Senin, 14 Oktober 2013

Aturan Diskriminatif terhadap Penumpang Anak-Anak di Transjakarta



Pengumuman di atas baru saya lihat tadi pagi. Judulnya, "Tata Tertib Penumpang di Transjakarta" (Saya sengaja memotret sebagian saja, yang penting menurut saya). Perhatikan aturan teratas di foto tersebut. Apakah menurut Anda, kalimat itu wajar-wajar saja?

Bagaimana dengan stiker tentang penumpang prioritas berikut ini, apakah menurut Anda, biasa-biasa saja?


Penumpang Prioritas di Transjakarta/Dok. Pribadi


Bagi saya, jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut adalah tidak. Menurut saya, kedua aturan tersebut tidak dapat diterima. Siapa saja yang menjadi prioritas dalam aturan tersebut? Manula, ibu hamil, dan difabel. Pertanyaan saya, di manakah tempat anak-anak? Anak-anak yang sulit dipangku karena timbangan badannya sudah cukup berat, tetapi badannya tidak cukup tinggi untuk meraih tali-tali pegangan yang bergelantungan pada besi di atas. Anak-anak SD yang sudah bisa pergi ke sekolah sendiri, tetapi akan menghadapi masalah serupa dengan anak-anak batita dan balita. Manusia tidak ujuk-ujuk jadi dewasa, bukan? Jadi bayi dulu, baru batita, balita, remaja, muda, dewasa, dan kemudian lansia. Semua orang dewasa pernah jadi anak-anak, termasuk pembuat aturan di atas. Namun, mengapa kita tiba-tiba melupakan anak-anak?

Pertanyaan berikutnya. Apakah menurut pembuat aturan ini, anak-anak di atas tidak bakal naik Transjakarta? Jika demikian adanya, dugaan si pembuat aturan ini salah besar. Saya pernah membawa anak saya dua kali naik Transjakarta. Dia masih TK. Dan apa yang terjadi? Dia harus memeluk paha saya karena tidak ada yang mau memberinya duduk, sementara untuk berdiri, tangannya belum dapat meraih pegangan di atas kepalanya.

Saya juga pernah se-bus Transjakarta dengan seorang anak SD. Tubuhnya kecil. Anak itu berdiri di samping saya dengan berpegangan pada besi di sampingnya karena dia tidak cukup tinggi untuk bisa berpegangan ke atas. Tidak ada yang mau memberinya tempat duduk. Baru ketika penumpang di depan saya berdiri, saya menyilakan dia duduk di tempat duduk yang tadinya jadi hak saya. Dan kemudian, dia tertidur pulas (karena kelelahan berdiri, karena harus bangun pagi agar dapat kendaraan) sampai akhirnya harus dibangunkan di halte Trisakti, tempat dia harus turun.

Saya juga pernah melihat seorang anak yang harus memeluk pinggang kakeknya di tengah padatnya penumpang bus Transjakarta. Namun, kali itu, saya tidak bisa menolong anak itu karena saya pun berdiri dan penumpang di depan saya, tidak kunjung turun. Contoh-contoh kasus di atas membuktikan bahwa anak-anak juga naik Transjakarta.

Selain faktor fisik, ada faktor keamanan yang juga harus diperhatikan. Jika penumpang dewasa saja harus ekstra berjaga-jaga dan memasang kuda-kuda saat berdiri agar tidak terpelanting ke kanan dan ke kiri akibat laju Transjakarta, apalagi anak-anak. Terlebih, tidak ada tempat sandaran pada jok-jok tempat duduk yang biasa kita temui di bus-bus pada umumnya.

Anehnya lagi, ada aturan, "Anak-anak dengan tinggi badan 100 cm ke atas, diwajibkan membeli tiket." Ini berarti, penumpang anak-anak yang sudah mencapai tinggi tersebut, wajib membayar penuh. Namun, pada praktiknya, anak-anak tidak mendapat hak penuh layaknya penumpang dewasa lainnya dan tidak mendapat hak prioritas layaknya penumpang dewasa yang tercantum pada aturan-aturan di atas. Karena dianggap bertubuh masih kecil, harus dipangku. Atau kalau tidak dipangku dan tidak dapat tempat duduk, ya, pasrah saja berdiri.

Menurut saya, aturan dan stiker mengenai penumpang prioritas harus segera direvisi. Pertama karena anak-anak juga bagian dari masyarakat. Tidak sepatutnya pemerintah menjadikan mereka warga kelas dua. Anak-anak tidak boleh didiskriminasi.

Alasan kedua, pengakuan terhadap hak anak-anak harus dilegalkan sehingga ketika ada orang dewasa yang tidak bersedia mendahulukan anak-anak untuk mendapat antrean dan tempat duduk, orangtua atau petugas busway dapat bertindak tegas. Bukan rahasia umum, kalau banyak penumpang (berpura-pura) tidur atau tidak bersedia memberikan tempat duduknya secara sukarela. Mereka baru mau berdiri jika petugas busway memberi mandat.

Hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil. Indonesia akan jadi bangsa dan negara yang bebas dikriminasi jika perlakuan diskriminatif dalam kehidupan sehari-hari bisa dihilangkan, termasuk dalam berkendara dengan Transjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar