Selasa, 12 Mei 2015

Puisi Esai: Percayakah Kau?




Percayakah Kau?
Oleh Nancy Sitohang


Ganja, ekstasi?
Kokain, heroin?
Ktamine, lysergide?
Shabu, inhalants dan erimin-5?
Itu narkotika dan obat-obatan terlarang.1

Mereka membawamu melayang,
tinggi ke atas awan.
Lupakan nada-nada falcetto ayah bunda.
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri seberang!”
“Besar pasak daripada tiang!”
“Beranak pinak!” 
Happy, prima berenergi.

Tapi, kemudian kau meringis,
menangis,
mengamuk bengis,
depresi.
Mau lagi, lagi dan lagi,
sampai akhirnya 
farewell,
see you in hell.2

See, aku tahu.
Kau tahu.
Mereka pun tahu.
Genderang perang terus ditabuh.
“Bebaskan diri dari belenggu narkoba!”
“Selamatkan jiwamu, hai manusia, tua dan muda!”


Pssst, ini yang belum kau tahu.
Aku ... Pornografi,
Narkoba bentuk baru.3
Kau.
Dia.
Mereka.
Kalian.
Tak kenal usia.
Tak kenal golongan sosial.
Semua yang berkenalan denganku,
akan jadi budak-budakku.
Jadi manusia setengah monster.

Banyak orang tidak tahu.
Ada yang tahu, tapi menganggapku angin lalu.4

Apa katamu???
“Aku tak percaya!”
“Kau terlalu tinggi hati!”
“Omong kosong!”
 “Kau gila!”

Kau mau bukti?
Mari kutunjukkan.

Cari aku.
Temui aku.
Tak perlu kau risau.
Aku hanya sejauh jemarimu menari,
menjelajahi tuts-tuts PC, notebook, smartphone.
‘Sex’ terpampang di mesin pencari.5


Buka ....
Bukaaaa ....
Lihat ….
Lihaaaat ….

Kau mengagumiku semalam suntuk.
Tak sedetik pun terasa kantuk.

Kau mulai mabuk kepayang.
Mau lagi, lagi dan lagi.
Bagai makan tak kunjung kenyang.
Bagai api tak mau padam.

Suara di kepalamu mulai merutuk.
Tambah porsinya!
Tambah macamnya!
Bosan yang biasa!
Mau yang tak biasa!6

“Kau berubah,” kata kekasihmu.
“Jangan hanya bilang ‘cinta’! Buktikan!” sergahmu.
“Cinta tak harus berbagi tubuh. Gerbang pernikahan belum terbuka.”

Kau memandang garang.
Tiba-tiba, tubuhnya kau rengkuh.
Dia meronta.
Dia menjerit.

Kau bungkam nuranimu.
Kau padamkan akal sehatmu.
Kau lepaskan kemanusiaanmu.
Kau kenakan kebinatanganmu.

Kau rampas hak atas tubuhnya.
Dia terkulai.
Bagai tanaman yang tercerabut dari akar.
Bulir-bulir air matanya berjatuhan.
Cahaya wajahnya kini memudar.

Alih-alih peduli,
kau malah tersenyum.
Puas.
Lepas.
Untuk sesaat.

Dia benar, Kawan.
Kau berubah sejak berkenalan denganku.
Dulu, kau menghormati perempuan.
Kini, di matamu perempuan hanyalah obyek seks.
Dulu, kau haramkan seks di luar nikah.
Kini, kau penganut free sex.
Dulu, kau meyakini ada cinta untuk setiap insan.
Kini, kau bilang, hidup bisa berjalan tanpa cinta.7

Malang tak dapat kau tolak.
IMS dan AIDS datang menyergap.8
Tubuhmu yang sehat dan bugar hanya tinggal kenangan.
Zombie, itulah sosokmu kini.

Hei, hei! Jangan begitu, Kawan.
Bukan tugasku menyadarkanmu.
Aku bukan pemuka agama.
Bukan konselor kejiwaan.
Aku mesin bisnis pemuas nafsu duniawi.
Menjebak tugasku.
Uang tujuan para penciptaku.
Siapa menyukaiku, akan mencintaiku setengah mati.
Tanpa peringatan, tanpa pengumuman:
risiko tanggung sendiri.9

Sudah kubilang,
Aku ... Pornografi,
Narkoba bentuk baru.
Semua yang berkenalan denganku,
akan jadi budak-budakku.
Jadi manusia setengah monster.
Seperti warewolf.
Seperti drakula.
Mencari mangsa.
Tanpa disadari.10

Percayalah!

