Selasa, 31 Januari 2012

Review Film: Mulan, Sang Pejuang

Image: disney.wikia.com
Michelle lagi suka banget nonton film. Salah satunya adalah film Mulan. Film kartun produksi Disney tahun 1998 ini mengisahkan seorang gadis Cina bernama Mulan yang menyamar menjadi pria. Tujuannya agar bisa menggantikan sang ayah yang cacat untuk berperang melawan tentara Hun. Film ini berangkat dari masa pemerintahan dinasti Han (tahun 202 sebelum Masehi - 220 Masehi).

Film yang diinspirasi sebuah sajak Cina berjudul "Song of Fa Mu Lan" (en.wikipedia.org) ini menggambarkan konflik antara kondisi masyarakat Cina waktu itu dengan impian wanita mengangkat harkatnya yang ditampilkan dalam sosok Mulan. 

Saat itu, wanita merupakan warga kelas dua. Tugas wanita adalah  mengangkat kehormatan keluarga dengan cara menikah, melahirkan anak, dan mengurus keluarga. Itu sebabnya, Mulan (meskipun ayahnya membolehkannya belajar naik kuda dan menggunakan pedang) dan gadis-gadis sebayanya diharuskan pergi ke rumah jodoh untuk menjalani seleksi. Sebelum itu, mereka harus menjalani perawatan tubuh dan didandani secantik mungkin. 

Di rumah jodoh para kandidat menjalani serangkaian tes fisik. Salah satunya ukuran pinggang. Menurut mak comblang, wanita yang pinggangnya terlalu kecil, akan susah melahirkan anak laki-laki. 

Selain tes fisik, ada pula tes membaca hapalan daftar kewajiban perempuan dan menuangkan teh ke dalam cangkir untuk dipersembahkan untuk calon mertua. Mulan tidak bisa membanggakan hati orangtuanya, begitu pendapat mak comblang ketika kekacauan terjadi di dalam rumah jodoh gara-gara si jangkrik pembawa keberuntungan dari nenek Mulan.

Patron tipe wanita yang "baik" saat itu juga diperlihatkan dalam komentar ketiga prajurit teman Mulan, yaitu Yao, Ling dan Chien-Po. Wanita idaman mereka harus pandai masak dan cantik. Sedangkan pendapat Mulan mengenai wanita idamannya - waktu itu sedang menyamar jadi laki-laki bernama Ping, yaitu "Wanita yang bisa menyatakan pendapatnya," langsung mereka tolak mentah-mentah.

Impian wanita untuk mengangkat harkatnya dalam masyarakat bisa dilihat dalam adegan Mulan bersedih karena dianggap mempermalukan keluarga gara-gara kejadian di rumah jodoh. Saat ia bersedih, utusan kerajaan datang dan mengumumkan bahwa setiap keluarga harus mengirimkan satu anggota laki-laki untuk dilatih bertempur melawan tentara Huns. Itu berarti, ayah Mulan harus pergi. Mulan tidak setuju mengingat ayahnya sudah pernah ikut berperang demi kerajaan, yang membuat sang ayah sulit berjalan. Marah dan kesal, diam-diam Mulan memutuskan untuk melarikan diri dari rumah dan menyamar menjadi laki-laki, mengantikan sang ayah.

Mulan berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan hal-hal yang dianggap urusan pria. Melalui latihan yang keras, ia berhasil menjadi prajurit yang tangguh dan bisa diandalkan. Berkat kerja sama Mulan dengan sahabatnya, Mushu, ia berhasil menyelamatkan Shang, anak jenderal kerajaan, dari pedang tentara Hun.

Sikap pantang mundur Mulan kembali ditunjukkan saat ia pergi ke alun-alun setelah penyamarannya terbongkar. Di sana ia memperingatkan orang-orang agar waspada terhadap tentara Huns yang masih hidup. "Tentara Huns akan menyeludup ke sini." Namun, tak seorang pun menggubris peringatannya.

"Kamu kan perempuan. Mana ada yang mau dengar kamu ngomong," Mushu, naga kecil yang ditugaskan para leluhur Mulan menjadi pelindung sang gadis pemberani itu, memberi alasan.

Lagi-lagi Mulan pantang menyerah. Berkat kegigihannya ditambah kerja sama dengan teman-teman lamanya, Kaisar bisa diselamatkan dan musuh bisa ditaklukkan. Hasil yang ia dapat, kaisar dan seluruh rakyat Cina bersimpuh di hadapannya memberi hormat!!! Mereka mengaku bahwa meski Mulan perempuan, ia patut mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Mulan bahkan mendapat pedang Shan-Yu dan kalung kaisar untuk dibawa pulang, sebagai bukti bahwa ia sudah mengangkat kehormatan keluarganya. Bukan karena ia memenuhi kriteria wanita ideal ala mak comblang, melainkan karena ia mampu membuktikan bahwa ia bisa menggapai impiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar