Jumat, 18 Juli 2014

Kita yang Harus Terlebih Dulu Berubah. Bukan Mereka (Lewat Penambahan Jam Pelajaran).




Foto: sprymar.cz

Saya baru ngobrol dengan kerabat saya yang berprofesi sebagai guru. Saya mengajaknya untuk jalan hari Sabtu. Dia bilang, Sabtu sekolah karena menurut kurikulum 2013, jam pelajaran ditambah. Tujuannya supaya anak-anak jadi anak yang baik. Memang masih wacana, tetapi kalau pergubnya sudah turun dan Pak Ahok menandatangani keputusan tersebut, maka semua anak-anak sekolah di Jakarta juga akan masuk hari Sabtu.

Penasaran, saya berhasil menemuka berita tentang wacana tersebut di sini.


"Menambah jam belajar di sekolah untuk menangkal efek negatif dunia luar sekolah," begitu bunyi pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, dua tahun lalu. Rencana tersebut akan diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2013-2014. 

Saya tidak setuju dengan rencana penambahan jam pelajaran di hari Sabtu. Selain Sabtu adalah hari keluarga, saat kami para orang tua yang bekerja, bisa lebih lama beraktivitas bersama anak, saya juga punya argumentasi lainnya, seperti berikut ini:

1. Pengaruh negatif tidak hanya datang dari luar sekolah. Buktinya, kita dapat dengan mudah menemukan berita-berita di media massa yang menyorot perilaku negatif di sekolah, baik yang dilakukan di antara sesama anak didik, maupun yang dilakukan guru terhadap anak didik: bullying, sexual abuse, pornography, dll. Jadi, dari situ kita bisa menyimpulkan, sekolah belum layak jadi rumah kedua yang aman bagi anak. Bukan kuantitas yang  harus ditambah. Kualitas proses belajar dan mengajar yang harus diperbaiki. 

Kualitas yang bagaimana? Anak didik jangan dicekoki dengan modul-modul pelajaran bertele-tele dan membosankan yang membuat mereka sakit kepala dan jenuh. Bukannya tambah pintar, mereka malah stres. Learning should be fun. Children should enjoy the learning process. Not the contrary. Oleh sebab itu, kualitas guru juga harus ditingkatkan. Jangan karena juga ingin guru-guru mendapat jam mengajar dan tunjangan sertifikasi, hak anak didik untuk bermain dirampas. 

2. Di mana pun kita berada, pengaruh negatif akan selalu ada. Sama dengan kematian yang bisa datang menghampiri kita kapan saja dan di mana saja. Bedanya, kalau kematian tidak bisa kita hindari, sedangkan pengaruh negatif bisa kita tangkis dengan meningkatkan pertahanan diri berupa karakter yang baik. 

Anak-anak tidak boleh hanya cerdas intelegensinya. Anak-anak juga harus cerdas emosi, sosial, dan spiritualnya. Apa gunanya pandai dengan cara mencontek? Apa jadinya jadi kaya dengan memeras orang lain? Untuk apa menang dalam kompetisi jika dengan menghalalkan segala cara? Semua pelajaran kehidupan itu diperoleh lewat kejadian sehari-hari. Tidak hanya di sekolah, tetapi di rumah, lingkungan sosial, dan bahkan lewat cara para politikus bernegara yang bisa dilihat lewat pemberitaan di media massa. Contoh paling terkini, masa pileg dan pilpres 2014. 
 
Jadi, jangan tambah jam pelajaran anak-anak Indonesia. Biarkan mereka memiliki waktu luang di luar lingkungan sekolah. Kuncinya ada pada orang-orang dewasa di sekolah, di rumah, di lingkungan sosial yang lebih besar, sampai di tingkat negara. Kita yang harus terlebih dulu memperbaiki diri. Bukan mereka dan bukan lewat penambahan jam pelajaran sekolah.

Sudahkah kita memberi teladan yang baik kepada anak-anak kita, anak-anak Indonesia? 

***

* Sabtu, tanggal 19 Juli 2014, saya menonton acara Sudut Pandang yang dibawakan oleh Fifi Aleyda Yahya di Metro TV. Tema kali itu adalah "Gifted Children". Si kembar Duva Reyhan dan Ariq Reyhan adalah dua dari gifted children yang menjadi tamu acara tersebut. Mereka berdua meretas situs PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia).

Menurut ayah mereka, yang juga jadi tamu acara, kondisi kejiwaan si kembar tidak normal akibat sering di-bully teman-teman sekolah mereka. Pulang dari sekolah, kepala mereka berdarah-darah karena mengalami kekerasan fisik.

Tidak hanya itu, Duva dan Ariq juga mengalami kekerasan fisik dari guru mereka. Lebam di lengan atas dan pinggang. Guru yang seharusnya jadi teladan kebaikan justru ikut jadi pelaku kekerasan terhadap anak didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar