Kamis, 19 September 2013

Karena Akar Segala Kejahatan ialah Cinta Uang


Sumber: toonclips.com

Cinta lawan jenis. Cinta anak. Cinta suami atau istri. Cinta keluarga. Cinta pekerjaan. Kita sudah biasa mendengar nama-nama cinta itu.  Apa pula cinta uang?

Kenaikan harga BBM dan inflasi membuat biaya hidup makin mahal.  Jangankan kebutuhan tertier atau sekunder, kebutuhan premier, seperti makanan, pun belum tentu tercukupi. Tak heran, orang mencari-cari uang demi membiayai kebutuhannya. Bermacam-macam caranya.

Naiklah bus atau metromini, maka Anda akan melihat peminta-minta dan pengamen datang silih berganti, tak henti-henti. Macam-macam rupa mereka. Ada yang perorangan, ada yang berkelompok. Beragam pula gaya mereka. Ada peminta-minta yang bertutur halus. Namun, jangan kaget jika ada juga yang meminta dengan bentakan-bentakan kasar, “Kami tidak butuh kesombongan Anda.”

Atau, “Kami hanya perlu seribu, dua ribu rupiah untuk sebungkus nasi dan sebatang rokok.”

Atau, dengan wejangan sarkastis, “Coba bayangkan kalau Anda di posisi kami.”

Begitu pula dengan pengamen. Ada yang hanya bermodalkan tangan dan suara cempreng. Beberapa bermodalkan suara merdu dan alat musik, seperti gitar dan drum. Belakangan ini saya menjumpai pengamen yang hanya bertepuk tangan karena tuna wicara. Dan yang terkini, pengamen tuna wicara yang membawa gitar, namun tidak tahu sama sekali memainkan gitarnya.

Kita pasti sering membaca atau melihat berita tentang tindak kriminal seperti pencurian, penjambretan, penodongan, perdagangan orang, dll. Kebanyakan dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendapatkan uang. Pendidikan mereka rendah. Tak ada lapangan pekerjaan untuk mereka. Ekonomi mereka lemah. Para pelaku tidak tahu harus bagaimana lagi agar bisa mendapatkan sesuap nasi. Mereka kepepet sehingga gelap mata dan buntu pikiran.

Namun, pada kenyataannya, kejahatan tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berpendidikan rendah dan berstatus ekonomi lemah.

Kita ambil contoh para wakil rakyat. Mereka yang bersumpah akan mengamankan aset bangsa dan negara demi kemakmuran rakyat justru mengamankan kekayaan negara demi kepentingan diri sendiri. Mengapa? Karena cinta uang. Penghasilan 10 juta per bulan tidak cukup. Dua puluh juta? Mana cukup. Tiga puluh juta? Ah, itu sih bukan uang. Maka, terjadilah korupsi demi memperkaya diri. Uang mengalir deras ke dalam rekening pribadi. Bisa beli barang-barang mewah dan bermerek. Wisata ke luar negeri sesuka hati. Dan, tentu saja, para lelaki hidung belang yang berkantong tebal bisa gonta-ganti pasangan. Tak heran, ada yang bilang, ujian bagi para lelaki adalah harta, tahta, dan wanita.

Tentu bukan hanya wakil-wakil kita di dunia politik yang tergelincir karena cinta uang. Banyak pula para pemuka agama yang seharusnya menjadi wakil Sang Khalik membimbing umat agar hidup benar, jatuh cinta kepada uang, lupa akan tugas yang hakiki. Berkhotbah dengan memasang tarif yang tinggi. Hanya bersedia mengunjungi umat yang bisa memberi amplop tebal. Jemaat yang miskin, tak masuk hitungannya. Umat yang ekonominya biasa-biasa saja, boro-boro ia mau sapa. Namanya pun tak ia tahu. Setali dengan kondisi negara ini, program untuk kesejahteraan bersama ditelantarkan. Yang didengung-dengungkan hanyalah program mencari dana agar gajinya lancar dibayarkan alias memfokuskan diri pada kesejahteraan pribadi. Dalam pandangannya, persekutuan umat berubah wujud menjadi ladang bisnis. Orientasi panggilan untuk menumbuhkan iman umat melalui kegiatan-kegiatan bermakna berubah menjadi menggalang dana untuk mengisi kantong pribadi.

Anda pernah pergi berobat kepada dokter yang tak acuh dan tak sabar mendengarkan keluhan sakit Anda? Tidak ada tatapan muka yang berempati dan sebagai gantinya, raut wajahnya justru menunjukkan ketidaksabaran saat mendengar Anda berbicara. Mengapa? Karena ia ingin buru-buru menuliskan resep obat yang panjang agar Anda segera keluar dari ruang praktiknya dan pasien berikutnya bisa masuk. Dengan begitu, waktu jam praktik yang terbatas bisa dieksploitasi untuk menerima pasien sebanyak-banyaknya. Makin banyak pasien, makin banyak obat yang diresepkan (walau dokter tahu, fungsi kandungan obat yang berbeda-beda itu sama saja atau bahkan sebetulnya tidak atau belum diperlukan), makin banyak pula uang yang masuk ke rekening sang dokter.

Ada pula perusahaan atau institusi yang menahan-nahan hak para pegawainya. Meskipun karyawan telah menunjukkan dedikasi kerja dan integritas tinggi, inflasi menggila, gaji karyawan tak kunjung dinaikkan. Fasilitas biaya pengobatan ditiadakan. Tujuannya hanya satu: menghemat pengeluaran agar kas tetap terjaga. Tak ada nilai kemanusiaan.

Pedagang yang menjual barang dagangannya dengan harga tinggi, namun kualitas barangnya tidak sebanding dengan harga yang ia kenakan.

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Semoga, kita, Anda dan saya, beroleh kekuatan dari-Nya, untuk terhindar dari godaan menjadi orang yang cinta uang. Karena cinta uang  dahsyat jeratnya. Apa yang tidak halal menjadi halal. Merugikan orang lain, menindas orang lain, menipu orang lain demi mendapatkan banyak uang untuk kesejahteraan pribadi.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman….” (2 Timotius 6:10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar