Sabtu, 20 Februari 2016

Perempuan dan Keturunan dalam Pernikahan

"Kalau kau ingin mendapatkan kehormatan di keluarga ini, kau harus memberi mereka penerus. Seorang laki-laki lebih memilih perempuan yang bisa memberinya keturunan. Itulah kenyataan hidup," ujar seorang ibu kepada anak perempuannya.

Kisah itu saya ikut dengar di sebuah drama televisi India. Namun, itu bukan berarti kisah-kisah menyedihkan demikian tidak terjadi di dunia nyata. Ada. Banyak.

Anak, Generasi Penerus
Ayah, ibu, anak/Ilustrasi: gograph.com

"Selamat, ya. Semoga cepat dapat momongan." Pasti ada saja tamu yang mengucapkan harapan itu saat menyalam pengantin. Ya, kan?

Kok bisa begitu?

Pertama, karena pada umumnya, pasangan kekasih menikah karena ingin membentuk keluarga, mempunyai keturunan.

Kedua, hubungan seks memungkinkan terjadinya pembuahan saat sel sperma bertemu dengan sel telur.

Dan alasan pertamalah yang sering menimbulkan masalah dalam kehidupan berumah tangga. Tambah runyam kalau ada desakan dan tekanan dari orangtua yang tak sabar lagi ingin menimang cucu.

Diskriminasi terhadap Perempuan
Dari pelajaran biologi, kita tahu kalau pembuahan bisa terjadi kalau ada pertemuan antara sel sperma dan sel telur. Film Look Who's Talking (saya lupa, yang ke-1 atau sekuelnya) adalah salah satu film yang mengilustrasikan proses pembuahan.

Di awal film tersebut ditunjukkan ribuan sel sperma yang menyerupai kecebong, "berlomba", adu cepat menuju sebuah sel telur.

Sel sperma mendekati "garis akhir"/Ilustrasi: netdoctor.co.uk


Kemudian, satu-satunya sel sperma pemenang menembus dinding sel telur. Terjadilah pembuahan. Janin akan bertumbuh. Dan pada waktunya, lahir ke dunia dalam wujud bayi mungil.

Jelas bukan, untuk bisa punya anak, kedua belah pihak (suami dengan sel spermanya) dan istri dengan sel telurnya) harus bekerja sama dengan baik. Keduanya sama-sama punya peran. Namun, pada praktiknya, perempuan (istri) sering kali dijadikan pesakitan; memikul tanggung jawab atas ketidakhadiran anak. Sendirian.

Saya pernah menyaksikan sepasang suami istri didoakan agar segera dikaruniai anak. Isi doanya memojokkan sang istri. Permohonan dinaikkan agar penyakit diangkat dari rahim sang istri. Padahal, tidak ada percakapan sebelumnya antara si pendoa dan si pasutri. Mereka baru saja bertemu. Darimana si pendoa tahu? Bukankah juga ada kemungkinan, sperma suamilah yang tidak normal? Misalnya, sel-sel spermanya lemah. "Gugur" dalam perjalanan menuju sel telur. Atau, jumlahnya terlalu sedikit. Gerakannya yang tidak maju ke depan, tetapi membelok?

Macam-macam masalah sel sperma/Ilustrasi: fertility-docs.com


Pemeriksaan yang Berimbang
Ilmu pengetahuan berkembang. Teknologi informatika pun makin canggih. Jadi, seyogianya pola pikir insan manusia pun berkembang secara positif.

Pasutri yang tak kunjung punya anak, meskipun tidak menunda, harus sama-sama berkonsultasi pada dokter kandungan. Dokter akan menjelaskan langkah-langkah pemeriksaan yang harus dijalani kedua belah pihak. Begitu pula langkah-langkah mengusahakan terjadinya pembuahan, mulai dari cara alami sampai dengan bantuan teknologi.

Berdua Bersama
Kalau semua usaha sudah ditempuh, tapi hasil tetap nihil, haruskah pernikahan dibubarkan? Kita adalah manusia ciptaan-Nya. Kita lahir ke dunia atas seizin-Nya. Jadi, yang bisa kita lakukan adalah berserah dan bersyukur atas pasangan hidup. Berdua bersama dalam suka dan duka, dalam pasang dan surutnya kehidupan. [Nancy]

7 komentar:

  1. Nah pertanyaan berikutnya yg muncul bagaiamana jika sudah memgikuti berbagai pemeriksaan tetapi tetap belum mendapatkan keturunan...

    BalasHapus
  2. Tergantung pasutrinya, Ito. Mau berserah dan tetap rukun dalam bahtera rumah tangga yang sama, atau salah satu gak mau lagi nerusin perjalanan. Intinya, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

    BalasHapus
  3. Aku udah khatam nih kalo ditanya soal yang kayak begini sama orang. Dari didoakan sampai direndahkan. Akhirnya ya udahlah mati rasa dan milih menjauhi orang-orang yang selalu memberikan efek negatif. Toh nanti kalo memang sudah waktunya punya anak ya akan punya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut berempati, ya, Mbak Ratna. Saya pernah kok berada di posisi itu. Fighting, Mbak!

      Hapus
  4. kendalanya masih banyak yg menyalahkan pihak perempuan ya, tapi bisa diatasi sih kalau suami mau bekerja sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Ada juga lho kasus suami gak pengen ke dokter karena takut, dianya yang punya kekurangan.

      Hapus
  5. kakak ipar saya pulhan tahun ga dikarunia momongan tp mereka masih bersama dan angkat anak saudara :)

    BalasHapus