Jumat, 10 Juni 2016

Jujur, Dasar Sikap Antikorupsi




Saya yakin, sebagian besar dari kita pernah complain petugas kasir karena kita diharuskan membayar lebih banyak dari yang seharusnya. Kasir salah input data. 

Nah, beberapa hari yang lalu, saya punya pengalaman lagi nih dengan petugas kasir. Setelah membayar, saya cek struk. Eh, belanjaan daging ayam tidak tercatat.
Mau jujur atau biarin aja? Toh salah petugas kasirnya ini. Lumayan lho harganya 35 ribu. Bisa 10 kali naik Transjakarta. 

Tapi, suara hati saya mengingatkan, apa iya, saya mau makan makanan yang didapat dengan cara yang tidak halal? Lagi pula, bisa saja, suatu hari nanti, saya berada di posisi yang sama. Tentu, saya akan senang kalau ada orang yang bersedia "mengembalikan" kepada saya apa yang harusnya menjadi hak saya. 

Akhirnya, saya putuskan untuk memberi tahu petugas kasir tentang kesalahannya dan saya pun kembali membuka dompet untuk membayar belanjaan daging ayam tersebut. 

Pengalaman itu mengingatkan saya pada salah satu materi yang disampaikan dalam sanggar kerja bertajuk Indonesia Membumi, yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pusat dari 17 s/d 19 Mei yang lalu di Jakarta. Materi tersebut adalah 9 nilai antikorupsi. 



Apa saja? 3 nilai inti, yaitu jujur, disiplin dan tanggung jawab; kerja keras, sederhana dan mandiri yang termasuk dalam 3 etos kerja  serta 3 sikap yaitu adil, berani serta peduli. 

Bagaimana pengalamanmu dengan kejujuran? [Nancy]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar