"Kamu Bisa Ngomong, Enggak?"

Image: http://office.microsoft.com
Suatu hari, saya menunggui Michelle, anak saya, di sekolah. Saat jam makan siang tiba, saya masuk ke kelas, hendak mengintip kegiatannya.

Di kelas, saya melihat Michelle duduk berhadapan dengan Samantha, teman karibnya. Di samping Samantha, duduk  Emma, salah seorang murid Kelompok Bermain Kecil. Hari itu hari Jumat. Jadi, murid-murid Kelompok Bermain Kecil dan Besar digabung.

Emma berkata berulang kali kepada Samantha, sambil menunjuk Michelle, "Michelle kan enggak bisa ngomong. Michelle kan enggak bisa ngomong."

Ya, Michelle memang seperti mobil berbahan bakar diesel. Kalau belum "panas", dia belum "melaju". Jadi, dia sering terlihat agak pendiam.

Samantha hanya memandangi Emma tanpa berkata-kata.

Karena tidak mendapat respons, Emma lalu bertanya, "Kamu bisa ngomong, enggak?"

Hahaha, saya langsung tertawa terbahak-bahak dalam hati. Tingkah laku Emma dan Samantha sungguh lucu. Entah, apakah ini yang dinamakan setia kawan, Samantha tidak mau menanggapi komentar Emma mengenai teman karibnya. Sedangkan Emma mengambil kesimpulan, kalau Samantha juga enggak bisa ngomong karena Samantha tidak menanggapi komentarnya.

 Lucunya anak-anak!

Budaya Mandok Hata

Image: http://office.microsoft.com
Mandok hata, demikian orang Batak menyebut kebiasaan menyampaikan nasihat, sepatah atau dua patah kata. Mandok hata sangat penting bagi orang Batak. Jadi, tradisi itu tidak bakal dilewatkan dalam setiap peristiwa penting. Sebut saja, tardidi (pembaptisan), sidi (pengakuan iman), mangoli (menikah), mangapuli (kunjungan penghiburan bagi keluarga yang baru kehilangan anggota keluarga karena meninggal), bona taon (Tahun Baru).

Saya yakin, tradisi mandok hata diciptakan untuk tujuan yang baik. Namun, sering, bahkan terlalu sering, kesempatan untuk mandok hata itu disalahgunakan untuk mengagungkan diri sendiri (si pemberi nasihat). Semakin dia menganggap dirinya pandai, semakin panjang kata-kata yang dia ucapkan, semakin lama pula dia berbicara. Tak peduli orang lain harus berjuang menahan mata agar tidak tertutup saking mengantuk saat mendengarkan. Tak terpikir olehnya, alih-alih mendengarkan nasihatnya, orang yang dia nasihati malah merutuk dalam hati, ngeselin banget sih lo. Sapa elo?! Atau ngomel dalam bahasa Inggris, Shut up! Atau berteriak dalam bahasa Jerman, das ist gar nicht dein Bier!

Dulu, saya pernah mengalami kepahitan dalam kebiasaan mandok hata ini. Kala itu, ayah saya baru meninggal. Kumpulan kecil marga suami saya mengadakan acara mangapuli (penghiburan). Namun, bukannya terhibur, hati saya malah terluka.

Entah apa yang dipikirkan seseorang dari kumpulan itu. Apakah dia menganggap dirinya corong Tuhan atau tabib, saya tidak tahu. Yang saya tahu pasti, orang itu sudah menyalakan amarah dalam hati saya. Orang itu memberi nasihat kepada saya. Tetapi, kata-katanya sama sekali tidak berkaitan dengan kehilangan yang saya alami. Dia malah membahas urusan internal rumah tangga orang, yaitu soal anak - waktu itu saya dan suami memang belum punya anak. Dia mengucapkan tuduhan-tuduhan yang tidak akurat, yang intinya adalah kami belum juga mendapat anak karena kami orang berdosa. Tahu dari mana dia bahwa kami belum punya anak karena kami berdosa? Apakah dia sudah mewawancarai Dia yang Di Atas dan dapat jawaban kalau semua pasangan yang belum dikarunia anak itu karena berdosa?

Kemudian pria itu menjalankan ritus doa dan memercikkan air kepada saya dan suami saya   Dia berteriak-teriak kepada Tuhan seolah Tuhan tuli, menyuruhNya membersihkan tubuh saya. Kalau saja saya adalah bintang film atau pemain sinetron, saya akan berteriak sekeras-kerasnya kepadanya dan bilang, "Who do you think you are?! You don't know anything about me!!!"

Sejak itu, saya berjanji, saya tidak akan seperti mereka-mereka yang suka ngomong, menasihati orang panjang lebar, seolah jadi orang yang paling sempurna - kebetulan saya juga bukan tipe orang yang doyan menasihati orang, kalau orang tersebut tidak dekat dengan saya.

Dan ternyata, kesan buruk mandok hata tidak hanya saya alami, salah seorang generasi muda yang tidak doyan mendengar orang mandok hata sekaligus melakukan mandok hata. Dua orang dari generasi lama, yang sangat dekat dengan tradisi mandok hata, ternyata mulai merasakan sisi buruknya. Baru-baru ini bapak mertua saya pulang dari acara mangapuli juga. Dia marah-marah karena terpaksa dua jam duduk untuk mendengar orang mandok hata panjang lebar. Dua hari yang lalu, giliran tulang saya yang ngomel. Dia juga dari acara mangapuli. Dia bilang dalam bahasa Batak, yang bahasa Indonesianya kurang lebih  berbunyi begini,  "Kenapa sih panjang-panjang ngomong? Kan kasihan dia (orang tua yang dihibur karena anak perempuannya meninggal) belum tidur, sedih, disuruh dengar orang ngomong lama!"

Saya jadi berkesimpulan, mandok hata lama-lama adalah satu kebiasaan buruk orang Batak yang musti, kudu, harus, wajib dihilangkan. Mungkin orang Batak harus sering-sering nonton acara Mario Teguh. Dengan begitu, semakin banyak orang Batak yang mampu memberi motivasi dengan singkat, namun berbobot, disertai tujuan dan arah yang jelas.

Perempuan dalam Film-Film Princess Disney

Image: http://preschoolers.about.com
Dulu, saya sangat senang nonton film "Sleeping Beauty" buatan Disney. Tapi, bukan kisah atau sosok putri Aurora-nya yang saya suka. Saya kagum pada kelucuan binatang-binatang yang Aurora temui di hutan. Saya terpukau melihat ketiga peri penjaga Aurora, yaitu peri Merry Weather, Flora dan Fauna memainkan tongkat sihirnya saat mereka menyiapkan hadiah ulang tahun kejutan untuk Aurora, yaitu kue ulang tahun dan gaun nan indah. Lagi-lagi saya tersihir saat peri Flora dan Fauna bertengkar memutuskan warna gaun yang dipakai Aurora saat berdansa dengan Phillip. Gaun Aurora berganti-ganti warna. Biru, merah jambu, biru, merah jambu lagi.

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk mengoleksi film-film Disney. Namun, entah karena kesibukan kuliah dan bekerja, impian itu tidak terwujud. Barulah setelah saya punya anak, impian itu mulai saya wujudkan. Alhasil, sekarang saya punya film "Snow White" (produksi 1937), "Cinderella" (produksi 1950),  "Sleeping Beauty" (produksi 1959), "Little Mermaid" (produksi 1989), "Beauty & The Beast" (produksi 1991), "Pocahontas" (produksi 1995), "Mulan" (produksi 1998), "The Princess & The Frog" (produksi 2009), dan "Tangled" (produksi 2010).

Menonton film-film Princess jadi salah satu kegiatan favorit saya dan anak saya. Film-film itu kami tonton tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Lama-lama saya jadi membandingkan film-film itu, termasuk penokohannya. Ternyata semua tokoh utama film-film tersebut adalah perempuan.

Tokoh Snow White ("Snow White") dan Aurora ("Sleeping Beauty") sama-sama digambarkan sebagai gadis cantik yang pandai menyanyi dan bersahabat dengan hewan-hewan kecil. Keduanya diperkenalkan sebagai dua gadis yang berbeda nasib. Aurora mengira dirinya seorang gadis biasa yang tinggal di hutan. Saat itu, dia belum tahu bahwa sebenarnya dia adalah anak raja yang diasingkan demi keselamatan jiwanya. Sedangkan Snow White harus mengerjakan berbagai tugas rumah tangga atas perintah Ratu, sang ibu tiri.

Auroa dan Snow White sama-sama mengutarakan impian mereka dalam bentuk nyanyian. Kelak, mereka akan bertemu seorang pria yang akan mencintai mereka. Ajaib, nyanyian mereka berdua didengar oleh pangeran yang kebetulan lewat.

Dalam film "Snow White", sang pangeran tidak hanya membebaskan Snow White dari tidur panjang, tetapi juga membebaskannya dari penderitaan fisik dan psikis. Sedangkan, dalam film "Sleeping Beauty", Aurora dibebaskan dari tidur panjangnya setelah dia dicium oleh sang pangeran yang sebelumnya harus mengerahkan tenaga melawan Maleficent dalam wujud naga raksasa yang ganas.

Dalam film "Cinderella", sang tokoh utama nyaris memiliki nasib yang sama dengan Snow White. Namun, dibandingkan dengan Snow White, semangatnya untuk memperbaiki nasib jauh lebih tinggi. Dia tahu, salah satu cara untuk terbebas dari cengkraman ibu dan kedua saudara tirinya adalah dengan menghadiri pesta dansa kerajaan. Siapa tahu, aku terpilih jadi pasangan hidup pangeran, pikirnya. Maka, dia berusaha membuat baju yang indah agar pantas dipandang mata.

Optimisme Cinderella langsung timbul ketika tahu petugas kerajaan mendatangi rumah-rumah penduduk di seluruh wilayah kerajaan.  Gadis-gadis diberi kesempatan untuk mencoba sepatu kaca putri idaman sang pangeran yang tertinggal di istana. Dengan bantuan teman-temannya, tikus-tikus kecil, perjuangan Cinderella berbuah hasil. Ia bisa mencoba sepatu tersebut dan sepatu itu pas di kakinya. Sang pangeran pun menikah dengannya.

Ariel dalam "Little Mermaid" juga bukan perempuan yang pasrah pada nasib. Ariel, sang putri duyung, anak bungsu Raja Triton, energik dan penggembira. Hobinya adalah mengumpulkan barang-barang milik manusia dari kapal-kapal yang karam. Tidak seperti kakak-kakak dan duyung-duyung lainnya, dia berani melanggar titah sang raja: tidak ada yang boleh pergi ke permukaan laut agar terhindar dari manusia.

Ariel memiliki impian menjadi manusia. Dia bosan dengan kehidupan di dalam air. "Pertemuannya" dengan seorang pangeran bernama Eric, membuatnya semakin ingin menjadi manusia. Dia bahkan rela menjual suaranya kepada Ursula, penyihir laut agar bisa berubah menjadi manusia.
 
Belle dalam "Beauty & The Beast", Mulan dalam "Mulan" dan Pocahontas dalam "Pocahontas" adalah perempuan-perempuan tangguh. Kepentingan pribadi bukan prioritas mereka. Belle rela bertukar tempat dengan ayahnya menjadi tahanan Beast. Mulan maju ke medan perang, menggantikan ayahnya karena dia tidak tega membayangkan ayahnya yang cacat karena perang, harus berhadapan dengan musuh sementara untuk berjalan saja, susah. Pocahontas berani melawan orang-orang Inggris yang hendak menginvasi tanah leluhurnya.

Tiana dalam "Princess & The Frog" dan Rapunzel dalam "Tangled" tidak senaif Snow White dan Aurora. Mereka memiliki impian pribadi, namun tidak berpangku tangan, menunggu nasib baik mendatangi mereka. Sebaliknya, mereka berjuang keras.

Tiana ingin memiliki restoran. Untuk itu dia bekerja dari pagi sampai malam supaya penghasilannya bisa ditabung. Sedangkan Rapunzel, dia memanfaatkan Flynn Rider, penipu dan pencuri yang nyasar bersembunyi di menara kediamannya. Dia memaksa Flynn Rider membawanya keluar dan mengantarnya ke tempat "bintang-bintang" yang selalu bersinar pada hari ulang tahunnya.

Berbeda dari Snow White dan Aurora, Tiana dan Rapunzel justru jadi pahlawan bagi pria dalam hidup mereka. Tianalah yang mengajarkan kepada Naveen, sang pangeran (masih dalam wujud kodok), cara menjalani hidup, yaitu dengan bekerja keras. Dan setelah berciuman dengan Tiana pula, keduanya dapat terbebas dari kutukan menjadi kodok. Demikian pula dengan Rapunzel. Dia yang menyadarkan Flynn Rider untuk tidak lagi menjadi pencuri. Dia pula yang menyelamatkan jiwa Flynn Rider dengan air matanya yang ternyata masih memiliki kekuatan menyembuhkan seperti rambutnya.

Saya gembira dan lega karena semakin hari, cerita-cerita Princess Disney semakin tidak bias gender. Saya termasuk perempuan yang berpandangan bahwa semua manusia, baik itu perempuan maupun laki-laki, dikaruniai Tuhan otak yang mampu berpikir. Manusia diberi kecerdasan. Jadi, perempuan bisa mencapai impiannya tanpa harus selalu bergantung pada laki-laki. Tinggal mau atau tidak.