Jumat, 02 Oktober 2015

Surat Seorang Istri

Suamiku,

dua hari yang lalu, aku beres-beres lemari buku kita. Aku menemukan sebuah buku renungan. Sudah lama kubeli, tapi ternyata belum sempat kubaca. Penulisnya Andar Ismail.

Ada satu tulisannya yang membuatku jadi merenung. Pak Andar bilang, rumah tangga bahagia bukan karena jatuh cinta, melainkan karena bangun cinta.

Menurutnya, kita jatuh cinta dalam keadaan saling suka. Sebaliknya, kalau lagi jengkel, kita perlu bangun cinta. Seumur hidup.

Aku jadi terkenang waktu kita masih pacaran. Kau tidak marah waktu mendapati aku belum siap-siap. Padahal, kita sudah janjian dari kemarinnya untuk pergi jalan-jalan.

Bahkan, kau sangat sabar menungguku sejam berdandan. Ya, kau kan tahu, aku selalu ingin tampil rapi dan cantik.

Namun, setelah kita menikah, kau sering jengkel kalau aku membuatmu menunggu lama.

Kalau sudah kesal, kau akan menyuruh aku berangkat belakangan dengan anak-anak. Kau bilang, menunggu itu pekerjaan yang menyebalkan.

Menurutmu, aku tidak perlu lama-lama dandan. Tanpa make-up pun aku sudah cantik.

Waktu kita baru menikah, aku tidak keberatan merapikan kembali tumpukan pakaianmu yang amburadul gara-gara kau asal tarik sewaktu mengambil pakaian.

Tapi, sekarang? Pekerjaan itu sungguh membuatku kesal. Aku terpaksa mengomel karena aku capek berulang kali merapikan. Ada banyak pekerjaan rumah tangga lainnya yang harus kuselesaikan.

Itu baru dua contoh perbedaan kita yang membuat masing-masing kita kehilangan kesabaran. Belum lagi perbedaan lainnya.

Ah, Bapak Andar benar. Kita telah jatuh cinta. Kita telah sepakat untuk menikah. Aku jadi teman hidupmu dan kau jadi teman hidupku. Kini, tiba saatnya kita membangun cinta. Solusi atas masalah perbedaan di antara kita harus kita cari. Dengan begitu, aku senang, kau pun senang. Begitu pula anak-anak.

O, iya, di buku itu, Pak Andar juga kasih resep agar keluarga kita selamat dan bahagia: saling mengoreksi, berunding, menghargai, bertenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah, bertanggung jawab, memperhitungkan perasaan.

Kayaknya bagus juga kalau kita print resep itu dan kita bingkai sebagai pengingat.

Dengan cinta,
istrimu


Surat di atas adalah surat rekaan, meskipun pasti ada kemiripan dengan pengalaman pasutri di mana pun. 

Surat ini saya karang setelah saya membaca salah satu tulisan Andar Ismail dalam bukunya, Selamat Berteman.

3 komentar:

  1. semoga si suami baca postingan di blog ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meski ada kesamaan dengan kehidupan di dunia nyata, tokoh istri dan suratnya ini adalah rekaan, Mbak :)

      Terima kasih sudah mampir dan memberi komentar:)

      Hapus