Kamis, 19 Februari 2015

Jangan Ada Stereotip di Antara Kita

Buku punya sampul, manusia dianugerahi perawakan. Antara satu manusia dengan manusia yang lain, pasti ada perbedaan.  Ada yang kulitnya putih, sawo matang, kuning langsat, dan hitam. Sebagian bermata bulat, sebagian lagi bermata sipit. Ada yang rambutnya kriwil, ada yang lurus. Warna rambut pun berbeda: hitam, cokelat, atau pirang.

Ciri-ciri fisik tersebutlah yang umumnya dipakai untuk menandai suku bangsa atau ras tertentu. Orang Eropa biasanya berambut pirang atau cokelat, bermata bulat, berkulit putih dan bertubuh tinggi. Orang Asia biasanya berambut hitam, berkulit kuning langsat atau sawo matang dan bertubuh kecil.

"Bule, bule," begitu biasanya anak-anak kecil di kampung berbisik-bisik jika melihat perempuan atau laki-laki tinggi besar, berambut pirang, berkulit putih, dan bermata biru.

Gara-gara stereotip fisik pula, acap kali pramuniaga toko-toko menyapa, "Mampir, Ci," ketika  saya lewat.

"Iya, lho, aku kira kamu orang Cina Palembang," kata seorang kolega Tionghoa setelah tahu saya orang Batak tulen.

Yang memprihatinkan, ternyata ada stereotip fisik untuk pemeluk agama! Suatu hari saya naik kereta. Berhubung tata cara naik kereta sekarang berubah dari yang dulu pernah saya tahu, saya bertanya kepada seorang ibu di samping saya. Kemudian, obrolan merembet ke hal-hal lain.

Saya mengenalkan diri sebagai orang Batak. Ibu itu menyahut, "O, saya kira orang Cina. Tapi, saya sudah menduga, Mbak pasti orang Kristen."

Terheran-heran saya dibuat ibu itu. Saya tidak memakai satu pun atribut agama. Akhirnya saya berkesimpulan, ibu itu mengandalkan stereotip bahwa orang Tionghoa pasti Kristen. Padahal, belum tentu.Ada juga kan yang Islam, Budha dan Konghucu.

Saya juga pernah mendengar percakapan dua orang perempuan di dalam bus. Kebetulan mereka duduk persis di belakang saya.

"O, Ibu orang Batak? Saya enggak nyangka lho, Bu," ucap yang satu terheran-heran. "Ibu ngomongnya haluuus. Orang Batak kan kasar."

Sebagai orang Batak, dalam hati saya protes. Orang yang bersuara keras saat berbicara belum tentu orang kasar. Situasi di terminal yang berisik, tentu memaksa orang untuk setengah berteriak agar suaranya tidak tertelan suara mesin.

Kasarnya ucapan seseorang itu harus dinilai dari kosa kata yang dipilih. Misalnya, ketika ia mengucapkan kata-kata tidak senonoh atau mencatut nama-nama binatang.

Kedua, sikap kasar tidak ada relevansinya dengan status suku, ras, atau agama yang disandang seseorang. Banyak lho orang Batak yang bertutur kata halus.
   
Begitulah. Stereotip itu berbahaya. Stereotip bisa menghalangi kita membuka relasi yang baik dengan sesama. Stereotip bisa menyebabkan permusuhan.

9 komentar:

  1. Bahkan aku sering dibilang batak dan kristen padahal aku bukan keduanya. Stereotip ini seperti udah mendarah daging di benak orang - orang bermulut comel. Hih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, Mbak Putri KPM galak. Iya, Mbak. Sisi lain hidup sebagai bangsa yang beragam etnis :)

      Hapus
  2. Kalo saya banyak yg bilang kek org Jawa plus nama belakang yg jg dibilang mirip nama org Jawa, pdhl saya org Padang lho! :D
    Dan satu lagi kl ngomong org Padang, pasti rata2 pd bilang orgnya pelit pdhl ga semuanya spt itu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda etnis, yang penting sama-sama orang Indonesia, ya, Mbak Dewi :)

      Hapus
  3. Saya setuju, sikap stereotip ini suka bikin batas dan penilaian kurang wajar.
    Tak semua Orang Batak itu kasar....hehehe, saya juga yang punya darah Batak suka protes dalam hati kalau ada yang bilang begitu, kalau yang bilang teman sendiri suka saya tegur baik-baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, betul, Mbak. Kepribadian itu personal ya, jangan digeneralisasikan.

      Hapus
  4. Wah...wah... sepertinya ini cukup serius. Menurut saya memang pola ajar di keluarga yang perlu modifikasi. Biar anak-anak nggak diajarkan mengenai stereotip-stereotip ini. Dan mohon maaf, rata-rata yang suka begitu, orang-orang yang pendidikannya terbatas. Dan mungkin mereka juga tak sengaja terpengaruh lingkungan di rumah. Ini pengamatan saya, secara saya juga tinggal ditengah begitu banyak adat dan orang.
    Saya malah sering disangka orang sunda atau chinesse. Padahal saya asli Minang, hihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disangka orang Tionghoa, pasti karena mata sipit dan kulit putih. Iya, kan?

      Betul, Mas Palris *teteup Mas, padahal udah dibilang orang Padang :) Itu makanya, pendidikan perlu supaya pandangan tidak lagi sempit.

      Hapus
  5. Kadang sy juga melakukan hal ini mba, tapi dalam hati.
    Sekarang mulai berkurang. Dan, tiap orang itu beda2 ya mba.

    BalasHapus