Kamis, 16 Februari 2012

Penulisan Novel Perdana

Pertengahan tahun lalu, aku ikut workshop Penulisan Novel Anak. Tempatnya di Museum Mandiri, Kota. Trainernya Mas Benny Rhamdani, penulis yang jam terbangnya sudah sangat tinggi. Workshop berlangsung dua kali pertemuan, Minggu 12 dan 19 Juni 2011.

Pertemuan pertama diisi dengan pengenalan dunia penulisan untuk anak. Para peserta diminta untuk mengenali  anak zaman sekarang. Hobinya, gaya hidupnya, dll. Kemudian, peserta diminta membuat profil tokoh. Siapa namanya, hobinya, kelebihannya, kekurangannya. Dari situ, kemudian dikembangkan masalah apa yang hendak diangkat.  PR hari itu adalah membuat 1 bab dari masalah tersebut.

Seminggu kemudian, tiba saatnya membahas PR. Masing-masing peserta diminta untuk mempresentasikan PRnya. Saat itulah, Mas Benny menyampaikan apa-apa saja kekurangan dan kelebihan tulisan kami. Hari itu baru kami tahu, bahwa hasil workshop akan diterbitkan oleh Penerbit Dar!Mizan.

Begitulah awalnya. Pengalaman menulis novel anak jelas sesuatu yang baru untukku. Selama ini aku biasa menulis cerpen. Menulis novel anak, ibarat terjun bebas dari atas tebing yang tinggi. Mendebarkan. Bisa enggak aku membuatnya?

Di mana ada kemauan dan motivasi, di situ ada jalan, begitu kata orang-orang bijak. Yup, aku ingin jadi penulis buku anak. Dan Tuhan telah memberi aku jalan. 

Proses penulisan novel anak perdanaku tidak semulus yang aku harapkan. Aku mengalami beberapa kendala, seperti ketegangan yang tinggi mengejar deadline, yang kemudian mengakibatkan maagku kambuh parah. Meski dicoba untuk bertahan, akhirnya aku tepar. Tidak bisa tidak, aku terpaksa mematikan komputer dan berbaring di tempat tidur. Menunggu sembuh, meminta perpanjangan waktu.

Pun proses terbitnya. Di hari launching, bukuku yang termasuk dalam seri Junior Chef, belum bisa terbit. Pelajaran berharga buatku. Kesehatan sangat penting. Semoga ini selalu jadi pengingat di kala aku malas untuk berolah raga, mengatur pola makan dan mengonsumsi makanan sehat.

Akhirnya, penantian panjang itu berakhir juga. Tanggal 3 Februari, 15 eksemplar Ratu Milkshake pesananku dan 5 eksemplar bukti terbit tiba di rumahku. Gembira, haru, semua berbaur jadi satu. 

Pelajaran tambahan yang kudapat adalah rajin-rajinlah berkomunikasi dengan semua pihak yang terkait dengan buku karangan kita. Berkomunikasi yang bukan asal berkomunikasi. Komunikasi dua arah. Komunikasi yang disertai dengan rasa saling menghormati, menghargai, mendukung, dan ketulusan hati. Pada akhirnya, penerbitan buku adalah sebuah kerja tim antara penulis dan penerbit (editor, tim promosi, dan tim marketing). Buku tidak hanya bisa terbit, tetapi juga bisa dibeli dan dibaca banyak orang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar