Selasa, 27 Oktober 2015

Doa kepada sang Pemilik Langit dan Bumi

Minggu pagi, 25 Oktober 2015. Masih jam setengah tujuh kurang. Saya keluar rumah, hendak ke pasar. Langit kelabu. Kabut asap menggantung. Apakah ada yang membakar sampah? Sepertinya tidak. Kalau iya, pasti baunya sudah tercium.

"Gunung-gunung di Jawa juga terbakar karena saking kekeringan," kata suami saya. Ia rutin mengikuti berita.

Dalam hati, saya sangat khawatir dan sedih. Akankah kita dapat menanggulangi bencana asap karena kebakaran hutan ini? Akankah kabut asap menutupi seluruh Nusantara? Kapankah hujan akan turun? 
 
Benar saja. Pagi ini, saya membeli Kompas. Bara Api Kepung Lahan Nusantara, begitu bunyi headline-nya. Tragedi asap, begitu Kompas memberi judul pada secuil ilustrasi untuk menandakan halaman-halaman yang memberitakan tentang peristiwa kebakaran hutan.

Dalam perjalanan pagi ini, saya menuliskan sebuah doa permohonan. Doa kepada sang Pemilik langit dan bumi.

Doa kepada sang Pemilik Langit dan Bumi

Langit biru tak kami lihat lagi
sejak kabut asap menghampiri
o, Pemilik langit dan bumi
ampunilah kami
kasihanilah kami
manusia yang degil hati
yang menguras alam sesuka hati
iklim bumi jadi berantakan
kekeringan berkepanjangan
api melalap hutan-hutan

Kami mohon belas kasih-Mu
kami mohon ampunan-Mu
curahkanlah hujan-Mu
agar kami tak punah dari bumi-Mu
'tuk kembali melaksanakan perintah-Mu
merawat dan menjaga bumi tempat tinggal kami
sampai akhir hayat kami. 
Amin.

Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2015

4 komentar:

  1. Semoga Allah, Sang Pemilik Langit dan Bumi mendengar do'a dan permohonan kita, UmatNya. Aamiin. Gak terbayangkan kesesakan napas-napas mereka, seolah nyawa merek sudah diujung tanduk. Mencium bau asap sampah yang dibakar terang-terangan saja kita sudah pengap, apalagi ini hutan yang dibakar atau terbakar, hanya Allah Yang Maha Tahu, kapan penderitaan ini bisa diakhiri dan semua bisa menghirup kembali udara segar milikNya. Puisinya bagus, menyentuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bun. Kita manusia sendiri yang berulah. Yang harus menanggung kita juga. Itu yang gak disadari. Biar pun kita diciptakan lebih mulia dari makhluk lain, tapi kalau alam sudah rusak, kita hanya akan jadi makhluk yang tak berdaya.

      Hapus