A Child-(Un)Friendly Community/Nation: Part 1

Image (retouched): aconcordcarpenter.com
Being a mother, makes me aware, how we see children in our community.

Let's start with the smallest unit: family. I believe, today there are much more parents who treat their children as individuals. Children have the right to express their thoughts and opinions. But sometimes we forget to let them play a role on special occasions, even special family occasions  Many of us think, what can a child do? Yes, children often make disasters, but if we don't give them opportunities,  how can they  learn to do the right thing or to be confident?

I remember, last year we had a birthday lunch in a restaurant. It was my mother-in-law's birthday.

"Let me say the prayer," my 4-years-old daughter offered herself.
To her, saying a prayer for adults is an important role. She always feels happy and is proud to do that.

Instead giving her the chance, my father-in-law did the job. It was understandable. It was his beloved wife's birthday. A very, very important day. He had to say a prayer of thanks.

But, my daughter felt disappointed.

Yesterday, we went to the same restaurant in celebrating my mother-in-law's another birthday.

"You say the prayer," my fahter-in-law asked my husband.

"Me, me, me!" shouted my daughter, defending her right to say a prayer.

"Okay. You pray first, then Daddy," I said, trying to fulfill her wish.

She agreed and began to sing her prologue, a short song, then said her very simple prayer, "Be with us, we want to eat. Amen."

A very short prayer that means a lot to her.

Very often we also neglect the fact that children have feelings. too. We ask children to apologize for their wrongs, but we don't want to say sorry for our mistakes.

Some relatives asked my daughter to be one of their flower girls, at the wedding in the morning and at the reception at night. After having carried out her first task, my daughter refused to take a nap. She was very eager to be a flower girl again.

But what did happen that night? The event comittee cancelled the task without telling anything to us. I was so disappointed and very angry. I didn't want to come twice a day if only they didn't ask us to. What made me angrier was that they didn't say sorry, especially to my daughter. Not a single word, until I sent an SMS, telling them to say sorry to her.

I myself, sometimes forget to say sorry. Then my daughter will remind me, "What do you have to say to me, Mommy?" 

Feeling ashamed, I'll say to her, "I'm sorry."

Karakter, Pentingkah?



Image: qbq.com

Dulu, seseorang dianggap berprestasi jika nilai-nilai ulangan/ujiannya bagus, masuk kategori peringkat 5 besar di kelas, atau menjadi juara umum di sekolah. Singkat kata, nilai akademisnya memuaskan. 

Kenyataan membuktikan, prestasi akademis dan kemampuan intelektual yang tinggi tidaklah cukup. Tanpa karakter yang baik, intelegensi lebih banyak mendatangkan keburukan daripada kebaikan.   

Kini, kita banyak mendapati berita-berita di media massa tentang orang­-orangapa pun profesi merekayang hanya mementingkan diri sendiri dan mencari keuntungan pribadi dengan menggunakan segala cara. Politisi yang korupsi dan merugikan negara. Dokter yang malpraktik, yang mencoreng nama baik profesi dan RS tempat dia bekerja. Pemborong bangunan yang membangun gedung dengan menurunkan kualitas bahan bangunan sehingga ujung-ujungnya bangunan cepat rusak atau ambruk. Pedagang yang menaikkan terlebih dulu harga jualannya dua kali lipat baru memberi diskon 50%. Direktur yang otoriter dan selalu beranggapan dirinyalah yang paling benar dan paling tahu tentang segala hal sehingga suasana kerja jadi tidak kondusif. Presiden yang diktator dan tidak mensejahterakan bangsa.

Pertanyaannya, siapakah yang bertanggung jawab memberikan pendidikan karakter? Di manakah orang harus memupuk kepribadiannya agar tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, peduli sesama, menjunjung tinggi kebenaran, jujur, disiplin, ulet, dan karakter baik lainnya? Jawabannya: lingkungan rumah, lingkungan keagamaan, dan lingkungan akademis.

