Senin, 19 Maret 2012

Budaya Mandok Hata

Image: http://office.microsoft.com
Mandok hata, demikian orang Batak menyebut kebiasaan menyampaikan nasihat, sepatah atau dua patah kata. Mandok hata sangat penting bagi orang Batak. Jadi, tradisi itu tidak bakal dilewatkan dalam setiap peristiwa penting. Sebut saja, tardidi (pembaptisan), sidi (pengakuan iman), mangoli (menikah), mangapuli (kunjungan penghiburan bagi keluarga yang baru kehilangan anggota keluarga karena meninggal), bona taon (Tahun Baru).

Saya yakin, tradisi mandok hata diciptakan untuk tujuan yang baik. Namun, sering, bahkan terlalu sering, kesempatan untuk mandok hata itu disalahgunakan untuk mengagungkan diri sendiri (si pemberi nasihat). Semakin dia menganggap dirinya pandai, semakin panjang kata-kata yang dia ucapkan, semakin lama pula dia berbicara. Tak peduli orang lain harus berjuang menahan mata agar tidak tertutup saking mengantuk saat mendengarkan. Tak terpikir olehnya, alih-alih mendengarkan nasihatnya, orang yang dia nasihati malah merutuk dalam hati, ngeselin banget sih lo. Sapa elo?! Atau ngomel dalam bahasa Inggris, Shut up! Atau berteriak dalam bahasa Jerman, das ist gar nicht dein Bier!

Dulu, saya pernah mengalami kepahitan dalam kebiasaan mandok hata ini. Kala itu, ayah saya baru meninggal. Kumpulan kecil marga suami saya mengadakan acara mangapuli (penghiburan). Namun, bukannya terhibur, hati saya malah terluka.

Entah apa yang dipikirkan seseorang dari kumpulan itu. Apakah dia menganggap dirinya corong Tuhan atau tabib, saya tidak tahu. Yang saya tahu pasti, orang itu sudah menyalakan amarah dalam hati saya. Orang itu memberi nasihat kepada saya. Tetapi, kata-katanya sama sekali tidak berkaitan dengan kehilangan yang saya alami. Dia malah membahas urusan internal rumah tangga orang, yaitu soal anak - waktu itu saya dan suami memang belum punya anak. Dia mengucapkan tuduhan-tuduhan yang tidak akurat, yang intinya adalah kami belum juga mendapat anak karena kami orang berdosa. Tahu dari mana dia bahwa kami belum punya anak karena kami berdosa? Apakah dia sudah mewawancarai Dia yang Di Atas dan dapat jawaban kalau semua pasangan yang belum dikarunia anak itu karena berdosa?

Kemudian pria itu menjalankan ritus doa dan memercikkan air kepada saya dan suami saya   Dia berteriak-teriak kepada Tuhan seolah Tuhan tuli, menyuruhNya membersihkan tubuh saya. Kalau saja saya adalah bintang film atau pemain sinetron, saya akan berteriak sekeras-kerasnya kepadanya dan bilang, "Who do you think you are?! You don't know anything about me!!!"

Sejak itu, saya berjanji, saya tidak akan seperti mereka-mereka yang suka ngomong, menasihati orang panjang lebar, seolah jadi orang yang paling sempurna - kebetulan saya juga bukan tipe orang yang doyan menasihati orang, kalau orang tersebut tidak dekat dengan saya.

Dan ternyata, kesan buruk mandok hata tidak hanya saya alami, salah seorang generasi muda yang tidak doyan mendengar orang mandok hata sekaligus melakukan mandok hata. Dua orang dari generasi lama, yang sangat dekat dengan tradisi mandok hata, ternyata mulai merasakan sisi buruknya. Baru-baru ini bapak mertua saya pulang dari acara mangapuli juga. Dia marah-marah karena terpaksa dua jam duduk untuk mendengar orang mandok hata panjang lebar. Dua hari yang lalu, giliran tulang saya yang ngomel. Dia juga dari acara mangapuli. Dia bilang dalam bahasa Batak, yang bahasa Indonesianya kurang lebih  berbunyi begini,  "Kenapa sih panjang-panjang ngomong? Kan kasihan dia (orang tua yang dihibur karena anak perempuannya meninggal) belum tidur, sedih, disuruh dengar orang ngomong lama!"

Saya jadi berkesimpulan, mandok hata lama-lama adalah satu kebiasaan buruk orang Batak yang musti, kudu, harus, wajib dihilangkan. Mungkin orang Batak harus sering-sering nonton acara Mario Teguh. Dengan begitu, semakin banyak orang Batak yang mampu memberi motivasi dengan singkat, namun berbobot, disertai tujuan dan arah yang jelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar