Selasa, 01 September 2015

Menyikapi Kekalahan




“Mama, aku juga mau piala!” tangis seorang anak setelah melihat tiga orang temannya mendapat piala. Hari itu, ia mengikuti perlombaan bercerita di sekolah. Namun, ia gagal menjadi pemenang.
Tak tega melihat kesedihan anaknya, pulang dari sekolah, sang ibu membeli piala di toko dan memberikan piala tersebut kepada si anak.
Cerita di atas adalah ilustrasi yang saya karang berdasarkan cerita nyata. Dan pasti masih ada banyak versi cerita lainnya menyangkut reaksi dan aksi anak serta orang tua menerima kekalahan dalam lomba.

Bersaing Menjadi Pemenang
Kita semua pasti suka jadi pemenang: juara kelas atau juara lomba. Dengan jadi pemenang, kita diakui memiliki keunggulan dari peserta lainnya. Apalagi, kalau saingan kita banyak.
Semua orang tua pun demikian. Ingin anak berprestasi dan menjuarai lomba yang diikuti. Bahkan, seringkali, orang tua justru bersikap lebih kompetitif ketimbang si anak sendiri yang mengikuti lomba. Saya pernah diminta produsen susu formula jadi anggota tim juri. Lombanya, lomba menggambar untuk anak TK. Saat penjurian, banyak orang tua yang hilir mudik atau ‘mengutus’ anak mereka untuk melewati meja juri untuk melihat karya-karya mana yang jadi pilihan juri.      
Pengalaman kedua, masih lomba menggambar, saya melihat banyak orang tua yang sibuk memberi komando kepada anak mereka. Bukannya membuat anak berkonsentrasi, mereka justru membuat anak-anak stres karena harus mendengarkan suara orang tua.

Menerima Kekalahan, Menerima Keunggulan Orang Lain
            “Pak, tidak ingin tahu peringkat anak?” tanya wali kelas anak saya ketika suami saya beranjak dari tempat duduk selesai menerima rapor kenaikan kelas.
Wali kelas memberi tahu bahwa anak kami mendapat peringkat 1. Jika kami ingin pernyataan tertulis dari sekolah, kami diminta menghubungi tata usaha dengan persetujuan kepala sekolah. Mengapa demikian? Menurut keterangan pihak sekolah, peringkat kelas memang tidak ditulis karena berdasarkan pengalaman, keterangan peringkat membuat anak-anak yang peringkatnya rendah, merasa minder.
Mengapa anak bisa merasa minder? Mungkin karena orang tua marah ketika melihat peringkat anak. Apalagi kalau anak sudah ikut les ini dan itu untuk menunjang prestasinya.
Mungkin juga karena orang tua menasihati dengan cara membandingkan-bandingkan. “Tuh, lihat si A juara 1. Masa kamu enggak bisa?”
Sikap orang tua yang demikian membuat anak merasa gagal. Anak merasa tidak dapat membanggakan hati orang tua. Anak takut, rasa cinta orang tua kepadanya akan berkurang. Sikap itu sekaligus menunjukkan bahwa orang juga tidak siap menerima kegagalan anak.
Para psikolog mengingatkan orang tua untuk tidak hanya mendorong anak untuk mendapat kemenangan. Orang tua juga wajib menyiapkan anak dan diri sendiri—ini tambahan dari saya mengingat banyak orang tua yang lebih ambisius ketimbang anak mereka—untuk menerima kekalahan.
Orang tua wajib melatih diri sendiri dan anak untuk dapat menerima kekalahan secara positif. Kekalahan membuat anak berusaha memperbaiki kesalahan dan lebih tekun berusaha serta berlatih.
Orang tua wajib menolong anak dan diri sendiri menerima fakta bahwa memang ada orang yang lebih unggul di bidang-bidang tertentu; bahwa anak tidak harus sempurna di semua bidang.
Dan yang jauh lebih penting, menanamkan prinsip kepada anak dan diri sendiri bahwa kalah setelah tekun berusaha dan berlatih berlandaskan kejujuran itulah yang disebut kemenangan sejati; bukan menang dengan cara-cara yang tidak terpuji.
             



6 komentar:

  1. menanamkan jiwa berjuang dan berbesar hati jika mengalami kekalahan ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Tersenyum saat menang itu mudah. Tersenyum saat kalah itu susah.

      Hapus
  2. Temennya anakku juga ada yang nangis klao lomba ngga dapet piala, sampe ibunya pinjem piala sekolahan dulu biar ga nangis anaknya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak kecil memang belum ngerti kalau dalam lomba, hanya pemenang yang dapat hadiah. Tugasnya orang tua mengarahkan.

      Hapus
  3. kekalahan itu (konon) kemenangan yang tertunda
    tapi, ga semua orang bisa menyikapinya...

    saya sendiri sampe sekarang masih ngenes waktu liat juventus kalah di final liga champions (sepak bola)
    padahal itu udah lewat tiga bulan
    he he he

    BalasHapus
  4. Iya, apalagi kalau si pemenang orang yang ia gak suka. Makin tambah gak nerima.

    Hehehe ... cinta itu buta ya, Mas Choirul Huda

    BalasHapus