Nagasari, A Nostalgia for My Childhood

Going to a traditional market was one of my favorite childhood activities. I was glad when my mom woke me up early in saturday morning, asking me to come along.

Certainly it was not the size of the building nor the comfort that caused me enjoying the visit. Most of traditional markets at that time were muddy, crowded and stinky. I got to wash right after we came home.

It were the trade and the fair of goods that I found fascinating. Piles of colourful vegetables and fruits, the eggs, tofus in watered plastics, stacks of tempe. And the best of all was the stall of traditional snacks.

Pastel (deep fried curry puff), bolu kukus (steamed tart), kue lapis (layered rice flour pudding), wajik ( cooked-in-palm-sugar, steamed glutinous rice) and nagasari (steamed banana cake made of rice flour) went definitely into our shopping bag.

Selfmade Nagasari
I love traditional snacks and have made some of them at home.

Last Sunday my family and I went shopping to a supermarkt. There I found banana leaves.

"Let's make nagasari!" I said to my daughter out of sudden.

What else do we need?

"Rice flour," answered a woman to my question. Yes, I really did ask her.

I knew that we need banana. But I didn't know which kind. Thanks to the internet, I could find my reliable and awasome resouce at once: the Diah Didi's kitchen blog. According to the lovely blog's tip, we then bought kepok banana.

Kepok banana /Photo: Nancy's
The adventure began. It was a collaborative one indeed. My daughter mixed up the ingredients. I stirred the dough while it was cooked with small fire. My husband heated the banana leaves.

The outcome was perfect. Everybody was happy. Selfmade nagasari were ready to serve.
The color of the banana leaves become dark / Photo: Nancy's


Wanna make nagasari too? You can see the recipe here.

In case you don't understand Bahasa, below is its translation.

The Ingredients
100 gram rice flour
1 spoon tapioca starch
40-75 gram sugar
400-500 litre coconut milk (the more you get, the softer the nagasari will be)
1/2 tea spoon salt
schrewpine leaves (I didn't have it. I substituted it with a bit of vanilli)

raja banana/kepok banana
banana leaves

The Making
1. Mix all the ingredients, but kepok banana and the banana leaves.
2. Stir while it cooked with small fire until it's creamy.
3. Put a spoon of the dough on a sheet of banana leaf, then add 1-2 slice of banana, and cover them with another spoon of the dough.
4. Fold the leaf and put it in the steamer for 20-30 minutes.



Manfaat Bermain Ular Tangga

Siapa yang belum pernah main ular tangga? Board game ini sangat populer tahun 80-an, berikut teman-temannya, monopoli dan ludo.

Ular tangga juga salah satu mainan favorit keluarga saya kala saya kanak-kanak. Kini, ular tangga juga jadi mainan favorit anak saya.

Tangga naik, ular turun /Foto: Dok. pribadi
Bagi saya, ular tangga bukan mainan biasa. Ular tangga memberi manfaat, tidak hanya kepada anak, lho, tetapi juga kepada orang dewasa. Manfaatnya adalah sebagai berikut.

1. Berlatih menghitung
Saat menggerakkan pion sesuai jumlah mata dadu yang keluar, anak latihan menghitung kotak-kotak yang ia lalui.

2. Melatih ketelitian
Saat menghitung, anak perlu teliti, sudah tepatkah hitungannya. Jangan sampai kelebihan atau kekurangan.

3. Mengasah kesabaran
Tahukah Anda berapa jumlah kotak yang ada di mainan ular tangga? Yup, 100 kotak! Bayangkan, berapa lama kita harus bermain jika mata dadu yang keluar hanya 1, 2 dan 3. Kita pasti selalu ingin dapat mata dadu 6.

Untunglah ada kotak bergambar tangga untuk mempercepat pemain mencapai kotak terakhir untuk jadi pemenang.

Kendati demikian, pemain harus siap sedia mendarat di kotak bergambar ular. Sudah jauh di atas, harus kembali ke bawah. Arrg! Rasanya baru terhibur kalau disuguhi es krim mentol bertabur keping cokelat.

Filosofi Ular Tangga
Tiap kali saya bermain ular tangga, saya selalu merasa, mainan ini ibarat perjalanan hidup kita menuju satu tujuan.

Dalam perjalanan, kadang kala kita mendapat keberhasilan atau pencapaian. Rasa percaya diri kita bertambah. Atau mungkin tingkat sosial ekonomi kita meningkat. Kita dipuja dan dipuji banyak orang.

Namun, kerap pula kita menghadapi kegagalan. Bahkan, kegagalan itu sangat buruk sehingga kita jatuh terpuruk.

Pada akhirnya, keputusan ada di tangan kita. Apakah setelah berteriak kesal atau menangis-seperti yang masih anak saya lakukan kalau "terjun bebas" gara-gara menapak kotak berular atau menangis karena gagal duluan mencapai kotak terakhir-kita masih mau meneruskan perjalanan atau tidak.

Suka dan duka pasti akan datang silih berganti. Keberhasilan dan kegagalan pasti datang bergantian. Yang perlu kita lakukan hanyalah meneruskan perjalanan itu hingga sampai tujuan.


Simbol-Simbol Penanda


Kita pasti sering melihat simbol-simbol penanda di tempat-tempat fasilitas umum. Di pintu kamar mandi, misalnya. Gambar sosok perempuan berarti kamar mandi ditujukan untuk perempuan. Bayangkan, bagaimana reaksi para perempuan di dalam jika ada laki-laki masuk lantaran tidak mengerti makna simbol tersebut.

Kenapa sih simbol diciptakan? Tujuannya adalah untuk menghemat tulisan. Selain itu, agar pesan dapat cepat ditangkap. Bahasa gambar lebih mudah dipahami daripada bahasa tulisan.

Namun, fakta sering berbicara lain. Banyak pengguna fasilitas umum yang justru melakukan kebalikan dari makna simbol tersebut. Contoh, di jalan raya. Saat lampu merah, pengendara terus melaju. Di restoran terdapat plat bersimbol rokok menyala digaris miring. Namun, ada saja pengunjung yang merokok.

Simbol di Transportasi Umum
Kenal simbol ini?
Foto: Dok. Pribadi
Pengguna kereta dan Transjakarta pasti sering melihatnya. Simbol itu biasanya ditempel di jendela. Simbol tersebut adalah simbol penumpang prioritas. Lebih jelasnya lagi, penumpang yang berhak diutamakan mendapat tempat duduk di area stiker ditempel.

Siapa saja?

Paling kiri, sosok laki-laki memakai tongkat. Simbol untuk penumpang lanjut usia: nenek-nenek dan kakek-kakek, meskipun gambarnya hanya laki-laki.

Di sebelah kanannya, sosok perempuan mengandung. Simbol untuk ibu hamil. Bapak hamil? Hanya Albert Schwarzenegger yang bisa. Itu pun dalam film.

Selanjutnya, sosok perempuan memangku anak kecil. Simbol untuk penumpang yang membawa anak-anak. Bagi saya pribadi, apapun jenis kelamin orang dewasanya, selama ia membawa anak kecil, punya hak diberi tempat duduk.

Dari pengamatan saya selama jadi pengguna Transjakarta, simbol satu ini sering disalahartikan. Penumpang baru diberi duduk kalau anaknya masih bayi atau masih harus dipangku. Bagaimana dengan anak lainnya?

Gambar paling kanan menyimbolkan orang difabel. Apapun bentuk kekurangannya.

Simbol Berwarna
Tidak hanya simbol gambar, di Transjakarta gandeng ada simbol penanda tambahan: tempat duduk untuk penumpang prioritas berwarna merah. Layaknya lampu merah yang memerintahkan pengguna jalan berhenti, penumpang diminta berhenti untuk berpikir: apakah saya layak duduk di sini?

Setelah tahu makna simbol-simbol tersebut, harus bagaimana?

1. Sebelum duduk di Transjakarta gandeng, pastikan warna tempat duduk Anda tidak merah. Jika merah, STOP. Anda punya hak? Jika tidak, jangan duduki.

2. Anda tetap mendudukinya? Gak masalah selama Anda kemudian mau langsung berdiri tanpa diminta jika penumpang prioritas datang, sekalipun orang itu tidak berada di dekat Anda. Jangan malah pura-pura tidur. Atau, mengharapkan orang lain yang memberi. Andalah yang wajib berdiri karena mengambil hak duduk penumpang prioritas.

Yuk, jadi penumpang yang santun dan taat pada peraturan, tanpa diminta atau disuruh.

Buku Rohani Anak: Princess Stories



Anak perempuan Anda tahu Princess Snow White, Princess Cinderella, Princess Aurora, Princess Ariel, dan Princess Belle?

Ya, ia tahu.

Kalau Princess Jasmine, Princess Pocahontas, Princess Mulan, Princess Tiana, dan Princess Rapunzel?

Juga tahu.

Kalau Princess Elsa?

Apalagi itu. Elsa kan tokoh utama film Frozen dengan nyanyiannya “Let it go, let it go ...”  yang sedang jadi pujaan hati banyak anak perempuan di seluruh dunia.

Tahukah anak Anda putri-putri Allah?
           
Hmmm ..., memangnya ada, ya?

Ada. Banyak, mulai dari yang ada di Perjanjian Lama hingga yang ada di Perjanjian Baru. Daaan, anak Anda ternyata adalah salah satu dari putri-putri Allah tersebut! 

Cerita tentang putri-putri Allah tersebut bisa ia baca di dalam buku Princess Stories terbitan BPK Gunung Mulia. Tebal buku 128 halaman. Berukuran 32x34 cm dan dihargai Rp139 ribu. 


Taraa ... girly, pinky



Keistimewaan buku ini: 
  1. Ilustrasinya girly.
  2. Mengangkat perempuan ke "depan layar" melalui kisah hidup tokoh-tokoh perempuan di Alkitab.
  3. Penceritaannya unik. Narasi disampaikan dari sudut pandang 'aku'. Artinya, si tokoh sendiri yang bercerita tentang pengalaman hidupnya.
  4. Di akhir tiap cerita, disediakan sejumlah pertanyaan untuk melatih kemampuan anak menyerap inti cerita. Orangtua juga bisa memanfaatkannya untuk berdiskusi dengan anak.  
  5. Cocok untuk anak usia 9 tahun ke atas karena jumlah kata yang digunakan banyak.
  6. Bilingual; ada bahasa Indonesianya, ada juga bahasa Inggrisnya.

Buku Umum: Anakku, Buah Hatiku



Mau jadi juru masak? Boleh-boleh saja. Tapi, hobi masak dan gemar mencoba makanan, kan? O, iya, juga harus punya pengetahuan tentang dunia kuliner. Apa saja? Banyak. Di antaranya, teknik-teknik memasak serta aneka bahan makanan.

Mereka yang ingin serius menekuni profesi ini, biasanya mendaftarkan diri menjadi siswa sekolah memasak. Begitu pula profesi-profesi lainnya. Pilot, dokter, tentara, pengacara, guru, penari, pemusik. Bahkan, untuk menjadi pendeta, seseorang harus menempuh pendidikan teologi dan praktik pelayanan.

Namun, ada satu profesi yang melibatkan tanggung jawab sangat besar, tetapi pendidikan formal untuk melakoni profesi itu tidak ada. Profesi itu bernama orangtua. Sebuah profesi yang otomatis dianugerahkan kepada tiap pasangan suami istri begitu mereka memiliki anak. Sayangnya, orangtua tidak otomatis memiliki keterampilan dan kemampuan mengasuh anak begitu anak lahir.  

Mungkin itu sebabnya, Pendeta Frank yang diperankan Robin Williams dalam film License to Wed, mengharuskan pasangan kekasih Sadie dan Ben untuk latihan mengurus bayi artifisial. Mengurus bayi-bayian itu adalah salah satu bagian dari kursus persiapan pernikahan, meskipun masa bayi hanyalah satu dari tahapan-tahapan pertumbuhan anak.

Menjadi orangtua memang tidak mudah. Kebutuhan anak terus berubah seiring pertumbuhannya. Tantangan yang anak hadapi juga berubah dari waktu ke waktu. Seiring pertambahan usia, anak tidak akan hanya berinteraksi dengan orangtua, tetapi juga dengan orang-orang di luar lingkungan rumah.

Tidak ada cara lain, orangtua harus belajar. Untuk apa? Tentu saja supaya bisa menjadi orangtua yang berhikmat dan bijaksana. 

Bagaimana caranya? Selain learning by doing, para bunda dan ayah bisa juga mengikuti workshop, seminar atau parenting talkshow.  Membaca aneka literatur juga sangat membantu, apalagi tulisan-tulisan yang ditulis para ahli perkembangan anak.

Anakku, Buah Hatiku yang ditulis oleh Henny Wirawan, seorang psikolog dan psikoterapis, memuat panduan mengasuh anak. Anakku, Buah Hatiku juga membahas beberapa masalah yang berpotensi terjadi pada anak, seperti stres, bullying, pornografi, kekerasan, dan penculikan. Semua disajikan secara praktis agar dapat dipahami oleh orangtua dari berbagai latar belakang pendidikan.  Harapan Henny Wirawan, dengan membaca Anakku, Buah Hatiku, orangtua dapat mempraktikkan pola asuh yang baik. Dengan begitu, anak dapat tumbuh bahagia dan sejahtera.


64 halaman, Rp22.000, terbitan BPK Gunung Mulia. Edisi cetak ulang berkaver baru

Keistimewaan buku ini:
  1. Penulisnya seorang psikolog klinis dan psikoterapis yang punya segudang pengalaman. Ia sering menjadi pembicara, fasilitator dan moderator di banyak seminar serta pelatihan tentang pendidikan, pola asuh anak, maupun masalah-masalah sosial. 
  2. Disajikan dengan gaya bahasa sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh orangtua dari berbagai latar belakang pendidikan. 
  3. Memuat 18 topik pembahasan.
  4. Harga terjangkau.