Rabu, 01 April 2015

Seks Pranikah? No Way!




Suatu hari, saat menginap di rumah ibu, saya mendapati beberapa CD film. Di antara CD-CD tersebut ada Personal Taste milik saya yang lama hilang sejak dipinjam adik saya dan belum sempat saya tonton. Adik saya itu memang juara cuek, deh.
Sudah tahu, dong, kelanjutan cerita saya … yup, saya segera menonton film tersebut. Ngebut … dua hari berturut-turut di suatu akhir pekan.  
Ceritanya tentang Jeon Jin-ho (diperankan oleh Lee Min Ho), seorang arsitek yang menyewa kamar di rumah seorang desainer furnitur, Park Kae-in (diperankan oleh Son Ye-Jin). Kenapa bisa laki-laki dan perempuan yang belum menikah tinggal serumah? Karena si arsitek mengaku dirinya gay. Makanya, si desainer merasa aman. Lagi pula,  dia bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi lantaran pujaan hatinya dan temannya berkhianat. Diam-diam mereka berpacaran dan bahkan berniat menikah.
Ya, namanya juga drama. Di dunia nyata, ngeri kalilah serumah dengan orang asing, meskipun seorang gay. Bagaimana kalau dia buronan penjahat? Atau seorang psikopat? Hiii ….
Nah, ada bagian yang menarik perhatian saya, yang membuat saya membuat tulisan ini. Diceritakan, si arsitek tuh ternyata laki-laki tulen. Di luar rencananya, dia jatuh cinta pada si desainer. Gayung bersambut, jadilah mereka pasangan kekasih.
Siapa, sih, yang waktu pacaran enggak pengen dekat-dekat sama pujaan hati? Pasti maunya dekat terus, kan? Jadi, bisa bayangin, dong, gimana salting kedua sejoli itu ketika masih saja tinggal serumah, meskipun lain kamar. 
     Awalnya, saya salut dengan penulis cerita dan sutradara ketika kedua anak manusia itu diceritakan menahan gejolak untuk bermesra-mesraan. Bagus, tidak boleh ada seks sebelum menikah.
Kekaguman saya tak berlangsung lama. Idealisme tentang hubungan pasangan kekasih yang menjalin hubungan tanpa hubungan seks pupus. Cerita berlanjut. Waktu berlalu. Pasangan kekasih itu pada akhirnya melakukan hubungan seks pranikah. Saya sangat kecewa. Bagi saya, film tersebut memberi pesan yang sesat kepada penontonnya.

Seks Pranikah di Tengah Masyarakat yang Permisif
Benar kata Feri Parouk dalam makalahnya berjudul Pornografi, Remaja dan Teknologi Informasi: Pekerjaan Rumah Indonesia. Masyarakat sekarang permisif (KBBI: terbuka, mengizinkan) dan anomi (KBBI: apatis), tulisnya. Seks di luar nikah yang dulu dianggap tabu, kini dipandang sebagai hal yang biasa.
Padahal, seks pranikah sangat berbahaya. Henny Wirawan dalam buku barunya terbitan BPK Gunung Mulia berjudul Being Teens: Tanya Jawab Seputar Dunia Remaja, merinci antara lain kehamilan, penyakit kelamin dan kehidupan pernikahan (yang dipaksakan). Belum lagi, tekanan psikologis yang mengikuti, seperti perasaan bersalah pasca aborsi. Atau, kematian akibat penyakit kelamin dan aborsi. 
Jika laki-laki dan perempuan yang melakukan seks pranikah mau memikul risiko perbuatan mereka bersama-sama, tentu benang yang kusut akan lebih cepat diurai. Namun, apa jadinya kalau salah satu pihak lari dari tanggung jawab? Biasanya, nih, laki-laki yang pengecut, ambil langkah seribu. Pihak perempuanlah yang paling sering dirugikan.

Pendidikan Seks Sejak Dini dan Berkesinambungan
Oleh sebab itu, yuk, kita kembali kepada norma-norma baik, entah itu norma susila maupun norma agama, yang dipegang teguh oleh para tetua. Mari kita didik anak kita untuk menghargai diri sendiri dan orang lain, khususnya dalam berelasi dengan orang lain dan lawan jenis.
Sejak dini, anak laki-laki harus diajari menghormati perempuan. Kalau bercanda, anak laki-laki tidak boleh mengangkat rok teman perempuan, begitu salah satu contoh pendidikan seks yang diberikan Henny Wirawan dalam talkshow Remaja dan Pornografi di BPK Gunung Mulia, tanggal 28 Februari 2015.
Masih menurut Henny Wirawan, orangtua juga perlu mengajari anak sejak dini mengenai body map. Mulut, dada (payudara), vagina/penis, dan dubur adalah anggota tubuh yang harus dijaga baik-baik serta tidak boleh disentuh oleh orang lain. Anak juga harus diingatkan untuk tidak menyentuh bagian-bagian terlarang itu di tubuh orang lain. 
    Beranjak dewasa, anak (laki-laki) harus diajari untuk terus menghormati teman perempuan. Tidak meminta hubungan seks sebagai bukti cinta, apalagi memaksa! Memaksa melakukan hubungan seks setali tiga uang dengan memerkosa! 
    Laki-laki atau perempuan yang belum menikah juga wajib menolak ajakan melakukan hubungan seks.
    Hubungan pertemanan dan kasih justru harus jadi sarana untuk mendewasakan dan mengembangkan diri ke arah yang positif.
Saya percaya, pendidikan seks yang benar sejak dini dan berkesinambungan akan membantu anak-anak kita menjadi pribadi-pribadi yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam berelasi. 
    Sebagai penyempurna dari semua itu, doakan anak-anak kita agar tumbuh menjadi individu-individu berkepribadian mulia.  

2 komentar:

  1. Sy pernah baca quote nya klo gak salah di serail drama ini ttg sek pranikah itu. Dan si pemerannya ceweknya itu klo gak salah menjunjung tinggi kehormatannya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku gak terlalu ngeh, Mbak. Tapi, pd akhirnya, mereka melakukan kok. Si perempuan berderai air mata ....

      Hapus