Selasa, 01 Maret 2016

Mendongeng ala Margaret Read MacDonald

Menurut para ahli perkembangan anak, mendongengkan cerita kepada anak banyak manfaatnya. Mendekatkan hubungan orangtua dengan anak. Mengembangkan daya imajinasi anak. Anak belajar nilai-nilai kehidupan dan bahasa.

Apakah mendongeng harus menggunakan alat peraga? Ternyata tidak juga lho. Begitu yang saya saksikan dalam dua kegiatan mendongeng Margaret Read MacDonald.

Margaret, si pencerita ekspresif /
 Foto: margaretreadmacdonald.com

Margaret adalah seorang pencerita/pendongeng, pustakawan dan penulis cerita anak berkebangsaan Amerika.

Ia sangat mencintai cerita-cerita rakyat. Itu sebabnya, ia mengumpulkan cerita rakyat dari berbagai negara dan menuliskan kembali. Sejumlah karyanya telah dibukukan dan diterbitkan. Fat Cat, Tuck Me In, Conejito, dan Go to Sleep Gecko - yang terakhir ini adalah cerita rakyat Bali adalah beberapa karyanya yang diterbitkan di Indonesia dalam dwibahasa oleh BPK Gunung Mulia.

Kali pertama saya bertemu Margaret adalah di acara "Storytelling Workshop" yang diadakan oleh Highscope Kuningan. Kali kedua di acara "Meet & Greet" yang diadakan sekokah NJIS Kelapa Gading.

Boleh dibilang, hampir tidak ada teori yang diajarkan oleh Margaret. Ia lebih banyak mempraktikkan caranya bercerita  Jangan bayangkan, ia bercerita dengan beraneka peralatan seperti yang lazim kita lihat dalam lomba-lomba bercerita. Tidak sama sekali. Perlengkapannya hanyalah buku dan dirinya.

Kadang ia bercerita dengan memampangkan buku yang jadi bahan ceritanya. Kadang ia bercerita luar kepala. Namun, yang menarik, ketika bercerita, ia mengekplorasi suaranya. Ia menggerakkan kaki dan tangannya. Aktif dan enerjik.

Yang tak kalah penting, ia mengajak audiensnya untuk menjadi tokoh-tokoh cerita. Kambing yang mengembik, anjing yang menggonggong, kucing yang mengeong, pintu yang berderit, dll.

Margaret berpesan, mulailah bercerita kepada anak. Bahkan, ia mendorong para ayah (para pria) agar mendongeng kepada anak. Siapa pun bisa mendongeng. Kuncinya, tidak perlu selalu berpatokan dengan isi buku. Ceritakan dengan cara yang paling kita suka.

Selamat mendongeng! [Nancy]

5 komentar:

  1. Dengan gaya cerita beliau pun jadi gak bikin ngantuk ya, mbak :)

    BalasHapus
  2. Tapi jangankan anak2... aku yg orang dewasa aja suka kalo denger pendongeng yg ekspresif

    BalasHapus
  3. Mendongeng bisa mengasah Imajinasi
    salam sukses

    BalasHapus
  4. kendalanya aku gak bia mendongeng mbak, jadi aku akali membacakan buku pada anak-anak

    BalasHapus
  5. di Indonesia rasanya budaya mendongeng makin tidak populer. saya sendiri dibesarkan dengan dongeng. pendongengnya adalah nenek saya. sayangnya keterampilan mendongeng nenek tidak terwariskan ke ibuk saya, hehe

    BalasHapus