Senin, 19 Maret 2012

Perempuan dalam Film-Film Princess Disney

Image: http://preschoolers.about.com
Dulu, saya sangat senang nonton film "Sleeping Beauty" buatan Disney. Tapi, bukan kisah atau sosok putri Aurora-nya yang saya suka. Saya kagum pada kelucuan binatang-binatang yang Aurora temui di hutan. Saya terpukau melihat ketiga peri penjaga Aurora, yaitu peri Merry Weather, Flora dan Fauna memainkan tongkat sihirnya saat mereka menyiapkan hadiah ulang tahun kejutan untuk Aurora, yaitu kue ulang tahun dan gaun nan indah. Lagi-lagi saya tersihir saat peri Flora dan Fauna bertengkar memutuskan warna gaun yang dipakai Aurora saat berdansa dengan Phillip. Gaun Aurora berganti-ganti warna. Biru, merah jambu, biru, merah jambu lagi.

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk mengoleksi film-film Disney. Namun, entah karena kesibukan kuliah dan bekerja, impian itu tidak terwujud. Barulah setelah saya punya anak, impian itu mulai saya wujudkan. Alhasil, sekarang saya punya film "Snow White" (produksi 1937), "Cinderella" (produksi 1950),  "Sleeping Beauty" (produksi 1959), "Little Mermaid" (produksi 1989), "Beauty & The Beast" (produksi 1991), "Pocahontas" (produksi 1995), "Mulan" (produksi 1998), "The Princess & The Frog" (produksi 2009), dan "Tangled" (produksi 2010).

Menonton film-film Princess jadi salah satu kegiatan favorit saya dan anak saya. Film-film itu kami tonton tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Lama-lama saya jadi membandingkan film-film itu, termasuk penokohannya. Ternyata semua tokoh utama film-film tersebut adalah perempuan.

Tokoh Snow White ("Snow White") dan Aurora ("Sleeping Beauty") sama-sama digambarkan sebagai gadis cantik yang pandai menyanyi dan bersahabat dengan hewan-hewan kecil. Keduanya diperkenalkan sebagai dua gadis yang berbeda nasib. Aurora mengira dirinya seorang gadis biasa yang tinggal di hutan. Saat itu, dia belum tahu bahwa sebenarnya dia adalah anak raja yang diasingkan demi keselamatan jiwanya. Sedangkan Snow White harus mengerjakan berbagai tugas rumah tangga atas perintah Ratu, sang ibu tiri.

Auroa dan Snow White sama-sama mengutarakan impian mereka dalam bentuk nyanyian. Kelak, mereka akan bertemu seorang pria yang akan mencintai mereka. Ajaib, nyanyian mereka berdua didengar oleh pangeran yang kebetulan lewat.

Dalam film "Snow White", sang pangeran tidak hanya membebaskan Snow White dari tidur panjang, tetapi juga membebaskannya dari penderitaan fisik dan psikis. Sedangkan, dalam film "Sleeping Beauty", Aurora dibebaskan dari tidur panjangnya setelah dia dicium oleh sang pangeran yang sebelumnya harus mengerahkan tenaga melawan Maleficent dalam wujud naga raksasa yang ganas.

Dalam film "Cinderella", sang tokoh utama nyaris memiliki nasib yang sama dengan Snow White. Namun, dibandingkan dengan Snow White, semangatnya untuk memperbaiki nasib jauh lebih tinggi. Dia tahu, salah satu cara untuk terbebas dari cengkraman ibu dan kedua saudara tirinya adalah dengan menghadiri pesta dansa kerajaan. Siapa tahu, aku terpilih jadi pasangan hidup pangeran, pikirnya. Maka, dia berusaha membuat baju yang indah agar pantas dipandang mata.

Optimisme Cinderella langsung timbul ketika tahu petugas kerajaan mendatangi rumah-rumah penduduk di seluruh wilayah kerajaan.  Gadis-gadis diberi kesempatan untuk mencoba sepatu kaca putri idaman sang pangeran yang tertinggal di istana. Dengan bantuan teman-temannya, tikus-tikus kecil, perjuangan Cinderella berbuah hasil. Ia bisa mencoba sepatu tersebut dan sepatu itu pas di kakinya. Sang pangeran pun menikah dengannya.

Ariel dalam "Little Mermaid" juga bukan perempuan yang pasrah pada nasib. Ariel, sang putri duyung, anak bungsu Raja Triton, energik dan penggembira. Hobinya adalah mengumpulkan barang-barang milik manusia dari kapal-kapal yang karam. Tidak seperti kakak-kakak dan duyung-duyung lainnya, dia berani melanggar titah sang raja: tidak ada yang boleh pergi ke permukaan laut agar terhindar dari manusia.

Ariel memiliki impian menjadi manusia. Dia bosan dengan kehidupan di dalam air. "Pertemuannya" dengan seorang pangeran bernama Eric, membuatnya semakin ingin menjadi manusia. Dia bahkan rela menjual suaranya kepada Ursula, penyihir laut agar bisa berubah menjadi manusia.
 
Belle dalam "Beauty & The Beast", Mulan dalam "Mulan" dan Pocahontas dalam "Pocahontas" adalah perempuan-perempuan tangguh. Kepentingan pribadi bukan prioritas mereka. Belle rela bertukar tempat dengan ayahnya menjadi tahanan Beast. Mulan maju ke medan perang, menggantikan ayahnya karena dia tidak tega membayangkan ayahnya yang cacat karena perang, harus berhadapan dengan musuh sementara untuk berjalan saja, susah. Pocahontas berani melawan orang-orang Inggris yang hendak menginvasi tanah leluhurnya.

Tiana dalam "Princess & The Frog" dan Rapunzel dalam "Tangled" tidak senaif Snow White dan Aurora. Mereka memiliki impian pribadi, namun tidak berpangku tangan, menunggu nasib baik mendatangi mereka. Sebaliknya, mereka berjuang keras.

Tiana ingin memiliki restoran. Untuk itu dia bekerja dari pagi sampai malam supaya penghasilannya bisa ditabung. Sedangkan Rapunzel, dia memanfaatkan Flynn Rider, penipu dan pencuri yang nyasar bersembunyi di menara kediamannya. Dia memaksa Flynn Rider membawanya keluar dan mengantarnya ke tempat "bintang-bintang" yang selalu bersinar pada hari ulang tahunnya.

Berbeda dari Snow White dan Aurora, Tiana dan Rapunzel justru jadi pahlawan bagi pria dalam hidup mereka. Tianalah yang mengajarkan kepada Naveen, sang pangeran (masih dalam wujud kodok), cara menjalani hidup, yaitu dengan bekerja keras. Dan setelah berciuman dengan Tiana pula, keduanya dapat terbebas dari kutukan menjadi kodok. Demikian pula dengan Rapunzel. Dia yang menyadarkan Flynn Rider untuk tidak lagi menjadi pencuri. Dia pula yang menyelamatkan jiwa Flynn Rider dengan air matanya yang ternyata masih memiliki kekuatan menyembuhkan seperti rambutnya.

Saya gembira dan lega karena semakin hari, cerita-cerita Princess Disney semakin tidak bias gender. Saya termasuk perempuan yang berpandangan bahwa semua manusia, baik itu perempuan maupun laki-laki, dikaruniai Tuhan otak yang mampu berpikir. Manusia diberi kecerdasan. Jadi, perempuan bisa mencapai impiannya tanpa harus selalu bergantung pada laki-laki. Tinggal mau atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar