Sabtu, 25 Juli 2015

Mpok Siti, Saya Kecewa!

Namanya mpok siti. Ia hanya bisa kita temui di ibukota RI. Tapi, mpok siti bukan seorang perempuan Betawi, lho. Nama itu adalah sebutan untuk Jakarta city tour bus. Disebut 'mpok' karena semua pengemudi bus tingkat ini perempuan. 'Siti' diambil dari kata city.

Bus Tur Kota Jakarta sudah beroperasi sejak Februari 2014. Tapi, saya dan keluarga baru merasakan jalan-jalan singkat dengan bus wisata tersebut Selasa lalu (21/7).

Dulu Jakarta juga punya bus tingkat /Foto: Dok. Pribadi
Sebelumnya, saya mencari situs resmi mpok siti. Saya ingin tahu lokasi halte pertama double decker itu. Halte pertama pasti masih kosong. Seluruh rute bakal dijalani. Namun, pencarian saya nihil.

Akun twitter mpok siti ada. Namun, pertanyaan saya tidak dijawab. Entahlah, mungkin mimin-nya sedang liburan Lebaran.

Kami memutuskan menunggu di halte balaikota. Mpok siti pasti kosong, pikir kami. Jalanan saja lengang. Banyak yang mudik.

Dugaan kami meleset. Calon penumpang sudah berjubel di halte.

Beginilah animo warga terhadap mpok siti /Foto: Marsaulina

Waktu menunggu bus 10 menit. Ketiadaan petugas halte dan tata tertib memicu kekacauan dan perilaku 'semau gue'. Begitu bus berhenti, para calon penumpang berebut naik. Tak ada urutan antrean: yang duluan menunggu, duluan naik. Yang berlaku justru premanisme: siapa cepat, dia dapat dengan cara serobot, dorong dan sikut.

Situasi di halte Transjakarta yang pakai antrean saja masih morat-marit, apalagi situasi di halte bus wisata kota yang tak kenal antrean. Bagaimana turis asing tertarik untuk menjajal? Mereka terbiasa tertib antre!

Yang lebih parah lagi, tidak ada aturan, berapa putaran tiap penumpang boleh ikuti. Tiga bus lewat, saya dan keluarga tak kunjung bisa naik. Bus berkapasitas 19 orang di lantai 1 dan 49 orang di lantai 2 itu selalu penuh. Kesimpulannya, kami tak mungkin bisa naik bersamaan. Harus sebagian-sebagian.

"Halte pertama di mana, Mas? Bus pertama keluar dari halte mana?" tanya saya.

"Dari mana-mana, Bu."

Saya sungguh tak paham jawaban itu. Bukankah lazim, ada halte pertama dan terakhir di tiap rute angkutan?

Patah arang, kami memutuskan untuk cabut dan makan siang. Sepanjang perjalanan, anak saya meratapi kekecewaannya. "Aku mau naik bus tingkat. Aku kan harus tulis buku harian. Aku belum punya pengalaman naik bus tingkat."

Iba, kakak saya mengajak kami menunggu bus wisata di halte Sarinah selesai makan siang. Kondisinya nyaris sebelas dua belas: banyak orang menunggu tanpa antrean.

Bus pertama dan kedua tak dapat kami naiki. Akhirnya, Tante dan anak saya berhasil naik bus ketiga. Tante saya dapat tempat duduk. Anak saya dipangkunya.

Namun, sejurus kemudian, mereka turun lagi. Petugas mengatakan, tiap orang harus duduk. Tidak boleh ada yang dipangku.

Sayang sekali, aturan tersebut tidak konsisten dijalankan. Saat bus berangkat, kami melihat, ada anak sebesar anak saya yang dipangku dalam bus itu.

Tak ingin gagal lagi dan diserobot orang-orang yang tak mau antre, saya dan keluarga menyusun strategi. Ketika bus datang, kami berhasil menempati spot strategis di depan pintu masuk. Kebetulan, yang turun, banyak.

"Delapan orang!" petugas pintu mengumumkan setelah mengecek jumlah tempat duduk yang tersedia.

Kami bertujuh masuk. Saat masuk, terjadi insiden kecil. Ibu saya sempat terjatuh karena didorong orang di belakangnya. Untunglah ibu saya tidak terluka.

Impian naik bus tingkat tercapai! / Foto: Marsaulina

Saya akui, bus wisata kota nyaman dikendarai. Bersih, sejuk dan semua duduk. Plus gratis. Namun, hanya itu kelebihannya.

Situasi di tingkat 2 bus wisata mpok siti / Foto: Dok. Pribadi

Penamaan bus wisata tidak lagi tepat karena tujuan pengadaan bus tidak tercapai. Tak ada lagi jasa pemandu. Pemandu yang bisa menjelaskan apa nama bangunan, monumen atau tempat yang dilewati, nilai historisnya, dll.; informasi yang bisa menambah wawasan penumpang.


Monas yang padat pengunjung / Foto: Marsaulina
Hayo, gedung apa ini? / Foto: Marsaulina

Hm, Pak Ahok dan dinas pariwisata DKI musti evaluasi nih soal bus wisata. Masihkah representatif dan pas disebut bus wisata keliling Jakarta? Untuk turis asing atau domestik. Pun bagi warga Jakarta sendiri agar mereka menyayangi Jakarta, kota mereka.

Selain itu, penyediaan fasilitas umum seyogianya tidak setengah hati. Alih-alih memajukan warga, malah mendorong warga jadi terbiasa dengan kondisi tidak tertib dan 'suka-suka hati gue-lah'.

----

Tips naik bus mpok siti:
1. Kalau bisa, hindari naik saat liburan kalau tidak ingin repot bersaing dengan sesama calon penumpang. Gak kenal antrean!
2. Saat hari libur, sebisa mungkin datang sebelum waktu operasional. Persaingan akan lebih longgar.
3. Penumpang lansia sebaiknya naik mpok siti di hari kerja saja demi keselamatan dan kenyamanan. Bus jauh lebih lowong. 
4. Bawa topi dan air minum untuk mengurangi efek negatif sengatan terik matahari.
5. Siap bergerak cepat dan lincah. Tapi gak pakai jurus beringas ala sikut dan dorong, ya.
6. Bawa kamera. Hanya saja, untuk dapat hasil optimal harus menggunakan kamera yang canggih. Mengambil foto saat bus bergerak, tentu tidak mudah.
7. Sebelum naik, cari tahu tentang bangunan dan tempat yang termasuk dalam rute supaya tidak bengong saat melewatinya. Kan gak ada pemandu ....
8. Kalau sudah naik, ingat turun, ya. 1x putaran aja kalau lagi banyak peminat. Gantian dong biar sama-sama bisa merasakan naik bus mpok siti.

5 komentar:

  1. Ya ampuun, masa sih gak ada yang jaga di Halte? Trus di dalam bis gak ada Pemandunya. Kumaha pegimana sih, ya. Padahal udah tau kan, kalo warga itu susah banget kalo untuk disiplin, Mau niru Jepang? Mimpi kallleee... Yah, gak aada harapan deh buat si makbunbun untuk naik Mpok Siti, bisa-bisa disikut penumpang lain, gabruk aja, jatoh melintang keinjek-injek..hiii...meri..ops maksudnya ngeriii..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, iya, Bunda Yati. Kalau mau naik mpok siti, Bunda kudu nguasain jurus kungfu Panda atau Jackie Chan. Enggak ada tertib-tertibnya!

      Hapus
  2. penuh perjuangan ya mbak naik mpok siti. walau kecewa akhirnya bisa juga naik. Terima kasih tipsnya, aku belum pernah naik mpo siti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, Mbak. Sampai pindah halte. Waktu nunggu di halte balaikota, banyak juga yang enggak jadi naik karena hopeless enggak bisa naik. Benar-benar hukum rimba.

      Hapus
  3. mungkin karena gratis jadinya tidak ada pemasukan sehingga tidak ada namanya petugas yg woro-woro dan penjagaan yang ketat saat antri, saya pernah naik sekali mbak, waktu itu sabtu siang dan antrian belum banyak, itu sekitar bulan Juni awal

    o iya ini saya link kanlangsung ke postingan saya tentang menanam dgn pot, jadi tanpa lahan, semoga bermanfaat ya mbak, makasih sudah mampir ke rumah

    BalasHapus