Senin, 05 Januari 2015

Berburu Hadiah



Aku dan kau pasti suka hadiah. Ya, kan? Lebih tepatnya, suka mendapat hadiah. Bagaimana dengan memberi hadiah? Bagi banyak orang, memberi hadiah bisa bikin sakit kepala karena perlu persiapan kalau kita ingin penerimanya bahagia saat melihat hadiah pemberian kita.
Memangnya apa saja, sih yang harus disiapkan untuk berburu hadiah? Menurut saya, ini:
1.   Niat
Inti memberi hadiah adalah membuat penerimanya senang. Berburu hadiah akan menyita waktu dan energi kita. Oleh sebab itu, niat harus kuat agar ketika kebingungan atau rasa letih melanda, kita tetap bersemangat mencari hadiah.   

2.   Budget
Di dunia ini, apa, ya, yang masih gratis? Udara, sinar matahari, hujan. Semua buatan Tuhan. Kalau bikinan manusia, ada gak yang masih gratis? Kayaknya sulit ya menyebutkan apa saja.
Berdasarkan pengalaman nih, kalau budget besar, pilihan juga akan besar. Tapi, kalau budget terbatas, ini yang sering bikin runyam. Lihat barang yang memikat, eh, harganya melebihi anggaran. Alhasil, barang harus dikembalikan ke rak pajang.
 Pun membuat sendiri hadiah yang akan diberikan, bahan-bahannya membutuhkan biaya. Mau bikin kue, misalnya. Pilih mentega yang mahal atau margarin yang lebih murah? Kelezatan rasa dipengaruhi kualitas bahan-bahan pembuatnya.

3.   Tenaga dan Waktu
Berburu hadiah yang telah jadi atau membuat sendiri hadiah yang akan diberikan, sama-sama membutuhkan tenaga dan waktu ekstra. Makanya, berburu hadiah sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari dan tidak terburu-buru agar hasilnya memuaskan. Yang memberi puas, apalagi yang menerima.

4.   Profil Penerima Hadiah
Tujuan kita memberi hadiah, kan, supaya yang menerima senang. Oleh sebab itu, profil penerima hadiah juga penting untuk kita miliki. Siapa, nih, yang mau kita kasih hadiah? Orang lanjut usia? Anak-anak? Remaja? Ibu belia? Masa lansia kita hadiahi sepatu roda atau automatic scooter? Alamak.  
Orang itu hobinya apa? Jangan sampai orang yang gemar menjahit, kita beri kumpulan resep masakan. Atau, orang yang gak bisa berenang, kita beri kacamata renang. Atau, teman kita yang muslim, kita beri voucher makan di restoran yang menyajikan masakan tidak halal.
Mengenal seluk-beluk calon penerima hadiah akan memudahkan kita menentukan pilihan hadiah. Kita tinggal membuat daftar pilihan.
Kalau belum punya profil, bisa tanya orang-orang dekatnya.
Bertanya langsung kepada orang bersangkutan, “Kamu ingin kuhadiahi apa?” juga bisa dijadikan pilihan. Minta beberapa alternatif. Lebih baik memberi yang disukai, daripada hadiah kita tidak atau kurang bermanfaat.
Ada juga orang yang lebih suka diberi hadiah uang. Uang dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan yang jadi prioritas. Pada kesempatan ulang tahun anak saya yang baru lalu, saya membisiki anak saya agar ia mengajukan permintaan kepada kakek neneknya: “Kasih uang saja.”
Mereka meluluskan permintaan anak saya. Uang tersebut ditabung agar kelak, bisa dibelikan barang yang memang diperlukan. Anak saya berhasil membeli sepeda dari sebagian uang tabungannya.

5.   Pilih Hadiah yang Bermanfaat
Saya paling enggak suka memberi dan menerima hadiah yang bisanya dijadikan pajangan. Selain bikin lemari atau meja jadi penuh, juga menambah jumlah barang yang harus dilap. Oleh sebab itu, menurut saya, nih, pajangan harus keluar dari daftar pilihan hadiah siapa pun. Pajangan adalah hadiah orang kepepet :p

Nah, buat yang lagi bingung mau berburu hadiah untuk teman atau keluarga, semoga dapat pencerahan. Atau, mungkin ada yang sedang bingung mau kasih saya? Hubungi saya untuk tahu hadiah impian saya. Hihihihi.

4 komentar:

  1. Nancy, Nancy, ada-ada aja tuh yang nomor 5, masa sih hadiah pajangan itu adalah hadiah orang kepepet? Lha kalo pajangan kereta kencana dari perak, piye? Bunda sih gak nolak. Lho koq? Siapa juga yang mau kasih Bunda, ya? Btw ini beneran pencerahan lho. Jadi dari sekarang nih Bunda kudu mikir kado apa lyang harus Bunda beli untuk yang berultah di bulan :Pebruari. Makasih, nice posting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Bunda Yati Rachmat ... hehehe, itu kan opini pribadi. Jangan dimasukkan ke hati, dong. Daripada pajangan perak, mending giwang perak, kan. Jadi bisa dipakai ke pesta. Ya, gak, Bun? :D

      Selamat berburu hadiah, ya, Bun. Semoga Bunda dan yang menerima, sama-sama puas.

      Terima kasih sudah mampir, Bun.

      Hapus
  2. aq mau dong dapet hadiah hihiii...kalo aq paling sering beli hadiah buat kawan yang habis lahiran. Hadiahnya juga yang standar2 aja sih hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Khalida Fitri, saingan, dong, kita. Iya, kalau orang lahiran, biasanya cari hadiahnya lebih mudah. Tapi, ni, kebanyakan dari kita, kasih hadiah untuk si bayi yang baru lahir. Emaknya yang baru melahirkan, enggak kedapatan hadiah *curcol pengalaman pribadi. Pdhl emaknya juga pengen lho dapat hadiah.

      Terima kasih, ya, sudah baca tulisanku, Mbak.

      Hapus