Jumat, 20 September 2013

"Menyusu" atau "Minum Susu"?



 
Sumber: www.livestockreview.com
Beberapa waktu lalu, anak saya sakit sehingga harus diopname. Seperti biasa, pada pagi hari, dokter jaga melakukan tugas proseduralnya. Dokter itu mengajukan beberapa pertanyaan. 

Saya menjawab dengan lancar tiap pertanyaannya, sampai dia bertanya, “Anak Ibu masih menyusu?” 

Pertanyaan itu membuat saya terdiam. Tepatnya, tertegun. Menyusu? saya bertanya-tanya dalam kebingungan. Seorang anak boleh menyusu itu kan maksimal sampai usianya dua tahun, sedangkan dokter itu sudah tahu, umur anak saya 3,5 tahun lebih tua dari usia tersebut. 

Akhirnya, saya menjawab, “Iya, anak saya menyusu sampai 2 tahun.”

“Apakah anak Ibu masih minum susu?” tanya dokter itu lagi karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.

Barulah saya mengerti apa yang dokter itu maksud. Dokter itu ingin tahu, apakah anak saya mengonsumsi susu dalam diet hariannya. “O, iya, anak saya minum susu. Susu UHT.”

“Menyusu” dan “minum susu” sama-sama mengandung kata “susu”. Namun, meski kelihatan serupa, makna kedua kata ini tidaklah sama. 

Untuk membuktikan kebenaran pemahaman saya terhadap definisi kata “menyusu”, saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, edisi keempat, yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional, dan diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2012. 

Di halaman ke-1363 tertulis, “menyusu v mengisap air susu dr buah dada (tetek):  anak sapi itu sedang ~ pd induknya; anak yg terlalu lama ~ pd ibunya kelak akan menjadi anak manja.”

Berdasarkan definisi tersebut, menyusu adalah kegiatan minum susu dengan cara mengisap air susu ibu/induk. Jadi, susu yang diminum dan cara meminumnya sangat spesifik. 

Bagaimana dengan kata “minum susu”? Susu yang diminum bisa susu UHT atau susu formula yang diseduh. Cara meminumnya bisa ditegak langsung dari gelas atau dikonsumsi dengan sendok, botol, maupun sedotan. 

Jadi, anak di foto atas bukan sedang menyusu, tetapi minum susu.

Yuk, kita pelajari bahasa Indonesia! Kalau bukan kita yang menyayangi bahasa Indonesia, siapa lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar