Kamis, 10 September 2015

Memupuk Cita-Cita Menuju Universitas Indonesia


Siapapun pasti ingin masuk universitas negeri. Meskipun sekarang biaya masuk dan SPP berlipat-lipat ganda dari biaya dulu kala, tetap saja universitas negeri diminati.

Nah, sepupu saya pengen banget bisa masuk UI. Makanya, waktu dia minta mamanya nemenin ke sana, saya jadi relawan pemandu jalan abal-abal. *nyengir kuda. Abal-abal karena meskipun alumni UI, saya sebetulnya gak paham situasi seantero kampus itu. Pulang kuliah, harus ke tempat les. Kalau enggak, kangen rumah.

Apalagi sekarang, pasti ada banyak perubahan.

Alasan kedua, saya mau nunjukin kepada anak saya tempat saya dulu menuntut ilmu.

Alasan ketiga, jalan-jalan alternatif pengisi liburan sekolah; daripada masuk pusat perbelanjaan atau nonton DVD.

UI, Kami Datang!
Jadilah kami berempat anak beranak pergi ke UI. Rencana awal naik kereta. Berhubung tidak yakin apakah bus kuning (bus mahasiswa) beroperasi pada hari Sabtu, tante saya memutuskan naik taksi saja gara-gara dengar cerita saya kalau UI luas banget.

Udah pada tahu, kan, hobi orang sekarang. Yup, betul sekali: nge-selfie. Apalagi didukung dengan teknologi yang semakin canggih dan praktis. Takjub melihat postingan temannya, "Kita ke danau dulu!" pinta sepupu saya.

Yang saya tahu, danau di ujung. Tapi, sopir taksi membawa kami lewat rute yang dulu tak biasa saya pilih. Ya sudahlah, ngikut aja. Mana di pintu gerbang tidak ada selebaran peta lagi *ya kali aja disediakan. Soalnya, UI memang sering dijadikan tempat wisata akhir pekan.

Rektorat
Sesi foto di sebuah taman membuat kami mendarat di depan gedung tinggi ini. Namanya rektorat.


Foto: Ulina

Danau
Setelah itu, kami mencari balairung. Pucuk dicinta, ulam tiba. Tak disangka-sangka, kami malah menemukan danau. Sesi potret pun dimulai. Tante saya pasrah aja nungguin. Udah biasa lihat kelakuan anak zaman sekarang.

yeay, akhirnya bisa fotoan di tepi danau / Foto: Dok. pribadi


Perpustakaan

Eh, ternyata ada perpustakaan di dekat danau. Pas zaman saya kuliah, belum ada. Wow! Saya geleng-geleng kepala. Bentuk gedungnya modern banget. Di sampingnya ada cafe Starbucks dan toko buku Times. Waks, uang saku anak UI sekarang berapa ya???


Perpustakaan UI terbuka juga kok untuk khalayak umum.  Tapi, koleksi buku tidak boleh dibawa pulang alias dipinjam. Hanya boleh dibaca di tempat atau difotokopi atau difoto-foto pakai kamera.


 Mau masuk ke perpustakaan? Ini caranya:

1. Registrasi di bagian Informasi.

2. Membayar biaya kunjungan.

    - Pelajar Rp2.000/orang/hari, 
       Rp10.000/orang/7 hari berturut-turut,    
       Rp40.000/orang/30 hari berturut- 
       turut

    - Masyarakat umum (termasuk alumni    
       UI) Rp5.000/orang/hari, Rp25.000 
       orang/7 hari berturut-turut,  
       Rp100.000/orang/30 hari berturut- 
       turut.


Nah, setelah mendaftar dan membayar, pengunjung harus mengenakan stiker penanda di dada.

stiker penanda untuk pengunjung luar / Foto: Dok. pribadi
Kalau ingat perpustakaan dulu, saya ngiri banget sama mahasiswa UI sekarang. Fasilitasnya jauh lebih baik.


pengunjung bisa naik elevator atau jalan kaki ke atas
menyusuri lorong / Foto: Dok. pribadi
ruang penyimpanan buku yang modern / Foto: Dok. pribadi
ruang baca / Foto: Dok. pribadi
mesin pencarian data buku touch screen / Foto: Dok. pribadi
Bahkan, ada ruangan diskusi. Jadi, bisa bahas buku tanpa perlu bisik-bisik. 


Bus Kuning
Matahari semakin tinggi dan sengatnya semakin terasa. Kami menyudahi kunjungan hari itu.


Menjajal keberuntungan, kami mencoba menanti bus kuning. Syukurlah, ternyata masih beroperasi.


Lagi-lagi saya dibuat takjub. Bus kuning dulu, modelnya seperti metromini tanpa tempat duduk. Penumpang semua berdiri. Penyejuknya ya Angin Cepoi-cepoi.


Nah, sekarang, busnya seperti bus pariwisata dilengkapi dengan AC sungguhan. Tempat duduknya memanjang berhadapan. Berbusa berbalutkan bahan beludru. 


O, iya, bus kuning bebas biaya, ya. Jadi, bisa Ditumpangi berkali-kali.



Ayo, siapa mau ikut?/ Foto: Dok. pribadi

Fighting, Sista!
Pengalaman hari itu membuat sepupu saya semakin bersemangat belajar untuk bisa jadi anak UI. Good luck, dear sista. May your dream come true.


Tips ke Kampus UI Depok

1.  Kalau naik kendaraan umum, lebih baik naik kereta. Lebih irit biaya dan tidak kena macet. Depok sekarang juga macet, cet, cet, lho.

2. Keuntungan lain naik kereta, turun di stasiun UI, langsung masuk komplek kampus. Persis di depan stasiun tersedia halte bus kuning.

3. Wara-wiri kampus bisa naik bus kuning. Yang penting, perhatikan rutenya. Saya enggak sempat nanya, sampai jam berapa bus kuning beroperasi. Tapi, dari info di internet, kalau Sabtu, hanya sampai siang saja.

4.  Usahakan datang pagi-pagi. Waktu untuk menjelajah lebih lama dan bisa pulang lebih awal saat hari belum gelap. Di kampus UI Depok masih banyak lokasi yang masih seperti aslinya. Banyak pohon.

5.  Bawa topi untuk melindungi kepala dari sengatan matahari. Jika bawa anak-anak, bawa kaus ganti dan perbekalan makanan serta minuman yang cukup agar terhindar dari dehidrasi dan kelaparan.

6.  Last but not least, tadaaa: alat jeprat-jepret untuk mengabadikan momen berada di kampus UI. It’s a must.  

4 komentar:

  1. Saya dan suami sedang melintaskan prasangka dan impian ke anak kami tazkia spy bisa kuliah disana mak, UI. Semoga impian kami tercapai...amiin

    BalasHapus
  2. Selamatbelajar di Kampus impian ya buat sepupunya. Mudah-mudahan anaku juga bisa masuk kesana hehehe masih lama banget tapi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum masuk, Mbak. Pengennya. Kunjungan ke sana biar jd penambah motivasi.

      Jadikan tujuan jalan-jalan aja dulu kalau gak terlalu jauh dijangkau dari rumah.

      Hapus