Dunia pendidikan seyogianya selalu memasukkan unsur pendidikan karakter dalam kegiatan belajar mengajarnya. Bahkan, sejak dini. Sebab, dalam dunia pekerjaan, orang tidak lagi hanya berurusan dengan dirinya, tetapi dengan orang lain, apa pun bidang pekerjaannya. Ada proses yang menuntut tanggung jawab pribadi, tanggung jawab secara tim dan tanggung jawab terhadap orang lain. 

Pembentukan karakter yang akan dibawa seumur hidup, ini, bukanlah sesuatu yang instan. Perlu proses yang panjang.

Di tingkat TK, anak misalnya, bisa belajar berhitung sambil berbagi. Anak punya 1 buah pisang. Salah satu temannya  juga ingin makan pisang. Maka, guru bisa mengajarkan anak untuk membagi dua pisang tersebut. 

Di tingkat SD, siswa tidak semata-mata diajarkan bahwa 2+2 = 4 atau 5x2 = 10. Tetapi, siswa diajak mempraktikkan formula tersebut dalam praktik keseharian. Di sekolah bisa dibuat kantin kejujuran yang tidak ada penjaganya. Siswa bisa belajar kejujuran. Jika makan 2 potong pisang goreng seharga Rp1000, maka siswa harus membayar Rp2.000. Jika membayar dengan uang Rp5.000, maka siswa mengambil kembalian sebesar Rp3.000. Tidak lebih dan tidak kurang.

Contoh lainnya, pemberian penghargaan kepada siswa teladan. Apakah yang berhak mendapat penghargaan hanyalah siswa yang berprestasi akademis? Apakah sekolah pernah memberikan predikat siswa teladan kepada anak didiknya yang misalnya, suka menolong orang lain (dalam hal positif tentunya) atau antimenyontek?

Dunia pendidikan harus bisa menyiapkan karakter anak-anak didiknya sehingga kelak menjadi pribadi-pribadi yang berkepribadian matang dalam menjalankan profesi pilihannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Kelak saat jadi penulis, seseoarng bisa mempertanggungjawabkan isi tulisannya kepada pembaca. Tulisannya berdampak positif terhadap pembacanya. Dan dalam proses pembuatannya, penulis dapat bekerja sama dengan baik dengan berbagai pihak, seperti ilustator dan editor. Atau, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi dokter, ia  akan menjunjung tinggi sumpah profesinya. Menjalankan tugas dengan bermoral, mengutamakan kesehatan pasien, serta membaktikan diri pada kemanusiaan. 

Mustahil? Tidak. Asal ada kemauan, pasti bisa.

Mari Menyusui Anak Kita (2)

Image: worldbreastfeedingweek.net
Perjuangan untuk memberikan ASI ekslusif bagi sang buah hati belum selesai. Tiga bulan kemudian, para wanita pekerja harus menyesuaikan diri terhadap perubahan rutinitas.   

Botol-botol kaca untuk menampung ASIP, blue ice, tas pendingin, dan pompa ASI (bagi ibu yang kesulitan memerah ASI secara manual) adalah perlengkapan wajib yang harus dibawa setiap hari ke tempat kerja. Bahkan ada pula ibu yang membawa termos es yang kebetulan sudah dimiliki sejak dulu agar tidak perlu menambah pengeluaran untuk membeli tas pendingin. Singkat kata, bawaan ibu menyusui yang bekerja, otomatis bertambah.

Selain bawaan yang bertambah, para ibu menyusui harus menghadapi beberapa tantangan berikut:
1. Di mana saya bisa memerah?
2. Di mana saya bisa menyimpan blue ice dan ASIP?
3. Kapan saja saya harus pergi memerah? Apakah saya boleh meninggalkan rapat?

Saat ini, ada rekan kerja saya yang baru kembali masuk kerja. Saya pernah bertemu dengannya di toilet. Saya terheran-heran mendengar perkataannya bahwa ia hendak memerah ASI!  Betapa mengerikan! Toilet yang ditujukan untuk membuang hajat dijadikan tempat untuk memerah makanan bergizi bagi bayi yang masih rentan terkena penyakit! 

Dengan lirih, rekan saya itu memberi alasan, "Habis enggak ada tempat lain." 
Sebelumnya, dia berada di ruang perpustakaan. Namun, karena ada orang yang hendak masuk, dia jadi tidak enak sendiri. Terpaksa dia berhenti memerah dan melanjutkkan kegiatannya di toilet.

"Coba cari ruang yang tidak terpakai," saya berusaha memberi solusi karena saya berpendirian bahwa toilet harus dihapus dari daftar alternatif tempat memerah.

Menyedihkan, bukan? Ketiadaan ruangan untuk memerah adalah bukti pengabaian terhadap hak karyawan wanita yang sedang menyusui. Memerah ASI tidak pernah jadi wacana (penting). Perusahaan tidak pernah berpikir bahwa jika ASI yang sudah terkontaminasi dengan kuman atau virus, diberikan kepada bayi, bayi akan jatuh sakit. Dan jika bayi jatuh sakit, sang ibu jadi tidak bisa masuk kerja atau sulit berkonsentrasi saat bekerja.  

Saya sendiri termasuk ibu menyusui yang beruntung. Saya tidak mengalami banyak kesulitan. Kebetulan, kala itu saya tidak sendirian. Kedua teman saya juga sedang menyusui. Kami memerah di ruang rapat atau di ruang kecil yang digunakan jadi mushola. 

Ketika kami pindah ruangan, kami sempat mengalami kesulitan mencari tempat memerah. Tidak ada sudut yang bisa disulap. Kemudian, kami dikabari bahwa perusahaan menyediakan ruangan khusus. Namun, ternyata ruangan itu tidak layak dijadikan ruangan memerah. Kurang terawat karena sering digunakan untuk ruang merokok. Ketidaknyamanan itu jelas mempengaruhi kondisi psikis saya saat memerah. Otomatis ASIP yang saya peroleh juga tidak maksimal karena saya stres. Kedua teman saya sependapat.

Dalam situasi terjepit, kami bertiga memutar otak. Alam berpihak kepada kami bertiga. Kami mendapat ide untuk menyulap celah kecil di belakang filing cabinet sang sekretaris menjadi ruang memerah. Atasnya yang terbuka, kami beri kertas cokelat lebar yang biasa dijadikan pembungkus paket. 

Berbeda dari rekan saya yang saya sebut di atas, saya tidak harus mondar-mandir ke ruangan orang untuk menitipkan ASIP. Unit saya punya lemari es sehingga begitu saya selesai memerah, saya bisa langsung menyimpannya di sana. Begitu pula dengan blue ice.

Pun ketika saya harus ikut rapat-rapat, atasan saya (kebetulan wanita juga) tidak pernah merasa keberatan kalau saya bisa tiba-tiba menghilang karena harus memerah (Dulu, saya disarankan untuk memerah 2-3 jam sekali untuk menstimulasi produksi ASI. Payudara harus dikosongkan secara berkala, agar terisi kembali. Jika payudara dibiarkan penuh, produksi ASi otomatis melambat).

Saya sendiri juga punya kebiasaan permisi jika harus memerah. Saya tidak berkata, "Boleh saya memerah dulu?" melainkan, "Saya izin memerah dulu, ya." 

Mungkin bagi sebagian orang, ucapan saya terkesan arogan. Namun, saya tidak bermaksud sama sekali untuk menjadi sombong. Saya hanya menekankan bahwa memerah ASI agar anak saya bisa memperoleh ASI ekslusif adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. 

Di tengah lingkungan yang tidak ramah terhadap gerakan menyusui (khususnya di banyak perusahaan), kita para wanita pekerja yang sedang menyusui-lah yang harus terlebih dulu menunjukkan kesungguhan kita. Jadi, tunggu apa lagi? Mari menyusui anak kita! 


Mari Menyusui Anak Kita (1)

Image: worldbreastfeedingweek.net
Kemampuan untuk menyusui adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada tiap wanita yang baru melahirkan buah hatinya. Namun, menyusui membutuhkan kesiapan dan latihan. Saat mengandung, Ibu perlu mendapat informasi sebanyak-banyaknya mengenai ASI. Ibu mengandung perlu tahu apa manfaat ASI bagi pertumbuhan anak, bagaimana cara agar payudara bisa tetap memproduksi ASI, pola makan seperti apa yang bermanfaat bagi produksi ASI, faktor-faktor apalagi yang mempengaruhi produksi ASI, dll. Dengan begitu, ketika melahirkan, ibu siap untuk menyusui. 

Anak pun harus belajar menyusu. Proses belajar bisa dilakukan melalui tindakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Begitu lahir, anak langsung diletakkan pada dada sang ibu dan dibiarkan mencari puting sang ibu untuk menyusu.

Ibu dan bayi sama-sama mendapatkan manfaat tambahan dari kegiatan IMD. Perdarahan Ibu akan terhenti. Sang bayi akan mendapatkan kehangatan yang ia dapat saat masih dalam kandungan sekaligus memperoleh kolostrum dan ASI. Kolostrum sendiri adalah Air Susu Ibu yang pertama kali keluar setelah seorang wanita melahirkan. Kolostrum berwarna kekuningan dan kaya akan zat kekebalan tubuh serta protein.

Menyusui adalah perjuangan. Menyusui membutuhkan kemauan, tekad, dan kerja keras. Tentu saja dukungan dari lingkungan juga memiliki peranan penting. Inilah kesimpulan yang saya tarik dari pengalaman saya sebagai ibu menyusui. 
 
Lima tahun yang lalu, buah hati saya lahir ke dunia. Sayang sekali, kala itu saya tidak terpikir untuk memberi anak saya kesempatan untuk menjalani IMD. Dokter kandungan saya tidak mengizinkan IMD di ruang operasinya.

Tiba di ruang rawat inap, saya harus berderai air mata ketika sang perawat tanpa perasaan membantu saya memerah ASI lantaran saya harus minum obat penurun tekanan darah tinggi. Dokter anak tidak menganjurkan saya memberikan ASI selama saya masih mengonsumsi obat hipertensi. Sakitnya luar biasa. Penderitaan itu tak berbuah hasil. ASI saya tetap tidak keluar.

Produksi ASI yang menumpuk membuat payudara saya membengkak. Pompa manual tidak pun tidak berhasil mengeluarkan ASI dari pabriknya. Akhirnya, saya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pompa elektrik yang sudah terbukti daya pakainya. Ada harga, ada kualitas. ASI pun berhasil dikeluarkan. Rasa sakit yang mendera langsung hilang. Hati terasa plong.

Ketika mengandung, saya bertekad akan menyusui anak saya. Setelah mendapat izin menghentikan konsumsi obat hipertensi,  saya memutuskan untuk menyusui anak saya. Begitu saya tiba diizinkan pulang, saya langsung menyingkirkan botol dot dan susu formula anak saya. Saya mulai belajar menyusui anak saya. 

Merasa belum terampil, saya memutuskan untuk menemui orang-orang yang dapat membantu saya. Saya pergi ke balkesmas RS. Carolus di Salemba, bersama suami dan buah hati kami.

Saya sangat bersyukur karena saya membuat pilihan yang tepat. Di sana saya bertemu dengan orang-orang yang sangat mendukung niat saya. Saya diajari cara mengurut payudara yang akan membantu kelancaran produksi ASI. Saya juga dibekali informasi untuk mempersiapkan ASI Perah (ASIP) untuk persediaan kala saya kembali bekerja.

Tak hanya itu, kami pun diajari bagaimana memberi bayi kami ASIP dengan sendok atau gelas takar mini yang terbuat dari plastik. Cara tersebut penting dikenalkan kepada anak agar anak tidak perlu minum menggunakan botol. Dot botol cenderung membuat anak "manja". Lubang pada dot membuat anak tidak perlu bekerja keras saat menghisap ASIP. Hal tersebut berbanding terbalik dengan proses menyusu pada puting ibu. Tenaga yang dikeluarkan lebih besar. Jika terbiasa dengan kemudahan menyusu pada dot, anak akan malas menyusu langsung pada ibu. Akibatnya, payudara kurang terstimulasi untuk memproduksi ASI dan jumlah ASI jadi menurun. 

Para konselor juga menghimbau agar suami mendukung istri saat menyusui. Misalnya, dengan ikut bangun saat istri menyusui, kemudian memijat punggung sang istri. Jadi, sebutan suami siaga tidak hanya berlaku ketika istri mengandung, namun juga paskakelahiran sang buah hati.

"Alah bisa karena biasa." Kita pasti sudah sering mendengar peribahasa ini. Seperti kegiatan lain, untuk terampil menyusui, para ibu harus tekun berlatih. Tanpa ketekunan, niat baik untuk memberikan asupan ASI eksklusif akan sulit terwujud. Bayangkan, di kala rasa kantuk mendera hebat, kita diharuskan bangun untuk menyusui bayi kita. Belum lagi, jika kita tidak terbiasa menyusui dengan posisi berbaring. Punggung dan lengan terasa pegal. Waktu tidur terganggu. Tugas menyusui langsung tidak bisa kita wakilkan kepada suami.

"Bos" Jadi-jadian

 
Image: www.cafepress.com

Seperti biasa, tiba di kantor, saya langsung menuju pantry. Saya bermaksud mengisi wadah-wadah minuman saya dengan air dari dispenser. Namun, di sana, seorang rekan mengabarkan, "Air habis." 
 
Saya melirik 4 galon air yang masih tersegel, yang berjejer di dinding. Bersama saya, ada tiga rekan laki-laki juga berada di sana. Pria-pria muda bertubuh besar. Namun, tak seorang pun dari para pria itu yang menunjukkan tanda-tanda hendak mengangkat galon yang masih penuh itu. 

"Gantiin, dong," celetuk saya akhirnya kepada salah seorang rekan.

Bibirnya membentuk senyuman. "Aduh, saya enggak kuat ngangkat."

"Oh iya, ya. Rambut Mas kan enggak ada. Jadi enggak punya kekuatan," canda saya.

"Betul. Kayak Simson."

Tak mau menyerah, saya mencoba lagi "membujuk". "Eh, enggak, ding. Justru kebalikan dari Simson. Karena enggak punya rambut, malah kuat."

Ia kembali tersenyum, kemudian berlalu sambil membawa gelas kosongnya kembali ke ruangan.

Ya sudah, sabar dulu deh menunggu, batin saya. Sambil kembali ke ruangan, saya melihat di kejauhan, office boy kami sedang sibuk mem-vakuum ruangan bos.

Lima menit kemudian, dari jendela yang memisahkan ruangan kerja dengan ruang pantry, saya melihat seorang rekan pria lainnya membuka segel galon, kemudian meletakkan galon bervolume 19 liter air itu ke atas dispenser.

Saya pun bergegas menyusul.

"Kamu memang rekan teladan," puji saya tulus. "Tadi saya si anu* pasang galon baru, dia bilang, 'enggak kuat'." 

 "Di sini kan biasa. Merasa terhina sekali kalau harus mengganti galon air. Harga diri tinggi padahal digaji rendah." Komentarnya tajam dan pedas.

Saya tercenung. Pendapatnya benar. Kita kerap merasa terhina jika harus mengerjakan tugas orang lain, orang yang secara jabatan tidak "sejajar" dengan kita.

Di kantor lama maupun di kantor baru, saya sering melihat peristiwa serupa. Di kantor lama saya, mencuci peralatan makan karyawan adalah salah satu tugas office boy. Di kantor baru saya, tidak demikian. Namun, pada praktiknya, seringkali karyawan membiarkan piring, gelas, atau sendoknya yang kotor, tergeletak di bak cuci piring begitu saja, sekalipun mereka meminjam peralatan itu. Tindakan yang mencerminkan kesombongan diri. Menganggap status dan jabatan dirinya lebih tinggi dari sang office boy

Saya jadi ingat satu cerita di Alkitab. Cerita tentang Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya (Yohanes 13:1-20). Dalam tradisi Yahudi, jika seseorang mengundang tamu ke rumahnya, maka sang tuan rumah akan meminta seorang pelayan (nonYahudi) membasuh kaki tamu tersebut. Sebab, kaki para tamu sudah kotor terkena debu saat menempuh perjalanan. Pelayanlah yang mendapat tugas tersebut, bukan sang tuan rumah. Informasi lengkapnya, lihat di sini. Namun, Yesus mendobrak tradisi itu. Ia, sang Guru dan Tuhan, membasuh kaki murid-murid-Nya. Yesus tidak merasa terhina membasuh kaki para murid-Nya. Sebaliknya, Ia menunjukkan sikap yang rendah hati, melayani, dan mengasihi. 

Melayani memang membutuhkan kerendahan hati. Bersediakah kita melayani, meskipun ada boy office di kantor, baby sitter/nanny, atau asisten rumah tangga di rumah? 


*nama saya samarkan demi menjaga nama baik sang rekan. 

Thank You (2)


Image: http://www.picdesi.com


Thank you,
                    
     my Heavenly Father, 
                                        for the day today,
                                        for the air I breath,
                                        for the eyes to see wonderful persons I call 'family' and 'friends',
                                        for the chance to work,
                                        for the love You show in many ways, unconditionally,
                                        for other things that I forget to be thankful.... 

     my father in Heaven,
                                       for the lessons about sincerity and dignity,
                                       for the love you showed in many ways, unconditionally,
                                       for other things that I forget to be thankful....

     my mother,  
                                       for always being there to help me do my things, little and big
                                       for the patience, as deep as the sea,
                                       for the love you show in many ways, unconditionally,
                                       for other things that I forget to be thankful....

     my husband,
                                      for taking care of me,
                                      for the love you show in many ways, unconditionally,
                                      for other things that I forget to be thankful....

     my daughter,
                                       for your smiles, laughters, and hugs,
                                       for the love you show in many ways, unconditionally,
                                       for other things that I forget to be thankful....

     my sisters and brother,
                                       for the joy and sadness we've shared,
                                       for the love you show in many ways, unconditionally,
                                       for other things that I forget to be thankful....

Thank you, thank you, thank you for everything.

Thank You (1)

 
Image: www.corydoiron.com

"What are gonna say to your uncle, Honey?" a woman reminds her little boy who just got a bar of chocolate from his uncle. 

 For a second, the boy looks starled, as if he has been stunged by a bee. "Ups." 

 Then, the handsome boy gives his best smile to his uncle. "Thank you, Uncle Jeffrey." 

We all used to be children. Our parents, teachers, and other grown-ups around us, have taught us to respect others. We learned that lesson. 

Time flies and we become grown-ups. We teach our children, nephews/nieces, students, or our little neighboors, to say "thank you" everytime they get something from someone. But in the same time, we tend to "forget" that golden rule. We do know the idea, but we aren't eager to put it into practice, even toward our family members: parent(s), children, brothers, sisters, spouse, grandchildren, nephew(s), niece(s).

"Thank you", it's only two words, two simple words that mean a lot. Two simple words that can change our lives and others'. Two words that express our gratitude, love, and respect.

All of us want to be loved. Are we willing to love others, too?
All of us want to be respected. Are we willing to respect others, too? 
Have you said "Thank you?" today? 


*One of my thoughts on the verse Matthew 7:12 (Today's English Version): "Do for others what you want them to do for you: this is the meaning of the Law of Moses and of the teachings of the prophets."

Penulisan Kata

Keliru                    Benar


alpukat                          avokad

anugrah                        anugerah

antri                              antre

apotik                            apotek

contek                           sontek

detil                               detail
 
hembus                         embus

himpit                            impit

ijin                                 izin

isteri                             istri

jaman                           zaman

jenius                           genius

jerapah                        zarafah 

komplit                         komplet

kwalitas                        kualitas

kwantitas                      kuantitas

nasehat                        nasihat  

negri                             negeri 

pedesaan                     perdesaan

pondasi                        fondasi

praktek                         praktik

pinguin                         penguin

sekedar                        sekadar 

sekertaris                     sekretaris

trampil                          terampil

tentram                        tenteram