tjoan Cikini. Toko roti yang telah menjadi bagian sejarah kota Jakarta, tetapi tidak disahkan sebagai benda bersejarah yang harus dilestarikan.

Entah kapan bisa lagi mencicipi roti dan kudapan ala Tan Ek Tjoan. Good bye, Tan Ek Tjoan Cikini.



Gedung bekas toko roti Tan Ek Tjoan Cikini
menanti nasibnya / Foto: Dokumen pribadi


Referensi Online:
Roti Jadul Bertahan di Kota Modern, diakses tanggal 22 Juli 2015.

Jangan Pergi Tan Ek Tjoan, diakses tanggal 22 Juli 2015.



Petualangan Sehari di Dunia Transportasi


“Aku mau naik kereta,” pinta putri saya suatu hari. “Masa aku hanya sekali naik kereta?” 
Ya, ia benar. Ia memang baru naik kereta sekali, sekitar dua setengah tahun yang lalu. Aduh, malu jadinya.
Otak saya mulai bekerja keras. Dia mau naik naik kereta. Berarti harus ke arah kota.
Akhirnya, saya katakan kepada putri saya bahwa kami akan naik kereta dari Stasiun Kota ke Bogor. 
Sabtu itu pun tiba. Hati sempat ragu ketika langit tampak kelabu. Tuhan, beri kami cuaca yang baik, ya supaya kami bisa pergi, pinta saya dalam hati.
Tuhan bersedia mengabulkan. Setelah selesai beres-beres, saya dan putri saya siap berangkat.
“Petualangan dimulai,” kata saya kepada anak saya yang telah lengkap dengan peralatannya. Botol minum dan sebuah pulpen bertali yang menggantung di leher, topi di kepala serta sebuah buku kecil yang tipis di tangan. Bak seorang kuli tinta!
Di tepi jalan, kami naik mikrolet berwarna biru muda. Karena jalanan sepi, pak sopir mengemudikan kendaraannya bak raja jalanan.
Alhasil, anak saya terdiam sepanjang perjalanan. Untunglah anak saya tidak muntah akibat ulah pak sopir.
Setelah turun dari mikrolet, ia masih kuat berjalan kaki menuju halte busway Transjakarta.
Kapan, ya, Transjakarta membaik?
/ Sumber foto: m.republika.co.id

Untuk sampai ke Kota, kami harus naik Transjakarta dua kali. Mula-mula ke halte Harmoni, lalu lanjut ke halte Kota.
Saat naik Transjakarta menuju Harmoni, seorang perempuan muda berhijab langsung memberikan tempat duduknya. 
“Terima kasih, Mbak,” ucap saya penuh syukur. Sebagai pengguna setia Transjakarta, saya tahu kondisi angkutan massal ini. Transjakarta tidak ramah anak-anak. Tali-tali tempat berpegangan tingginya melebih tinggi anak-anak.
Petugas penjaga pintu busway pun kerap mengabaikan penumpang anak-anak. Pada hari itu, ada penumpang lain yang membawa anak sebaya anak saya. Petugas pintu tidak meminta penumpang dewasa untuk memberi tempat duduk kepada penumpang cilik itu. Bahkan, ketika anak itu jongkok sambil berpegangan pada tiang di dekat pintu, ia tidak ambil pusing. Duh, bikin hati kesal campur sedih.
Perjalanan menuju halte Kota lancar karena armada jurusan Blok M-Kota memang paling banyak dibandingkan jurusan lainnya. Waktu menunggu jadi pendek. Antrean juga cepat habis. Dalam waktu singkat, kami tiba di Kota.
Saya pengguna setia kereta waktu zaman kuliah. Makanya, saya kagum banget waktu tiba di Stasiun Kota. Perkeretaan mengalami banyak perubahan!
Yeay, naik kereta! / Foto: Dokumen pribadi
“Dulu, penumpang kereta pakai tiket kertas,” saya bercerita. Setelah menempelkan e-ticket seharga sepuluh ribu rupiah pada mesin, kami bisa masuk ke peron.
Tarif kereta sebenarnya lima ribu rupiah. Sisanya adalah jaminan agar kartu tidak hilang atau rusak. Jika kartu dikembalikan di loket, penumpang mendapatkan kembali lima ribu rupiah.
Dulu, pemakai topi harus bersiap-siap kehilangan topinya karena dicopet orang lewat jendela saat kereta berangkat. Sekarang, dijamin aman karena semua jendela tertutup rapat.
Dulu, kalau kereta masih baru jalan, penumpang yang ingin cepat-cepat, bisa melompat masuk. Sekarang, jangan coba-coba. Badan bisa terjepit di pintu otomatis!
“Kita ada di gerbong perempuan,” kata saya setelah kami berada di dalam kereta. Ya, sekarang perempuan bisa lebih tenang bepergian karena tersedia gerbong khusus. Letaknya di ujung depan dan belakang rangkaian.
 “Kok ada laki-laki?” tanya anak saya. Laki-laki yang ia maksud adalah dua anak laki-laki sebayanya yang duduk di seberangnya.
“O, kalau masih anak-anak boleh. Kan harus ditemani mamanya. Kalau orang besar, enggak boleh.”
Dalam perjalanan, anak saya lama-lama bosan. “Kita masih lama sampai?” tanyanya berulangkali. Maklum, ia harus duduk terus di dalam kereta selama satu jam. Tidak boleh nyanyi keras-keras, baring atau berselonjor seperti kalau bepergian dengan mobil pribadi. 
Akhirnya, kami tiba di Stasiun Bogor. Rencana A berubah jadi rencana B. Enggak jadi langsung balik ke Jakarta. Cari makan siang dulu, lalu lanjut ke Kebun Raya Bogor. Jauh-jauh ke Bogor, gitu lho. Masa hanya numpang duduk di kereta.
Tanya sana, tanya sini, akhirnya kami naik angkot hijau khas Bogor nomor 02. 
Angkot di Bogor / Sumber foto:  ipb.ac.id
Begitulah, rencana naik kereta membuahkan pengalaman naik empat jenis alat transportasi lainnya. Pasalnya, pulangnya, setelah turun dari kereta di Stasiun Gondangdia, kami menyempatkan naik bajaj. Mikrolet, busway, kereta, angkot colt, dan bajaj dalam sehari!


Angkutan oranye yang makin langka
/ Sumber foto: commons.wikimedia.org