Jumat, 18 September 2015

Simbol-Simbol Penanda


Kita pasti sering melihat simbol-simbol penanda di tempat-tempat fasilitas umum. Di pintu kamar mandi, misalnya. Gambar sosok perempuan berarti kamar mandi ditujukan untuk perempuan. Bayangkan, bagaimana reaksi para perempuan di dalam jika ada laki-laki masuk lantaran tidak mengerti makna simbol tersebut.

Kenapa sih simbol diciptakan? Tujuannya adalah untuk menghemat tulisan. Selain itu, agar pesan dapat cepat ditangkap. Bahasa gambar lebih mudah dipahami daripada bahasa tulisan.

Namun, fakta sering berbicara lain. Banyak pengguna fasilitas umum yang justru melakukan kebalikan dari makna simbol tersebut. Contoh, di jalan raya. Saat lampu merah, pengendara terus melaju. Di restoran terdapat plat bersimbol rokok menyala digaris miring. Namun, ada saja pengunjung yang merokok.

Simbol di Transportasi Umum
Kenal simbol ini?
Foto: Dok. Pribadi
Pengguna kereta dan Transjakarta pasti sering melihatnya. Simbol itu biasanya ditempel di jendela. Simbol tersebut adalah simbol penumpang prioritas. Lebih jelasnya lagi, penumpang yang berhak diutamakan mendapat tempat duduk di area stiker ditempel.

Siapa saja?

Paling kiri, sosok laki-laki memakai tongkat. Simbol untuk penumpang lanjut usia: nenek-nenek dan kakek-kakek, meskipun gambarnya hanya laki-laki.

Di sebelah kanannya, sosok perempuan mengandung. Simbol untuk ibu hamil. Bapak hamil? Hanya Albert Schwarzenegger yang bisa. Itu pun dalam film.

Selanjutnya, sosok perempuan memangku anak kecil. Simbol untuk penumpang yang membawa anak-anak. Bagi saya pribadi, apapun jenis kelamin orang dewasanya, selama ia membawa anak kecil, punya hak diberi tempat duduk.

Dari pengamatan saya selama jadi pengguna Transjakarta, simbol satu ini sering disalahartikan. Penumpang baru diberi duduk kalau anaknya masih bayi atau masih harus dipangku. Bagaimana dengan anak lainnya?

Gambar paling kanan menyimbolkan orang difabel. Apapun bentuk kekurangannya.

Simbol Berwarna
Tidak hanya simbol gambar, di Transjakarta gandeng ada simbol penanda tambahan: tempat duduk untuk penumpang prioritas berwarna merah. Layaknya lampu merah yang memerintahkan pengguna jalan berhenti, penumpang diminta berhenti untuk berpikir: apakah saya layak duduk di sini?

Setelah tahu makna simbol-simbol tersebut, harus bagaimana?

1. Sebelum duduk di Transjakarta gandeng, pastikan warna tempat duduk Anda tidak merah. Jika merah, STOP. Anda punya hak? Jika tidak, jangan duduki.

2. Anda tetap mendudukinya? Gak masalah selama Anda kemudian mau langsung berdiri tanpa diminta jika penumpang prioritas datang, sekalipun orang itu tidak berada di dekat Anda. Jangan malah pura-pura tidur. Atau, mengharapkan orang lain yang memberi. Andalah yang wajib berdiri karena mengambil hak duduk penumpang prioritas.

Yuk, jadi penumpang yang santun dan taat pada peraturan, tanpa diminta atau disuruh.

2 komentar:

  1. kadang ada yang pura-pura tidur mbak. Kalau aku naik kereta cari aman gak dikursi prioritas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Bagus kalau semua kayak Mbak Lidya. Kebanyakan dablek. Udah duduk di kursi prioritas, gak mau ngasih kepada yang berhak.

      Hapus