Kamis, 28 Januari 2016

Proses Kreatif Seri Kini Aku Tahu

Menulis adalah proses kreatif yang mengubah sebuah ide menjadi tulisan. Ide bisa datang dari mana saja
 
Para penulis yang sudah punya jam terbang tinggi, bilang, gunakan panca indramu saat menulis. Kalau saya memahami saran tersebut seperti ini. Kita pasti mengalami berbagai hal melalui indra-indra kita. Tidak hanya pengalaman pribadi, tetapi pengalaman orang lain. Misalnya lewat berita-berita yang kita baca di media cetak atau simak di televisi.
 
Saat menulis seri Kini Aku Tahu, saya memasukkan unsur-unsur tersebut, baik pengalaman saya pribadi maupun orang lain. 

Kue untuk Titi


Anak teman saya mengalami bullying di sekolah. Dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Pun sepupu saya. Dia sudah SMA. Belum lagi kasus-kasus lainnya dengan berbagai sebab. Media pernah memberitakan, ada anak yang mem-bully temannya gara-gara hal sepele, seperti es krim. 

Yang bikin hati tambah pilu, sering kali peristiwa bullying jadi "tontonan" gratis yang membuai para penontonnya. Seolah menyakiti orang lain itu wajar, lumrah dan sah-sah saja. Padahal, bullying itu harus diberantas.

  
Gara-gara Sonnabelle

Football lovers, pasti pernah tegang setengah mati waktu menyimak siaran pertandingannya, ya, kaaan? Saya sering melihat suami saya seperti itu. Berteriak keras, "Goool!" dan melompat dari tempat duduk saat pemain tim kesayangan berhasil menjebol pertahanan lawan.

Penggemar sinetron Indonesia atau telenovela Turki pasti suka ngedumel, sebel abis melihat tokoh antagonis punya segudang jurus bulus nan jahat untuk mencapai tujuannya. *Mertua saya salah satunya.

Atau, hati penyuka film romantis pasti sering ikut berbunga-bunga dan deg-degan saat menyaksikan bintang pujaan mengekspresikan rasa cintanya.*Saya banget, tuh.

Suatu hari, sepulang sekolah anak saya bercerita, "Teman-teman pada nonton Annabelle. Kenapa aku enggak boleh?" Ya jelas saja, saya tidak mengizinkan. Annabelle memang film yang mengisahkan boneka bernama sama. Tapi, boneka-nya kayak gimana dulu? Yaaa, namanya juga anak-anak. Mereka pikir, kalau di film ada tokoh anak-anak atau filmnya bernuansa anak-anak, sudah pasti cocok untuk mereka. Padahal, tidak selalu, kan.



Mei Mei Jadi Pengawas
Tahun 2013-2014, media ramai memberitakan tentang kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak. Pada tahun 2014, diberitakan pula bahwa pemerintah melabeli tahun tersebut dengan "Tahun Darurat Kekerasan Seksual pada Anak."

Selain riset media, saya juga mengikuti satu acara bincang-bincang mengenai pendidikan seks yang materinya dibawakan oleh Henny Wirawan. Ibu Henny adalah seorang psikolog yang telah menuliskan sejumlah buku tentang perempuan dan anak. Dua di antaranya adalah Anakku, Buah Hatiku dan Being Teens: Tanya Jawab Seputar Dunia Remaja.

Anak-anak perlu dibekali pengetahuan menjaga diri. Anak-anak harus tahu, mereka punya kedaulatan penuh atas tubuh mereka dan wajib menghormati kedaulatan tubuh orang lain. 


Misteri Sebuah Permen

Siapa sih yang tidak senang diberi sesuatu yang menyenangkan? Orang dewasa saja suka. Apalagi anak-anak.


Namun, tidak selamanya yang kelihatan menyenangkan itu baik adanya. Ada saja pihak-pihak yang ingin mencapai tujuan dengan cara-cara tidak terpuji. Masih ingat kasus pelajar yang teler setelah makan brownies?



Pesta Kostum Cika

“Mandi, Naaak,” seorang ibu atau ayah mengingatkan anaknya.

“Sebentar lagi. Masih main.”

Semenit, 2 menit,  5 menit kemudian, si anak enggak muncul-muncul.

“Naaak, mandi!” Suara si orang tua mulai naik 1 level.

Si anak datang dan masuk ke kamar mandi. 

Lima menit berlalu. Si anak tak kunjung keluar. Yang terdengar hanyalah suara, jebar, jebur, keplek, keplek, keplek.

“Cepat mandinya. Jangan buang-buang air!” 

Peristiwa di atas sering banget terjadi di rumah saya. Bagaimana di rumah Bunda dan Ayah?  
Rasanya, hampir semua anak suka main air. Enggak heran, momen berekreasi ke kolam renang pasti anak tunggu-tunggu. Main air seabrek-abrek gitu loh. 

Walau memikat, kolam renang bisa membahayakan keselamatan penggunanya jika tiada kehati-hatian. Anak saya pernah dua kali terpeleset di kolam renang karena kurang hati-hati.

---

Nah, Bunda dan Ayah yang mau bacakan isi kelima cerita di atas kepada buah hati tercinta, bisa membeli buku-bukunya Februari mendatang. Harganya Rp25.000 per judul. Para eyang, Tante atau Om juga boleh loh membaca buku-buku ini atau menghadiahi kepada cucu dan ponakan tersayang :)

Tschuess! 




4 komentar:

  1. judul bukunya bagus - bagus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, ya. Yuks, baca juga isinya, nanti kalau sudah terbit:)

      Hapus
  2. wah menunggu bukunya buat abhi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senangnya, Abhi suka baca buku :)

      Hapus