Catatan Kaki

1. http://kesehatan.kompasiana.com/alternatif/2014/03/24/jenis-jenis-narkoba-dan-dampaknya-642994.html

 

Penyalahgunaan narkoba adalah salah satu permasalahan nasional. Jumlah pengguna narkoba, khususnya di kalangan generasi  muda, meningkat. Untuk menanggulanginya, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2002 menggantikan BKNN (Badan Koordinasi Narkotika Nasional) dengan Badan Narkotika Nasional (BNN).

BNN menyosialisasikan kepada masyarakat bahaya penyalahgunaan narkoba melalui berbagai media. Salah satunya, media cetak berupa brosur yang merinci jenis-jenis narkoba dan dampaknya.


Kekayaan jenis flora Indonesia sangat besar. Penduduk, khususnya yang masih tinggal di tempat-tempat yang masih asri, biasa memanfaatkan sumber daya alam untuk kehidupan sehari-harinya. Di Aceh, misalnya, daun ganja digunakan sebagai bumbu penyedap masakan.

Beberapa zat narkotika juga digunakan di dunia medis. Morfin diberikan kepada pasien paskaoperasi untuk mengurangi rasa sakit. Valium dan diazepam diberikan  kepada pasien dengan gangguan tidur berat agar mereka dapat beristirahat dengan lebih baik di malam hari.

Namun, sayang sekali, ada saja orang yang menyalahgunakan narkoba. Narkoba dipakai untuk bersenang-senang. Narkoba dijadikan tempat pelarian dari stres dan masalah. Penyalahgunaan tersebut disertai ketidaktahuan bahwa narkoba dapat menimbulkan efek ketagihan. Pemakaian yang terus-menerus merusak saraf dan organ-organ tubuh serta berujung pada kematian.


Pornografi adalah narkoba bentuk baru. Secara fisik, pornografi tidak sama dengan narkoba. Namun, cara kerja pornografi mempengaruhi otakmu sama dengan cara kerja narkoba. Pornografi dan narkoba sama-sama menyebabkan penggunanya kecanduan.

Ketika seseorang melihat pornografi dan merasa senang, otak mengeluarkan zat-zat kimiawi. Salah satunya bernama dopamine. Dopamine menyebabkan si pengguna mengingat rasa senang yang ditimbulkan dari kegiatan melihat pornografi. Pengalaman pertama meninggalkan jejak di otak. Si pengguna terdorong untuk melihat kegiatan “menyenangkan” itu lagi dan lagi. Dengan kata lain, ia telah menjadi pecandu pornografi.


Pornografi menyebar luas, menjangkit bagai wabah. Dalam makalahnya yang berjudul Pornografi, Remaja dan Teknologi Informasi: Pekerjaan Rumah Indonesia”, Peri Farouk menyatakan bahwa masyarakat cenderung permisif terhadap seks. Tontonan seks (pornografi) tidak lagi terlalu dianggap tabu. Masyarakat tidak lagi berpegang teguh pada norma-norma. Masyarakat cenderung memercayai asumsi-asumsi seperti menonton pornografi adalah kebebasan tiap orang, menonton pornografi tidak memiliki dampak negatif.


Berdasarkan Undang-Undang tentang Pornografi, yaitu UU NO. 44 TAHUN 2008, Pasal 42, pemerintah melalui Peraturan Presiden Perpres No. 25 Tahun 2012, membentuk Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi (GTP3). GTP3 bertugas mengoordinasikan upaya pencegahan dan penanganan pornografi.

Tidak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi informasi berperan besar dalam penyebaran pornografi. Di tiap rumah tangga, pasti ada gadget, entah itu, PC, notebook, apalagi smartphone. Berbekal internet, tiap pengguna gadget dapat mengakses informasi tentang apa pun, dari mana pun. Internet sudah jadi kebutuhan masyarakat masa kini. Tak heran, muncul jargon “Tanyakan pada Mbah Google”.

Dalam makalah “Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi”, GTP3 menyampaikan fakta bahwa kata ‘sex’ menduduki peringkat pertama dalam mesin pencarian di internet. Setiap hari, terjadi 68 juta pencarian topik seks.


Pornografi mengubah otak kita. Ketika seseorang merasa senang melakukan sesuatu, otak memproduksi zat-zat kimiawi, dopamine, salah satunya. Dopamine kemudian membentuk kebiasaan. Begitu pula kegiatan menonton pornografi. Sekali menonton pornografi, orang ingin menonton lagi dan lagi. Frekuensi yang bertambah meningkatkan produksi dopamine di otak. Untuk mengatasi jumlah dopamine yang berlebih, otak secara otomatis mengurangi dopamine receptor. Akibatnya, pencandu pornografi tidak lagi merasa puas. Ia menonton lebih banyak lagi pornografi. Tontonan pornografi yang biasa-biasa saja, tidak lagi dapat memuaskan keinginannya. Ia mulai mencari tontonan pornografi yang ekstrem, tidak wajar dan sarat kekerasan.


Pornografi berdampak pada hubungan dengan sesama. Pornografi berdampak pada kehidupan bermasyarakat.

Pornografi seringkali memperlihatkan perempuan sebagai obyek seks. Perempuan dalam pornografi selalu dipotret sebagai sosok yang bersedia dengan senang hati memenuhi kebutuhan seks laki-laki (pasangan atau orang yang tak ia kenal!), kapan pun, bagaimana pun caranya, bahkan sekalipun dengan kekerasan. Padahal, perempuan punya hak atas tubuhnya. Perempuan berhak untuk beristirahat saat merasa lelah. Perempuan berhak berhubungan seks, hanya ketika ia mau melakukannya. Perempuan berhak menikmati hubungan seks yang didasari cinta dan kasih sayang serta bebas dari kekerasan.

Para pengguna pornografi mulai meyakini doktrinasi keliru yang disampaikan pornografi. Hasil penelitian tentang dampak pornografi menyatakan hal-hal berikut. Semakin sering seseorang terpapar pornografi, ia akan cenderung berpikiran bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. Setelah melihat pornografi, mereka yang sudah punya pasangan, cenderung kurang mencintai pasangannya. Setelah menikmati pornografi, orang mulai kritis terhadap penampilan pasangannya. Keingintahuan dan kebutuhannya akan seks meningkat dan harus selalu dipuaskan.


Banyak orang, khususnya generasi muda, yang menjadikan pornografi sebagai media edukasi seks. Padahal, pendidikan seks dalam pornografi sangat keliru. Di dalam pornografi, hubungan seks bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dan dengan siapa saja hanya untuk memuaskan hasrat seksual. Hubungan seksual dengan orang yang tak dikenal itu hal biasa. Berganti-ganti pasangan itu lumrah.

Pada kenyataannya, perilaku tersebut berisiko tinggi terhadap kesehatan dan masa depan. Hubungan seksual pranikah seyogianya dijauhi karena hubungan seksual bisa mengakibatkan kehamilan. Seks bebas bisa mendatangkan IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS yang berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh.


Dalam makalah “Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi”, GTP3 menyampaikan fakta fantastis bahwa industri pornografi menghasilkan keuntungan kurang lebih sebesar 13.000.000.000 dolar Amerika. Angka tersebut bahkan melebihi angka gabungan keuntungan beberapa perusahaan teknologi, seperti Google, Amazon, e-Bay, Yahoo, Apple, Netflix dan EarthLink.


Jersey Jaxin, seorang mantan bintang porno menyatakan, You’re viewed as an object and not as a human with a spirit. People do drugs because they can’t deal with the way they are being treated. Seventy five percent [of porn performers] and rising are using drugs. Have to numb themselves ... because all they care about is the money.”


Dalam tulisannya “Mengenal Gugus Tugas dan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Pornografi”, Imam Syaukani menyatakan bahwa pornografi menumbuhkan sikap dan perilaku antisosial. Kaum laki-laki lebih agresif terhadap kaum perempuan. Masyarakat kurang responsif terhadap penderitaan, kekerasan dan tindakan perkosaan. Kekerasan dijadikan bagian dari seks. Akibatnya, tindak kejahatan seksual meningkat, secara kuantitas maupun jenisnya seperti pemerkosaan, incest, sodomi, bahkan penyerangan terhadap binatang untuk melampiaskan hasrat seksual.

***
Tanggal 27 September tahun lalu, saya mengirimkan sebuah puisi esai kepada panitia Lomba Puisi Esai 2014 Denny JA. Saya harus menunggu sekitar 7 ½ bulan untuk menayangkan buah pikiran saya tersebut di blog saya ini lantaran menunggu pengumuman hasil lomba. 

Pengumuman sudah keluar. Saya belum berhasil menjadi salah satu pemenang. Menulis puisi memang bukan perkara yang mudah bagi saya. Namun, tidak jadi masalah. Yang penting, saya menuliskannya sebagai bentuk kepedulian saya.

Apa sih puisi esai? Menurut Denny JA, puisi esai adalah puisi yang membahas tentang suatu masalah sosial. Jadi, harus memiliki data pendukung. Data bisa diambil dari berita-berita di media atau pun lembaga-lembaga terkait.

Di Lomba Puisi Esai 2013 saya mengangkat tema kekerasan seksual terhadap anak. Di Lomba Puisi Esai 2014, saya menyoroti persoalan pornografi. 

Saya punya harapan besar, makin banyak orang yang menyadari kalau pornografi setali tiga uang dengan narkoba: sama-sama berbahaya. Semoga.




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar