Jumat, 06 Desember 2013

Heboh Balik Perawan


Perawan. Kata itu sungguh dahsyat. Sebuah kata yang dalam tatanan sosial masyarakat, melambangkan status “kehormatan” perempuan, sekaligus menjadi momok bagi banyak perempuan yang mengidam-idamkan pernikahan. Kata yang menjadi salah satu kriteria tidak tertulis, yang ditetapkan oleh banyak laki-laki terhadap calon istri.

Ketika ada isu tes keperawanan terhadap siswi sekolah, dokter ahli Andrologi dan Seksologi, Wimpie Pangkahila, mengatakan bahwa definisi ‘perawan’ perlu disepakati dulu. Apakah dinilai dari pernah/belum pernah melakukan hubungan seksual atau selaput dara sudah robek/belum? Menurut Dokter Pangkahila, pembedaan itu perlu karena hubungan seksual yang berdasarkan kemauan sendiri (seks bebas/seks pranikah), menyangkut perilaku sedangkan selaput dara robek juga bisa disebabkan faktor di luar seks bebas, seperti masturbasi, terjatuh karena olah raga atau korban pemerkosaan.

Menurut berita, banyak remaja putri Surabaya diberitakan menjalani operasi balik perawan (vaginoplasty) berbiaya 30 juta. Alamak! Kebanyakan dari mereka beralasan, keperawanan mereka telah direnggut oleh mantan pacar. Mereka mengkhawatirkan nasib pernikahan mereka kelak. Padahal di kalangan spesialis ginekologi rekonstruksi, vaginoplasty dilaksanakan berdasarkan alasan medis. Pertama, untuk menghilangkan keluhan, kelainan, mengembalikan fungsi dan yang terakhir, aspek kosmetik.

Jika keperawanan dalam pernikahan itu sangat penting, mengapa banyak remaja putri melakukan seks bebas atau seks pranikah? Selain bertentangan dengan aturan agama, dari sisi mana pun, pihak perempuan tidak akan pernah diuntungkan jika melakukan seks bebas atau seks pranikah karena pada faktanya, banyak perempuan ditinggalkan kekasihnya setelah hubungan seksual pranikah terjadi. Kenikmatan sesaat membawa azab sengsara yang berkepanjangan.

Fenomena operasi balik perawan muncul, menurut saya juga disebabkan karena tatanan masyarakat kita masih didominasi pengaruh laki-laki dan sempitnya pola pikir. Banyak laki-laki yang menilai keperawanan dari noda darah di seprai saat malam pertama. Akibatnya, banyak perempuan menikah yang ketakutan menghadapi malam pertamanya. Mereka yang sudah pernah melakukan hubungan seksual pranikah, takut ketahuan tidak perawan lagi. Mereka yang belum pernah melakukan hubungan seksual pun memiliki kekhawatiran dianggap tidak perawan lagi. Padahal, elastisitas selaput dara berbeda-beda. Ada yang mudah robek, ada yang elastis.

Jika laki-laki menuntut calon istrinya perawan (belum melakukan hubungan seks pranikah), apakah laki-laki juga bersedia menjamin bahwa dirinya masih perjaka? Karena keperjakaan tidak bisa diukur dengan tes apa pun, kecuali pengakuan sang laki-laki. Dalam hal ini diperlukan komunikasi yang terbuka di antara sepasang kekasih sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Laki-laki dan perempuan harus sama-sama jujur kepada pasangan dan diri sendiri, apakah sanggup memiliki cinta dan kerendahan hati seluas samudra untuk menerima pasangan yang tidak perawan/perjaka lagi.

Jadi, hai Ladies and Girls, hadapi masa lalumu dengan tegar! Daripada menghabiskan uang 30 juta untuk alasan-alasan nonmedis seperti menciptakan kebohongan atau menyenangkan hati laki-laki yang tidak bisa menerima diri perempuan apa adanya, mending uang itu kamu pakai untuk mengikuti kursus-kursus keterampilan atau berwisata ke tempat-tempat cihui di Indonesia atau luar  negeri. Jauh lebih seru dan keren!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar