Selasa, 08 Oktober 2013

Cinta dan Belas Kasih yang Tersisa dalam Film "La Rafle"

 
Sumber: en.wikipedia.org
Suatu Sabtu, saya membongkar koleksi film yang belum ditonton dan saya menemukan film yang berjudul La Rafle. Saya tidak tahu apa arti La Rafle karena film itu buatan Prancis. Dan kebetulan, DVD yang saya miliki itu, DVD bajakan. Alhasil, teks terjemahannya amburadul, baik itu bahasa Inggris maupun Indonesia. Dengan segala keterbatasan itu, saya mulai menonton La Rafle.
Bersetting di Prancis, La Raffle menceritakan tentang penduduk Prancis yang mengalami perlakuan diskriminatif dari orang sebangsa mereka sendiri dan bangsa lain yang sedang berkuasa atas mereka, yaitu Jerman (Nazi). Alasannya hanya satu. Karena mereka bersuku bangsa Yahudi.
Wajib memakai tanda bintang di dada dan memperlihatkan identitas itu dengan jelas (tidak boleh ditutup-tutupi) dan tidak boleh memasuki tempat-tempat umum sesuka hati adalah dua contoh perlakuan diskriminatif yang mereka alami.
Suatu hari, pada tengah malam, ribuan tentara menyerbu pemukiman mereka. Mereka dipaksa meninggalkan kediaman mereka dan dikumpulkan di sebuah stadion olahraga.
Setelah saya bertanya kepada Mbak Wikipedia (memangnya mbah-mbah aja yang pintar? Mbak-mbak juga banyak yang pintar :D), saya jadi tahu, judul film ini berasal dari nama peristiwa tersebut: Rafle du V√©lodrome d’Hiver, atau sering disebut the Rafle du Vel’ d’Hiv, yang terjadi pada tanggal 16 dan 17 Juli 1942. Mengapa peristiwa itu disebut Velodrome d’Hiver? Karena ke stadion bernama itulah, orang-orang Yahudi Prancis dibawa dan dikumpulkan.
Masih menurut Mbak Wiki, kepolisian Prancis mencatat, ada 13.152 orang Yahudi yang ditahan di stadion tersebut. Bayangkan, orang sebanyak itu dikumpulkan jadi satu. Mereka dibiarkan kehausan dan kelaparan. Tidur pun tidak bisa berbaring; hanya duduk tanpa alas. Tak heran, banyak yang jatuh sakit, khususnya anak-anak. Dari situ, penderitaan mereka terus berlangsung sampai akhirnya mereka dipindahkan ke tempat yang lebih tidak manusiawi dan harus menghadapi kematian rancangan Nazi.
La Rafle adalah film yang berbicara tentang sejarah umat manusia dan kemanusiaan. Manusia diciptakan dari cinta sang Khalik. Namun, prasangka, arogansi, ambisi, dan nafsu-nafsu duniawi lainnya, merusak hati dan pikiran manusia. Manusia berubah menjadi sosok-sosok kejam, yang bahkan lebih liar dan buas daripada binatang buas.
Hitler adalah satu dari sosok tersebut. Dia beranggapan, ras Aria-lah yang paling hebat dari segala ras yang ada di muka bumi. Oleh sebab itu, Jerman (melalui Nazi) harus berekspansi ke penjuru dunia agar bisa mendominasi.
Hitler juga penganut antisemitisme, paham yang mengusung kebencian terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Yahudi. Baginya, Yahudi adalah ras inferior. Yahudi adalah ancaman terhadap kemurnian ras Aria. Maka, Hitler bersama antek-anteknya menyusun strategi menyingkirkan suku bangsa Yahudi dari negara Jerman dan negara-negara yang berhasil mereka duduki.
La Rafle adalah salah satu film yang mengangkat sejarah kelam umat manusia akibat prasangka buruk (prejudice), kebencian (hatred), dan kekuasaan (power). Apa yang dialami suku bangsa Yahudi di masa Perang Dunia ke-2 adalah nyata, senyata peristiwa-peristiwa penganiayaan dan pembunuhan massal lainnya yang pernah dan sedang terjadi di berbagai tempat di dunia. Indonesia pun punya sejarah kelamnya sendiri, di antaranya pembunuhan massal terhadap pengikut PKI dan orang-orang yang dianggap terlibat dengan PKI di tahun 1965 dan kerusuhan Mei 1998 yang memakan banyak korban, khususnya etnis Tionghoa.
Namun, La Rafle juga ingin menunjukkan bahwa kemanusiaan itu belum mati karena masih ada cinta dan belas kasih yang tersisa. Di antara manusia-manusia keji, masih ada manusia-manusia berhati mulia. Cinta itu ditampilkan dalam tokoh perawat yang bukan Yahudi.
Diceritakan, tanpa kenal lelah, sang perawat mengurus tahanan anak-anak Yahudi dengan penuh kasih sayang,  mulai dari stadion sampai kamp tahanan. Suatu hari, ketika perawat itu jatuh sakit, ia masih berusaha sekuat tenaga mengejar anak-anak yang tanpa sepengetahuannya akan dibawa ke tempat terakhir mereka, tempat ajal akan menjemput.
Setelah PD II berakhir dengan kekalahan Jerman, sang perawat berada di tempat penampungan orang Yahudi eks tahanan Nazi yang dinding-dindingnya dipenuhi kertas bertuliskan nama-nama korban. Di tempat itu, dia mengenali dua orang anak Yahudi yang berhasil selamat dari kekejaman Nazi. Sang perawat memeluk erat dan mencucurkan air mata sebagai ungkapan kebahagiaannya karena masih ada anak-anak asuhnya yang selamat.
Film Prancis produksi tahun 2010 ini terinspirasi oleh kisah nyata Jo Weisman, seorang anak Yahudi yang berhasil selamat dari kekejaman Hitler. Disutradarai oleh Roselyne Bosch, film ini diperankan oleh beberapa bintang film Prancis yang terkenal seperti Jean Reno, Melanie Laurent, Sylvie Testud, dan Gad Elmaleh. Tidak hanya itu, Jo Weisman yang telah lanjut usia, turut bermain dalam film ini.
Film ini patut ditonton untuk dijadikan pengingat: “Love and compassions are necessities, not luxuries. Without them humanity cannot survive.” (Dalai Lama)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar