Senin, 05 Januari 2015

Penting atau Enggak, Sih, Kegiatan Sekolah Minggu Anak?



“Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga”, begitulah bunyi tema Natal 2014. Tema tersebut ditetapkan bersama oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Dasar ayat Alkitabnya adalah Imamat 26:12, “Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.”
Tema tersebut mengajak gereja dan orangtua mengevaluasi keterlibatan mereka dalam mempersiapkan generasi mendatang.

Natal yang Ditunggu-tunggu
Contoh yang ter-gres adalah perayaan Natal itu sendiri. Perayaan Natal adalah hari yang paling ditunggu adik-adik Sekolah Minggu. Mengapa? Satu, tentu saja karena pada hari itu mereka mendapat hadiah setelah setahun mengikuti kelas Sekolah Minggu.
Kedua, karena pada hari itu kemungkinan besar mereka akan mengenakan baju baru. Yang perempuan berdandan layaknya putri raja dalam dongeng. Yang laki-laki memakai jas dan dasi. 
Ketiga, karena pada hari itu, mereka akan tampil di panggung. Mengucapkan hafalan ayat liturgi. Menari. Menyanyi. Main musik atau main drama. Pada hari itu, mereka merasa deg-deg-an campur bangga. Bagaimana tidak? Ibu dan ayah, kakek dan nenek, tante, dan anggota keluarga lainnya datang untuk menyaksikan.

Bersikap Adil
Di tahap awal, persiapan mata acara jadi momen yang cukup ruwet. Para kakak Sekolah Minggu biasanya harus siap diprotes oleh orangtua. Ada orangtua yang menggunakan cara halus. Ada pula yang terang-terangan.
Seorang teman bercerita di suatu pagi, “Kemarin, ada lho orangtua murid kami yang marah-marah karena anaknya tidak diikutkan dalam acara menari. Kami sampai dilaporkan ke pendeta. Dan pendeta juga ikut memarahi kami karena yang marah-marah adalah istri penatua.” Hehehehe …
Para kakak Sekolah Minggu berusaha sebisa mungkin bersikap adil. Semua adik diberi peran. Tentu saja, peran disesuaikan dengan usia mereka. Misalnya, anak yang tahun lalu belum ikut main angklung, tahun ini ikut karena sudah bisa pegang dan membunyikan alat musik bambu tersebut.
Bahkan, not-not yang tidak pernah diciptakan penggubahnya, ditambahkan—tentu bukan not-not yang bikin lagu hancur. Tujuannya, supaya semua anak yang sudah bisa main, terlibat.

Yuk, Kita Latihan
 Oke. Semua anak sudah dapat peran. Sekarang, mari kita latihan. Masa latihan adalah fase kedua yang terberat. Selesai kebaktian, masih harus latihan. Latihan pada hari Minggu saja, tidak cukup. Ada kalanya, beberapa anak absen. Selain itu, frekuensi latihan harus ditambah agar kualitas meningkat. Maka, disepakatilah,  latihan hari Sabtu sore.
Nah, latihan di hari inilah yang sering jadi batu sandungan bagi anak-anak. Sakit tentu tidak masuk hitungan. Tidak ada yang suka sakit. Yang saya maksud di sini, ketika anak-anak belum mandiri untuk bisa datang ke tempat latihan. Ketika anak-anak harus diantar orangtua. Bersediakah orangtua?  Pentingkah acara latihan anak-anak dibandingkan acara lainnya?

Penting atau Tidak Penting?
Suatu kali, saya sakit. Maka, saya menitipkan anak saya kepada ua dan neneknya. Saya wanti-wanti, sore ada latihan Natal. Kebetulan, adik dan keponakan saya dari negeri jauh, liburan ke Indonesia. Maka, keluarga besar saya jalan-jalan hari itu.
Latihan Natal tentu akan memotong waktu untuk berjalan-jalan. Ditambah lagi, sore itu hujan deras. Maka, ibu saya bercerita, “Sudah pun tujuh orang membujuk anakmu untuk tidak usah latihan, anakmu tetap ngotot minta diantar latihan.”
Berkat kegigihan anak saya, ia bisa latihan. Diantar serombongan besar keluarganya. Good girl. Thank you, my big family for taking my daughter to church.  
Fakta membuktikan, banyak orangtua/orang dewasa yang tidak menganggap latihan anak-anak mereka penting. Mereka enggan memberi tahu kakak Sekolah Minggu jika anak berhalangan hadir. Bahkan, mereka tidak menjawab saat di-SMS.  
Dampak jarang latihan tentu bisa ditebak. Anak yang sering tidak latihan, tidak menguasai peran. Tidak hanya itu saja. Latihan kegiatan yang melibatkan banyak pemain, jadi amburadul. Yang tinggal hanyalah bingung, bingung dan bingung.

Tanggung Jawab Pribadi terhadap Keberhasilan Tim
Orangtua mengabaikan pembelajaran tanggung jawab pribadi terhadap keberhasilan tim. Orangtua mengajarkan kepada anak egoisme: kepentingan pribadiku lebih penting daripada kepentingan tim. Tidak peduli anak-anak lain beserta orangtua mereka sudah berjerih payah untuk datang. Dan tentu saja juga mengabaikan jerih payah kakak-kakak guru Sekolah Minggu.
Fase berikutnya adalah hari H, saat pementasan. Biasanya, nih, kakak-kakak Sekolah Minggu, sudah wanti-wanti supaya adik-adik bisa datang lebih cepat supaya bisa tampil dengan tenang dan percaya diri. Tapi, apa mau dikata. Mereka tidak bisa datang sendiri. Mereka tergantung pada orangtua.
Dampaknya kayak domino. Orangtua terlambat, anak ikut terlambat. Anak-anak jadi gugup.
Acara pun jadi terlambat dimulai. Anak-anak yang tidak sehat, jadi pulang larut malam. Begitu pula para undangan yang datang dari jauh. Contoh lain keengganan menghormati orang lain.

Beratnya Jadi Orangtua
Itu baru kegiatan yang berhubungan dengan Natal. Bagaimana dengan kegiatan Sekolah Minggu lainnya? Oh, betapa beratnya tugas orangtua! Ya, memang. Saking beratnya, enggak ada institusi khusus atau sekolah untuk bikin pasangan suami istri terampil jadi orangtua. Tapi, Allah bilang, Ia hadir dalam keluarga. Kayaknya, sekarang tinggal kita, mau apa bertemu dengan-Nya atau tidak. Dimulai dengan dukungan kita terhadap kegiatan anak-anak di Sekolah Minggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar