Sabtu, 03 Mei 2014

Save Our (Children’s) Souls: Bergerak Melawan Kejahatan Seksual terhadap Anak (Bagian 1)




Komnas PA menyatakan tahun 2013 sebagai tahun darurat kekerasan seksual terhadap anak. Penyebabnya karena begitu banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi. Di antara kasus-kasus tersebut, tercatat kasus RI, seorang anak pemulung. RI meninggal saat dirawat di Rumah Sakit karena penyakit yang ia derita akibat kekerasan seksual yang menimpanya. Pelaku kekerasan seksual itu tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.

Selama empat bulan pertama di tahun 2014, media massa tak pernah sepi dari pemberitaan mengenai kejahatan seksual yang terjadi di tengah masyarakat. Kasus guru memerkosa murid, teman memerkosa teman, tetangga memerkosa anak tetangga,  dan yang paling menggemparkan kasus murid TK di sekolah bonafide bersistem keamanan yang ketat, Jakarta International School. Murid itu mengalami kejahatan seksual yang dilakukan sekelompok petugas kebersihan di sekolahnya.

Kasus-kasus tersebut membuktikan bahwa kejahatan seksual dapat menimpa anak dari berbagai kalangan. Pelakunya pun beragam. Orang kaya, orang miskin, orang berpendidikan, orang yang tidak bersekolah. Anggota keluarga, tetangga, guru, teman, kenalan.  Tempat terjadinya, di rumah tangga, di sekolah, di lembaga pendidikan, di lingkungan sosial …. 

Angka kasus kejahatan seksual yang menimpa anak dan (perempuan) sangat tinggi. Selain hukuman yang tidak maksimal sehingga tidak ada efek jera, pergeseran nilai dan norma di tengah masyarakat akibat pornografi, pergaulan bebas, serta kemajuan teknologi juga  turut memengaruhi kondisi tersebut. Zaman telah berubah. Seks tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kudus, yang hanya boleh dilakukan dalam ikatan perkawinan yang sah, baik secara agama maupun hukum negara. Hati nurani tidak lagi berbicara. Ajaran agama dilupakan. Yang tinggal hanyalah pemuasan nafsu duniawi.

Kini kita hidup di tengah masyarakat yang mengalami degradasi moral dan pembungkaman hati nurani. Dan anggota yang paling terancam adalah generasi muda: anak-anak, remaja dan dewasa muda. Apakah kita hanya akan diam melihat segala kejahatan yang terjadi di sekitar kita, menyaksikan korban kejahatan seksual bertambah terus? Ataukah kita bersedia bangkit dan turut melakukan perlawanan terhadap kejahatan seksual?

Foto:  farzana-versey.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar