Selasa, 07 Januari 2014

Rayap, Si Kecil yang Dahsyat

     Saat libur menjelang Natal tahun lalu, saya membuka lemari kayu tempat penyimpanan barang-barang yang jarang dipakai. Saya ingin mencari perlengkapan Natal untuk mendekorasi pohon Natal. Begitu pintu lemari dibuka, bau kayu lembab langsung menyeruak keluar. Bau khas rumah-rumah tua. Saya sempat kaget karena kamar tempat lemari itu berada, tidak gelap dan berada di lantai dua. Jadi, pasti lebih panas karena langsung terkena sinar matahari.
     Ketika saya berusaha menarik sebuah kotak kardus dari tingkat terbawah lemari, saya mendapati sesuatu yang sangat mengejutkan. Kardus yang saya tarik, langsung remuk. Saya hanya mendapat secabik saja.
     Penasaran, saya sapu keluar remukan yang terjatuh di dalam lemari. Ada bagian kardus yang sudah bolong-bolong tidak beraturan. Terheran-heran, saya mengarahkan senter ke dalam lemari. Astaga, saya melihat binatang-binatang kecil seperti semut, tetapi berwarna putih. Binatang-binatang itu mengeliat-geliat, membuat saya merinding geli. Ya ampun, lemari saya jadi sarang rayap!
     Seumur hidup, saya belum pernah melihat hasil serangan rayap yang demikian dahsyat. Kardus-kardus kemasan barang hancur lebur. Bahkan, buku harian saya yang berisi kisah saya jatuh cinta, dll., tidak bisa dibuka lagi karena lengket dan sisi-sisinya kopong.
     Yang tidak kalah menyedihkan, buku catatan curhat yang saya dan suami tulisi bergantian saat masa pacaran, juga bernasib serupa. Dengan berat hati, bagian yang masih terbaca, tetapi sudah bolong karena digerogoti rayap, saya robek-robek. Semua terpaksa berakhir di tempat sampah.
     Tidak hanya itu. Setelah barang-barang dikeluarkan, baru kelihatan kalau dinding lemari juga sudah dibolongi rayap! Kesal, saya semprotkan cairan pembasmi nyamuk dan kecoak.

Hasil serangan rayap/Dok. pribadi
     Pengalaman itu membuat saya penasaran dengan yang namanya rayap. Seperti biasa, saya pun berselancar di internet untuk mencari tahu tentang rayap, si makhluk kecil yang dahsyat itu.

Binatang Berkoloni
     Rayap adalah binatang yang hidup berkoloni seperti semut dan lebah. Rayap juga punya ratu, pekerja dan tentara.
     Rayap ratu bisa menghasilkan 20.000 sampai 30.000 telur per hari dan bisa hidup sampai 45 tahun! Aduh! Kebayang kan betapa mengerikan serangan mereka kalau dibiarkan berkembang biak di dalam rumah kita!
     Rayap pekerja punya tubuh yang lunak dan mata mereka buta. Merekalah yang bertugas mencari makan, menyimpan makanan dan mengurai kayu sehingga menghasilkan selulosa yang dibutuhkan. Rayap pekerja juga bertugas memberi makan anggota koloni lainnya. Wow, hebat!

rayap pekerja
Sumber: en.wikipedia.org

     Rayap tentara memiliki perisai. Gunanya tentu saja untuk menangkis serangan semut. Rayap tentara juga punya taring yang besar untuk alat pertahanan diri. Namun, taring tersebut membuat mereka tidak bisa makan sendiri. Oleh sebab itu, rayap pekerja mendapat tugas tambahan, yaitu memberi makan rayap tentara!

rayap tentara
Sumber: en.wikipedia.org 

Makanan Favorit
     Kayu adalah salah satu sumber selulosa, makanan kegemaran rayap. Di alam bebas, rayap menyantap pohon-pohon yang tumbang atau mati. Kayu akan terurai dan tanah yang tercampur dengan bahan-bahan dari kayu akan menjadi subur. Jadi, rayap berdampak baik bagi ekosistem.
     Di sisi lain, pasti tidak ada dari kita yang ingin rayap masuk ke rumah. Begitu masuk rumah, rayap akan menyerang benda-benda yang terbuat dari karton atau kertas, pakaian, dan benda-benda yang menghasilkan selulosa lainnya. Uh, pantas saja kardus-kardus dan buku harian saya hancur lebur digerogoti mereka! Kesal jadinya.

Tempat Favorit 
     Rayap tergolong serangga yang lemah. Agar bisa bertahan hidup, rayap menghindari semut dan predator lainnya. Selain itu, rayap harus hidup di tempat yang lembab dan sejuk. Jika terkena sinar matahari atau udara yang kering, tubuh rayap pekerja akan mengering dan mereka akan mati.

Bermetamorfosis 
     Rayap sebetulnya tidak punya sayap, tetapi beberapa jenis rayap akan mengalami metamorfosis. Itu lho, binatang bersayap yang di awal musim penghujan beterbangan mendekati cahaya. Yup, mereka menjadi laron. Jadi, kalau ada laron di rumah kita, berarti ada rayap yang telah menyusup ke dalam rumah kita.

Pencegahan Invansi Rayap ke Rumah 
     Sampai hari ini sih saya belum mengambil tindakan untuk membasmi rayap, selain dengan cara menyemprotkan obat pembasmi nyamuk dan kecoa.
   Menurut berbagai sumber di internet, kalau kita mau membangun rumah, sebaiknya kita menggunakan kayu yang tidak dapat digerogoti rayap, seperti kayu jati atau kayu yang telah dioven terlebih dulu.
     Selain itu, bagian-bagian bangunan yang terbuat dari kayu, sebaiknya jangan berada di dekat tanah agar rayap tidak mudah menyusup ke dalam rumah.
    Jika di sekitar pintu, jendela atau benda-benda yang terbuat dari kayu terdapat butir-butir halus berwarna putih, itu berarti kayu telah diserang oleh rayap. Untuk membasmi rayap yang telah bersarang di kayu, kayu bisa disemprot dengan termitisida.
     Untuk membasmi rayap yang bersarang di tanah, injeksi termitisida ke dalam tanah di sepanjangan pondasi bangunan perlu dilakukan.
     Ada pula teknologi sentricon yang lebih ramah lingkungan. Cara ini menggunakan dua alat, yaitu sebuah pengumpan yang ditempatkan di dinding atau kusen yang menjadi jalur rayap serta sebuah detektor rayap yang ditanam di tanah. Kedua alat tersebut dilengkapi dengan semacam tisu yang menjadi makanan rayap. Tisu tersebut mengandung enzim hormon yang menekan metabolisme pertumbuhan rayap. Namanya heksaflumuron. Jika rayap makan tisu tersebut, tisu akan menyebar dan meracuni seluruh koloni. Dalam waktu delapan minggu, biasanya koloni rayap akan mati.
     Kita juga bisa menggunakan bahan-bahan alami, seperti penyemprotan air rendaman puntung rokok, penyiraman dengan air cucian beras yang pertama dan penyemprotan dengan sari campuran daun pepaya dan daun sirih.

Disarikan dari berbagai sumber.

2 komentar:

  1. Jadi ingat buku-buku kuliah saya yang hancur dimakan rayap :(

    Jalan-jalan di blog Mak Nancy untuk Srikandi Blogger 2014.
    Good luck ya :)

    BalasHapus
  2. Hai, Mbak Sary! Iya, setelah mengalami sendiri, baru tahu betapa dahsyat kekuatan si makhluk kecil itu.

    Thx ya sudah mampir :)

    BalasHapus