Jumat, 07 Juni 2013

Mari Menyusui Anak Kita (1)

Image: worldbreastfeedingweek.net
Kemampuan untuk menyusui adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada tiap wanita yang baru melahirkan buah hatinya. Namun, menyusui membutuhkan kesiapan dan latihan. Saat mengandung, Ibu perlu mendapat informasi sebanyak-banyaknya mengenai ASI. Ibu mengandung perlu tahu apa manfaat ASI bagi pertumbuhan anak, bagaimana cara agar payudara bisa tetap memproduksi ASI, pola makan seperti apa yang bermanfaat bagi produksi ASI, faktor-faktor apalagi yang mempengaruhi produksi ASI, dll. Dengan begitu, ketika melahirkan, ibu siap untuk menyusui. 

Anak pun harus belajar menyusu. Proses belajar bisa dilakukan melalui tindakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Begitu lahir, anak langsung diletakkan pada dada sang ibu dan dibiarkan mencari puting sang ibu untuk menyusu.

Ibu dan bayi sama-sama mendapatkan manfaat tambahan dari kegiatan IMD. Perdarahan Ibu akan terhenti. Sang bayi akan mendapatkan kehangatan yang ia dapat saat masih dalam kandungan sekaligus memperoleh kolostrum dan ASI. Kolostrum sendiri adalah Air Susu Ibu yang pertama kali keluar setelah seorang wanita melahirkan. Kolostrum berwarna kekuningan dan kaya akan zat kekebalan tubuh serta protein.

Menyusui adalah perjuangan. Menyusui membutuhkan kemauan, tekad, dan kerja keras. Tentu saja dukungan dari lingkungan juga memiliki peranan penting. Inilah kesimpulan yang saya tarik dari pengalaman saya sebagai ibu menyusui. 
 
Lima tahun yang lalu, buah hati saya lahir ke dunia. Sayang sekali, kala itu saya tidak terpikir untuk memberi anak saya kesempatan untuk menjalani IMD. Dokter kandungan saya tidak mengizinkan IMD di ruang operasinya.

Tiba di ruang rawat inap, saya harus berderai air mata ketika sang perawat tanpa perasaan membantu saya memerah ASI lantaran saya harus minum obat penurun tekanan darah tinggi. Dokter anak tidak menganjurkan saya memberikan ASI selama saya masih mengonsumsi obat hipertensi. Sakitnya luar biasa. Penderitaan itu tak berbuah hasil. ASI saya tetap tidak keluar.

Produksi ASI yang menumpuk membuat payudara saya membengkak. Pompa manual tidak pun tidak berhasil mengeluarkan ASI dari pabriknya. Akhirnya, saya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pompa elektrik yang sudah terbukti daya pakainya. Ada harga, ada kualitas. ASI pun berhasil dikeluarkan. Rasa sakit yang mendera langsung hilang. Hati terasa plong.

Ketika mengandung, saya bertekad akan menyusui anak saya. Setelah mendapat izin menghentikan konsumsi obat hipertensi,  saya memutuskan untuk menyusui anak saya. Begitu saya tiba diizinkan pulang, saya langsung menyingkirkan botol dot dan susu formula anak saya. Saya mulai belajar menyusui anak saya. 

Merasa belum terampil, saya memutuskan untuk menemui orang-orang yang dapat membantu saya. Saya pergi ke balkesmas RS. Carolus di Salemba, bersama suami dan buah hati kami.

Saya sangat bersyukur karena saya membuat pilihan yang tepat. Di sana saya bertemu dengan orang-orang yang sangat mendukung niat saya. Saya diajari cara mengurut payudara yang akan membantu kelancaran produksi ASI. Saya juga dibekali informasi untuk mempersiapkan ASI Perah (ASIP) untuk persediaan kala saya kembali bekerja.

Tak hanya itu, kami pun diajari bagaimana memberi bayi kami ASIP dengan sendok atau gelas takar mini yang terbuat dari plastik. Cara tersebut penting dikenalkan kepada anak agar anak tidak perlu minum menggunakan botol. Dot botol cenderung membuat anak "manja". Lubang pada dot membuat anak tidak perlu bekerja keras saat menghisap ASIP. Hal tersebut berbanding terbalik dengan proses menyusu pada puting ibu. Tenaga yang dikeluarkan lebih besar. Jika terbiasa dengan kemudahan menyusu pada dot, anak akan malas menyusu langsung pada ibu. Akibatnya, payudara kurang terstimulasi untuk memproduksi ASI dan jumlah ASI jadi menurun. 

Para konselor juga menghimbau agar suami mendukung istri saat menyusui. Misalnya, dengan ikut bangun saat istri menyusui, kemudian memijat punggung sang istri. Jadi, sebutan suami siaga tidak hanya berlaku ketika istri mengandung, namun juga paskakelahiran sang buah hati.

"Alah bisa karena biasa." Kita pasti sudah sering mendengar peribahasa ini. Seperti kegiatan lain, untuk terampil menyusui, para ibu harus tekun berlatih. Tanpa ketekunan, niat baik untuk memberikan asupan ASI eksklusif akan sulit terwujud. Bayangkan, di kala rasa kantuk mendera hebat, kita diharuskan bangun untuk menyusui bayi kita. Belum lagi, jika kita tidak terbiasa menyusui dengan posisi berbaring. Punggung dan lengan terasa pegal. Waktu tidur terganggu. Tugas menyusui langsung tidak bisa kita wakilkan kepada suami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar